-->

Notification

×

Krisis Iklim dan Kenaikan Permukaan Laut Ancam Jakarta dan Dunia

Friday, 25 June 2021 | 19:51 WIB Last Updated 2021-06-25T13:42:09Z
Gambar: Banjir Jakarta,
Sumber: Greenpeace Indonesia

Jakarta, journalnews.co.id - Sulit untuk bertele-tele, faktanya permukaan laut terus meningkat akibat Krisis Iklim. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2019 menyebutkan kenaikan global sebesar 3,6mm per tahun selama periode 2006-2015 dan diprediksi akan mencapai lebih dari 80cm antara 2009 hingga 2100.

Namun, komitmen iklim yang ada sekarang dari berbagai pihak tidak cukup kuat untuk menahan laju risiko banjir pesisir akibat kenaikan permukaan laut itu.

Dalam laporan terbaru Greenpeace Asia Timur, The Projected Economic Impact of Extreme Sea-Level Rise in Seven Asian Cities in 2030, mengungkap kenaikan permukaan laut yang ekstrem dan banjir pesisir di tujuh kota besar di Asia pada 2030 berpotensi memberikan dampak pada produk domestik bruto (PDB) senilai 724 miliar dollar Amerika.

Ketujuh kota yang dianalisis dalam laporan ini merupakan kota besar di Asia yang menjadi pusat ekonomi dan berada di atau dekat dengan pesisir. Ketujuh negara tersebut adalah Hong Kong, Taipei, Seoul, Tokyo, Jakarta, Manila dan Bangkok.

Selain itu dikatakan dalam laporannya "Lebih dari 96% wilayah Bangkok dapat terendam banjir bila siklus banjir 10 tahunan terjadi pada tahun 2030, termasuk kawasan pemukiman dan komersial dengan kepadatan tinggi di pusat kota"

Juga dijelaskan, daerah dataran rendah di timur Tokyo termasuk Koto 5 wards (Sumida, Koto, Adachi, Katsushika dan Edogawa), sangat rentan terhadap baiknya permukaan laut. PDB senilai US$ 68 miliar terancam oleh banjir pesisir di Tokyo pada tahun 2030, atau 7% dari PDB Tokyo.

Tidak hanya itu, Jakarta juga menghadapi ancaman ganda dari kenaikan permukaan laut dan tenggelam.Hampir 17% dari total ruas daratan Jakarta dibawah tingkat dimana air laut dapat naik jika banjir 10 tahunan terjadi pada 2030, yang membawa potensi risiko terhadap PDB sebesar US$ 68 miliar.

Selain temuan di atas, apa potensi risiko lain bagi Jakarta?

Kenaikan permukaan laut dan banjir pesisir tahun 2030 berpotensi memberikan dampak pada 68,20 miliar dollar dari PDB dan hingga 1,8 juta orang warga Jakarta.

Bagian utara Jakarta paling berisiko terkena banjir akibat kenaikan muka air laut. Hal ini sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir dan bisa menjadi lebih parah di tahun-tahun mendatang.

Tapi, kalau ketika membaca ini kamu merasa hanya daerah utara yang terdampak, temuan kami berkata lain. Selain bangunan tinggal dan komersial yang berada di pesisir pantai, banjir akibat naiknya permukaan laut ini berpotensi menggenangi Monumen Nasional dan Balai Kota Jakarta.

Bagaimana kita bisa mengurangi dampak ancaman ini?

Kenaikan permukaan laut akan terus terjadi jika kondisi bumi masih memanas. Kami mendesak pemerintah segera menghentikan penggunaan dan pendanaan industri bahan bakar fosil, yang terbukti meningkatkan panas bumi dan juga salah satu penyebab polusi udara di Jakarta.

Pernyataan pemerintah tentang dikuranginya pendanaan PLTU batu bara dalam sisa proyek 35 ribu megawatt nyatanya hanya permainan kata-kata. Jumlah PLTU yang belum mendapatkan kontrak hanya 4.4% -- jumlah sangat kecil apalagi dibandingkan dengan risiko kerusakan yang ditimbulkan 95,6% PLTU lainnya.

Tapi, belum terlambat bagi pemerintah untuk menghentikan sepenuhnya penggunaan energi kotor kemudian beralih ke energi baru dan terbarukan. Kelebihan pasokan listrik di Pulau Jawa yang hampir menyentuh 50% selama pandemi harusnya bisa menjadi indikator untuk mengurangi penggunaan PLTU.

Ini bukan lagi hanya tentang polusi, tapi juga tentang menyelamatkan penduduk yang tinggal di pesisir pantai. (Jalal)

No comments:

Post a Comment

Halaman Facebook

×
Berita Terbaru Update