-->

Notification

×

Dua Metode untuk Menentukan Awal Ramadhan, Hisab dan Rukyat

Tuesday, 13 April 2021 | 02:31 WIB Last Updated 2021-04-12T19:42:22Z

 



Dua Metode untuk Menentukan Awal Ramadhan, Hisab dan Rukyat


JAKARTA, journalnews.com – Tahun 2021 ini, Pemerintah menentukan awal puasa Ramadhan melalui keputusan sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama, sebagaimana dilansir dari media online KOMPAS.com.  Sidang isbat dijadwalkan digelar pada hari ini, Senin (12/4/2021), mulai pukul 16.45 WIB. Sesuai fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 2 Tahun 2004, penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah adalah dengan mekanisme sidang isbat. 


Sejak 1972, Kemenag telah membentuk Badan Hisab Rukyat (BHR) yang bertugas melakukan hisab dan rukyatul hilal untuk menetapkan awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah. Baca juga: Kapan Mulai Puasa 2021? Ikuti Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadhan Mulai Sore Nanti. Dalam sidang isbat, hasil kajian BHR menjadi pertimbangan dalam penetapan tanggal awal dan akhir pada bulan-bulan tersebut. Penentuan awal bulan pada kalender Hijriah ditetapkan berdasarkan penampakan hilal atau bulan sabit muda. Untuk mengetahui penampakan hilal, ada dua metode yang digunakan yaitu metode hisab dan metode rukyat.


Kasubdit Hisab dan Rukyat Bimas Islam Kemenag, Ismail Fahmi, menjelaskan perbedaan kedua metode ini. Hisab dan rukyat untuk melihat hilal Hisab merupakan metode menghitung posisi benda langit, khususnya matahari dan bulan.  Sementara, rukyat adalah observasi benda-benda langit untuk memverifikasi hasil hisab. Ismail mengatakan, kedua metode tersebut saling menguatkan.


"Bahkan seperti dua sisi mata uang," kata Ismail. Melalui sidang isbat, Menteri Agama bersama perwakilan ormas Islam, pakar falak/astronomi serta instansi terkait akan mengambil keputusan. Keputusan diambil berdasarkan data hisab dan pelaksanaan rukyatul hilal di seluruh Indonesia. Dari pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, metode hisab dan rukyat pernah beberapa kali menghasilkan hasil berbeda dalam penentuan tanggal awal dan akhir Ramadhan.


Kemenag berharap agar hasil hisab maupun rukyat tidak berbeda. "Jika berbeda diharapkan bisa saling menghormati dan menghargai," kata Ismail. Untuk tahun ini, Kemenag menurunkan sejumlah pemantau hilal di 86 lokasi dari 34 provinsi di Indonesia. (Rimba)

No comments:

Post a comment

Halaman Facebook

×
Berita Terbaru Update