-->

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

TRAGEDI MENTENG RAYA 58 POLISI DAN JALAN TERJAL REFORMASI

Thursday, 15 October 2020 | 07:16 WIB Last Updated 2020-10-22T08:38:23Z


TRAGEDI MENTENG RAYA 58 POLISI DAN JALAN TERJAL REFORMASI


Oleh: Robbi Yustiadi A.Md, S.IP


OPINI//JN: Polisi merupakan garda terdepan dalam memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan masyarakat, setidaknya itu adalah tugas pokok Polri dalam menghalau ancaman dari dalam negeri yang dianggap mengganggu keamanan dan stabilitas negara.



Bagaimana dengan demonstrasi?. Sebagai aparat keamanan dalam sebuah negara yang menganut sistem Demokrasi Pancasila maka aparat kepolisian berkewajiban mengawal berlangsungnya unjuk rasa agar berjalan tertib, aman dan damai. Sehingga nafas demokrasi tetap sehat dan penyampaian pendapat di muka umum dapat tersampaikan dengan baik.  


Pada akhir tahun 2019 terjadi demonstrasi besar-besaran mengenai pengesahan RUU yang berujung kericuhan, pada saat itu kelompok anarko dituding sebagai penyebab demonstrasi menjadi ricuh dan menimbulkan korban, begitu pula dengan minggu ini aksi penolakan terhadap omnibus law UU Cipta Kerja dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat, seperti buruh dan mahasiswa yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, sejak Selasa (6/10/2020) hingga Selasa (13/10/2020) yang berujung ricuh juga, kelompok anarko kembali dituding sebagai penyebab terjadinya kericuhan.




Dua kali dalam jangka waktu setahun terjadi kericuhan dalam aksi demonstrasi yang disebut-sebut anarko sebagai penyebabnya, bahkan tahun lalu dalam sebuah unggahan vidio disebutkan bahwa Polri berhasil menangkap Ketua Anarko, hal ini tentu menimbulkan pertanyaan kenapa Anarko masih bisa bebas bergerak sedangkan ketuanya dulu sudah ditangkap?


Terlebih dalam aksi unjuk rasa yang terjadi tahun lalu dan sekarang yang menjadi korbanpun tetap sama yaitu dari kelompok mahasiswa dan organisasi kepemudaan atau komunitas, seperti yang terjadi pada hari selasa malam (13/10) pukul 20.00 WIB. Aparat kepolisian membubarkan demonstrasi yang terjadi di Menteng sampai melakukan pengejaran dan pengrusakan kantor Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PP GPII) di Jalan Menteng Raya No.58 Jakarta Pusat. Kader-kader GPII yang sedang berkantor untuk mempersiapkan program kerja harianpun tidak luput dari tindakan refresif aparat kepolisian dari mulai gas air mata hingga pendobrakan kantor. Untuk diketahui bahwa kantor PP GPII memilik lahan yang cukup luas dan berada di dekat Tugu Tani, sehingga apabila ada aksi biasanya ada demonstran yang singgah melepas lelah ataupun untuk melaksanakan sholat.


Atas tragedi demokrasi di era reformasi ini beberapa kader Islam terbaik menteng raya 58 (PII/ GPII) yang sedang berkantor ditangkap dengan cara-cara yang melukai spirit demokrasi, termasuk komandan Wilayah Brigade GPII Jakarta Raya akhi Dody Abdallah beserta jajarannya dan hanya menyisakan ruang kantor yang kotor dengan ceceran darah. Para aktivis Pemuda Islam Indonesia ini tidak seharusnya diperlakukan seperti itu bahkan seharusnya segera dibebaskan, karena mereka merupakan kader-kader terbaik yang akan menjadi pemimpin di masa mendatang


Sudah waktunya semangat reformasi dikibarkan kembali, Polri harus melakukan evaluasi dan terus berbenah diri dalam setiap operasinya,  jangan sampai kejadian ini menjadi noktah merah dalam sejarah demokrasi di tubuh Polri.


Bukankah negara kita menganut asas hukum praduga tidak bersalah seperti yang dicantumkan dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum


Pasal 7 menyatakan dengan tegas bahwa, “Dalam pelaksanaan penyampaian pendapat di muka umum oleh warga negara, maka Aparatur Pernerintah berkewajiban dan bertanggung jawab untuk : melindungi hak asasi manusia, menghargai asas legalitas, menghargai prinsjp praduga tidak bersalah,  dan menyelenggarakan pengamanan.”, sudah sangat jelas, terkait dengan regulasi yang akan memproteksi seluruh warga negara di Republik ini ketika menyampaikan ide, gagasan, bahkan kritikannya terhadap pemerintah. (Rimba/ AY)

×
Berita Terbaru Update