-->

Notification

×

Garis Ketertinggalan IPM Kabupaten Cianjur

Tuesday, 16 March 2021 | 19:12 WIB Last Updated 2021-03-16T12:20:35Z

Ditulis Oleh: Muhamad Fariz Salman
(Founder Penggerak Pendidikan).

Bonus demografi merupakan suatu keadaan dimana penduduk yang masuk kedalam usia produktif jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan penduduk usia tidak produktif. Usia produktif yang dimaksud berkisar antara umur 15-64 tahun. Disetiap daerahnya pasti dan akan mengalami yang disebut bonus demografi, terutama Kabupaten Cianjur.

Cianjur merupakan suatu daerah dengan populasi penduduknya mencapai +/- 2,3 Juta jiwa yang memiliki angka produktif 55,68% menurut data statistik kesejahteraan Cianjur dari keseluruhan penduduk Kabupaten Cianjur. Artinya usia produktif masyarakat Cianjur itu lebih banyak daripada usia tidak produktif. Melihat hal tersebut pemerintah harus bisa memanfaatkan peluang ini karena bonus demografi sangat mempengaruhi seluruh aspek kemajuan kedaerahan pun sebaliknya dapat menjadi pemicu kemunduran daerah jikalau pemerintah tidak mampu memanfaatkan bonus demografi tersebut.

Tapi melihat kondisi lapangan yang terjadi di Cianjur, Hemat saya, Pemerintah Kabupaten Cianjur belum bisa memanfaatkan bonus demografi ini karena melihat kualitas indeks pembangunan manusianya (IPM) yang berada pada garis ketertinggalan khususnya di Jawa Barat. Padahal secara letak geografis yang tertera dalam LKJP pemerintahan kabupaten Cianjur 2018 itu berjarak 65 km dengan ibukota provinsi Jawa Barat (Bandung) dan 120 km dengan ibukota negara (Jakarta). Seharusnya ini adalah salahsatu modal bagi kabupaten Cianjur untuk lebih bisa mengungguli kota kota yang lain karena begitu dekatnya dengan ibukota provinsi maupun negara terutama dalam masalah IPM tersebut. Karena IPM berbicara tentang bagaimana kesejahteraan masyarakat.

Untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia salahsatunya bisa kita tingkatkan terlebih dahulu dalam aspek pendidikannya. Karena pendidikan adalah tonggak kemajuan suatu bangsa. Kita kutip kata Nelson Mandela bahwasanya “Pendidikan adalah senjata yang paling tajam untuk mengubah dunia”. Jangankan Cianjur dunia pun bisa diubah oleh pendidikan.

Posisi pendidikan Cianjur itu sangat menghawatirkan, dikarenakan masih banyak yang terjadi angka putus sekolah. Menurut Asep Saepurrohman selaku sekretaris dinas pendidikan Cianjur bahwasanya anak yang putus sekolah ditahun 2020 mencapai 7.751 dari muali SD, SMP, SMA dan SMK Kenapa bisa terjadi kejadian seperti ini? Bagaimanakah pengelolaan pendidikan di Cianjur? seriuskah Pemerintah Kabupaten Cianjur untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Cianjur?, padahal ditahun 2018 APBD kabupaten Cianjur mencapai 4 triliun lebih bisa jadi meningkat setiap tahunnya dan 20%nya itu wajib dialokasikan untuk keberlangsungan pendidikan.

Jadi 800 milyar itu khusus untuk keberlangsungan pendidikan di Kabupaten Cianjur. Jadi Harus ada kocoran dana berapakah ketika Cianjur itu bisa maju dalam ranah pendidikannya. Toh 800 milyar pun masih banyak angka putus sekolah. Tapi sebesar apapun dana alokasi untuk pendidikan tidak akan mencapai maqom kesuksesan dalam meningkatkan kualitas pendidikan jikalau tidak ada keseriusan pemerintah dalam meningkatkannya.(*)


Profil singkat penulis:

Muhamad Fariz Salman merupakan aktivis muda asal Kabupaten Cianjur yang berfokus pada pendidikan. Selain menjadi Founder Penggerak Pendidikan, Ia juga pernah aktif diberbagai organisasi kemahasiswaan diantaranya:
*Himpunan Mahasiswa Tjianjur (HIMAT),
*Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kab. Bandung,
*Ketua Umum Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultastas Tarbiyah & Keguruan UIN Bandung ,
*dan pernah menjabat sebagai Wakil Ketua umum DPP Ikatan Mahasiswa Keguruan & Ilmu Pendidikan Seluruh Indonesia (IMAKIPSI)

No comments:

Post a comment

Halaman Facebook

×
Berita Terbaru Update