Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Dilema Jembatan Gantung Kedunghalang-Kedungwaru Terbaik Tapi Belum Sempurna

Thursday, 15 October 2020 | 09:00 WIB Last Updated 2020-10-15T02:01:39Z

Gambar: Kang eman menunjukan lilitan kawat untuk menguatkan jaring besi yang seharusnya di las.

Dilema Jembatan Gantung Kedunghalang-Kedungwaru Terbaik tapi belum Disempurnakan

 

Tasikmalaya//JN: Sejak pertama berdiri bulan (01/20) jembatan yang menghubungkan Kampung Kedunghalang Kec Sukaraja Kabupaten Tasikmalaya dan Kampung Kedungwaru (sekarang Kampung Rahayu) Kec Kawalu Kota Tasikmalaya menjadi jembatan  gantung tebagus diantara jembatan gantung penghubung antara kota dan kabupaten Tasikmalaya tersebut.  Kang Eman (66 th) sebagai sesepuh Kedunghalang menyebutkan dengan percaya diri jembatan gantung tersebut merupakan yang terbaik sebagai penghubung selain jembatan gantung kampung walet dan jembatan gantung Tambakbaya (14/10).

Jembatan gantung menjadi solusi alternatif transportasi perbatasan kabupaten dan kota Tasikmalaya yang dilewati sungai Ciwulan. Kang eman menyebutkan jembatan ini sebagai pengganti “rakit eretan” untuk menghubungkan transportasi antar kampung. Eretan adalah rakit yang di eret oleh seorang operator yang menarik kawat dengan patokan antar tiang yang menghubungkan di kedua titik. ”Tapi kalau sungai Ciwulan meluap, eretan tidak bisa dipergunanakan, takut terbawa hanyut” ungkap Eman menjelaskan.

“Jembatan gantung tersebut menggunakan alokasi dana hibah dari pusat, yang di alokasikan sejak 2018 tapi bisa terealisasi di awal tahun 2020” kang Eman menjelaskan. “hampir saja ini seperti proyek yang mangkrak, namun kami berusaha menekan beberapa instansi di pusat untuk segera menyelesaikannya”.




Kang eman juga mengungkapkan bahwa jembatan gantung tersebut belum sempurna dalam penyelesaian akhir. kang eman melanjutkan “ini lilitan kawat seharusnya di las, kami minta ijin ke PU, kemudian kami lilit saja dan dilipat supaya tidak lepas dan tidak melukai pengguna jembatan. Tadinya jembatan ini berisik, kami kasih pasak kayu supaya jembatan tidak bersuara” lanjutnya.

Pengalaman kang eman sebagai pensiunan teknisi PLN, menjadi bekal ia untuk memelihara jembatan gantung tersebut supaya lebih layak dan nyaman ketika digunakan. kang Eman menjelasakan ada saja baut yang copot tiap bulannya, setelah melapor ke dinas PU langsung cari pengganti baut dengan menggunanakan uang sumbangan warga.

Kang eman menjelaskan jembatan gantung tersebut rata-rata yang dilewati sekitar 150 motor tiap harinya, namun hanya sebagian pengguna saja yang memberikan sumbangan yang dimasukan ke dalam jaring ikan. “tidak ada tarip, tidak ada paksaan kepada pengguna yang lewat” kang Eman menegaskan. “Sebagian dana tersebut digunakan untuk kegiatan DKM masjid, perbaikan sarana, hanya 20 % untuk pengelola” ungkap kang Eman.

Di lain sisi jembatan gantung, Iwan Iswana sebagai tokoh pemuda Kedungwaru menjelaskan sebagian pemeliharaan jalan dan serta pembuatan semen cor jalan menuju jembatan menggunakan dana yang terkumpul dari sumbangan. Ia juga berharap hadirnya jembatan gantung dapat mendorong terkenalnya kampung Kedungwaru, yang sekarang mengganti nama menjadi Kampung Rahayu. Selain itu lahirnya desntinasi wisata baru seperti Jontor Kebunwaru menjadi penggenjot kemakmuran ekonomi warga. (Andris Khas)

×
Berita Terbaru Update