-->

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Miris SPBU 24.341.70 Melayani Pengecoran Menggunakan Jeriken

Wednesday, 9 September 2020 | 23:59 WIB Last Updated 2020-09-10T00:19:02Z

Tulang Bawang//JN: Praktek penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dalam skala besar (pengecoran) masih saja terjadi. Kali ini dilakukan oleh SPBU yang terletak di Jalan Lintas Timur Kibang Kecamatan Menggala Kabupaten Tulang Bawang. Dari pantauan awak media, SPBU 24.341.70 menjual BBM besubsidi kepada pembeli dengan sistem cor dengan menggunakan Jeriken 35 Liter pada pukul 20.45 wib,Rabu (09/09/2020).

Gambar: Illustrasi Jeriken dalam praktek "Pengecoran"

Diketahui, Baik pengendara mobil maupun yang melintas dan akan mengisi BBM di SPBU ini untuk keperluan sendiri selalu dibatasi. Untuk kendaraan roda empat dibatasi sebesar Rp. 150.000,- dan untuk kendaraan roda dua dibatasi sebesar Rp. 75.000,- per pengendara. Sementara bagi para pengecor bebas membeli menggunakan jeriken.

Akibat dari praktek pengecoran ini, salah seorang masyarakat Menggala yang meminta namanya tidak disebutkan mengatakan bahwa praktek pengecoran di SPBU Kibang Sudah sangat meresahkan dan merugikan konsumen karena banyak masyarakat tidak kebagian BBM bersubsidi. Sebab SPBU ini lebih mengutamakan pengecoran baik yang menggunakan motor dan mobil yang dilangsir, bahkan ada yang menggunakan jeriken. Untuk itu Masyarakat sangat berharap kepada aparat penegak hukum, khususnya Bapak Kapolda Lampung agar segera menindak para pelaku pengecoran BBM yang semakin merajalela.
"Praktek pengecoran di SPBU Kibang Sudah sangat meresahkan dan merugikan konsumen karena banyak masyarakat tidak kebagian BBM bersubsidi." tuturnya dengan nada kesal dan menyayangkan.

Gambar: Subsidi untuk rakyat bukan untuk konglomerat

Kegiatan Pengecoran tersebut terindikasi melanggar seperti yang diatur dalam UU nomor 22 tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi pasal 55 yang berbunyi "Setiap orang yang menyalahgunakan Pengangkutan dan/atau niaga Bahan Bakar Minyak yang disubsidi Pemerintah dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling tinggi Rp. 60.000.000.000,- (enam puluh miliar rupiah)." demikian regulasi di negara ini menetapkan. (Alex/Riko/Tim)


×
Berita Terbaru Update