-->

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Kolom Gus Shiva: Memilih Menjadi Orang Yang Baik

Monday, 6 July 2020 | 10:34 WIB Last Updated 2020-07-06T03:34:43Z

JOURNAL NEWS //- Sebelumnya, mari kita sepakati terlebih dahulu, bahwa menjadi manusia yang baik tentu merupakan salah satu tujuan hidup kita sebagai umat manusia. Nah, kata ‘baik’ disini menurut KBBI berarti tidak jahat, terhormat (tentang kelakuan, budi pekerti, keturunan dan sebagainya). Dan ‘baik’ juga dapat diartikan: tidak melakukan hal-hal yang merugikan siapapun.

Dalam Islam sendiri kategori insan baik salah satunya adalah orang yang bertakwa, dimana orang tersebut diperintahkan untuk menjalankan perintah Allah serta menjauhi segala larangan-Nya. Hal ini juga dikuatkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 21 yang artinya: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”. Namun, tidak bisa kita pungkiri, bahwa di dalam praktiknya terkadang untuk menjauhi segala apa yang dilarang belum sepenuhnya dapat terealisasi.

Belajar Dari Padi
Kita sering mendengar pepatah mengatakan, bahwa “padi semakin berisi semakin merunduk” bukan? Seseorang yang semakin berilmu, kaya akan pengalaman, bukankah tidak elok apabila memperlihatkan ilmunya dan merasa hebat. Namun, dalam hal ini bukan berarti kita harus menutup rapat seluruh ilmu yang dipunyai karena tidak ingin dianggap sombong oleh orang lain, hanya saja kita harus bijaksana dalam menyampaikan ilmu/pengetahuan yang kita miliki kepada orang lain agar tidak menimbulkan kesombongan dan perasaan bahwa ‘saya hebat’ pada diri sendiri sebab memiliki ilmu/pengetahuan tersebut.

Lalu, padi juga merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, di Indonesia khususnya. Setelah padi dipanen kemudian digiling hingga menjadi beras. Dan kemudian beras tersebut dimasak untuk kemudian berubah menjadi nasi. Itu berarti (kalau boleh penulis berspekulasi tentang maknanya), bahwa kita merupakan generasi yang akan menciptakan kehidupan yang terus berkesinambungan. Sebagaimana manusia (kalau mau), juga bisa berpikir kritis tentang gagasan ‘padi’ yang merupakan salah satu sumber bagi kehidupan.

Nah, hal yang demikian ini, dapat kita praktikkan secara sederhana, melalui hal-hal yang mampu kita lakukan. Misalnya, apabila kita adalah seorang guru, marilah kita didik murid sebaik mungkin. Apabila kita seorang murid, marilah kita bersungguh-sungguh dalam belajar dan menuntut ilmu serta hendaknya bersikap rendah hati pun tawaduk terhadap guru dan siapapun. Apabila kita adalah seorang penulis, maka marilah menulis yang dapat membawa manfaat untuk siapapun yang membaca tulisan kita.

Setelah menjadi seseorang yang sudah berbuat baik kepada sesama. Tentu bukan hal yang tidak mungkin bila masih ada saja (sesama) yang tidak menyukai kita. Dan hal tersebut wajar saja. Bahkan (kalau penulis boleh mengutip) Gus Dur sendiri dalam kalimat bijaknya pernah berkata “sebenar apapun tingkahmu, sebaik apapun perilaku hidupmu, kebencian dari manusia itu pasti ada. Jadi jangan ambil pusing”.

Belajar Dari Pohon
Pun makhluk ciptaan Allah seperti pohon juga dapat memberikan gambaran bagaimana seharusnya seorang berilmu yang baik dalam menjalani kehidupan. Sederhana namun bermakna. Sebuah pohon yang tumbuh subur menjulang ke atas tentu tangkainya kuat nan besar, daunnya lebat nan rindang. Semakin tumbuh ke atas pohon tersebut, maka semakin kencang pula angin yang akan menerpanya. Dan pepohonan yang kuat dapat bertahan dengan akarnya.

Kehidupan manusia juga demikian. Semakin tinggi tingkat kebaikan seseorang, maka akan semakin tinggi pula ujiannya. Kendati demikian, Allah tidak akan memberi ujian melebihi kekuatan seorang hamba.

Pohon yang rindang akan menjadi tempat berteduh sebagian makhluk disaat hujan lebat, dan menjadi rumah sebagian makhluk Allah, seperti burung misalnya. Dan bukankah begitu indahnya manusia, dengan segala akhlakul karimahnya. Rindang seperti pohon nan tawaduk bagai padi.

Akhirnya, mari kita bersama-sama berbenah diri. Dan semoga kita selalu berada di Jalan yang semoga Jalan-Nya. Aamiin.
Wallahu alam bisshowab.
Semoga bermanfaat.

Oleh Achmad Shiva’ul Haq Asjach: Pengasuh Majelis Thibbi al-Qulub, Desa Sidorejo 04/02 Kecamatan Pamotan Kabupaten Rembang. Penggagas Suluk Ndalanan.


Red
×
Berita Terbaru Update