-->

Notification

×

Menguji Janji Bupati Cianjur Dibukanya Jalan Siti Jenab "Langab"

Thursday, 24 June 2021 | 07:29 WIB Last Updated 2021-06-24T00:55:49Z



Foto: "Bekas" Ruas Jalan Siti Jenab yang hingga kini masih ditutup karena terdampak Mega Proyek Pemda Cianjur beberapa tahun lalu. Kini warga Cianjur memnuntut kembali agar Jalan Siti Jenab dibuka dan diperuntukan seluas-luasnya untuk kepentingan umum. Akankah Bupati yang baru dilantik mengabulkan aspirasi rakyatnya tersebut?.

CIANJUR, journalnews.co.id: Jalan Siti Jenab di Kab, Cianjur merupakan sesuatu yang sangat istimewa, karena bukan hanya keberadaannya yang tepat di jantung kota Cianjur, di depan Komplek Pendopo Pemda Cianjur, lebih dari itu nama Jalan Siti Jenab menyimpan sejarah yang tidak ternilai, khususnya sejarah pendidikan yang dipelopori oleh seorang perempuan binangkit yang bernama Raden Siti Jenab, trah menak Cianjur yang konsen terhadap "atikan" cacah Cianjur sekitaran awal abad 19 lalu. Tujuannya jelas, turut mengangkat harkat dan derajat "cacah" Cianjur dari ketertindasan kolonial melalui pendidikan. 



Foto: "Berubah" wujud, Bangunan Permanen Sekolah SDN Ibu Jenab Satu (Bujensa) yang merupakan salahsatu Benda yang "dianggap" Cagar Budaya Cianjur, lenyap tergantikan oleh bangunan yang didominasi oleh bambu dan kayu dengan judul "SAKOLA ISTERI". Nampak kumuh dan tidak terawat dengan baik, dan menjadi "Rumah Singgah" para Gelandangan dan Pengemis. Bangunan SDN Ibu Jenab Satu yang dulu riuh oleh aktivitas pendidikan kini lenyap sirna tinggal kenangan, terberangus oleh kebijakan Kepala Daerah. 

Berkat jasanya yang begitu besar terhadap pendidikan, nama Raden Siti Jenab diabadikan menjadi nama Sekolah Dasar Negeri Ibu Jenab satu (SDN Bujensa) yang kini tinggal kenangan, karena bangunan fisiknya telah dirobohkan oleh Pemda Cianjur sekitar tahun 2017/ 2018 lalu pada masa kepemimpinan Bupati Irvan Rivano Muchtar (IRM) dan Herman Suherman selaku Wakil Bupatinya saat itu. Meski banyak tokoh dan masyarakat yang menentang atas pembongkaran SDN Bujensa tersebut, namun perintah kadung diucapakan dan pada akhirnya tamatlah sudah riwayat SDN Bujensa di samping Komplek Pemda Cianjur, berpindah ke sekitaran Pataruman Cianjur.  



Foto: Nampak kumuh dan tak terawat, kawasan bekas SDN Ibu Jenab Satu (Bujensa). Peruntukkan untuk kegiatan pendidikan kini beralih menjadi sentra ekonomi yang kurang teratur dan bahkan semrawut. Sepertinya perlu penataan ulang kembali oleh Bupati Herman Suherman dan wakilnya yang baru saja dilantik. Tes 100 Hari Pertama Kerja, mungkin ?. 

Selain diabadikan menjadi nama satuan pendidikan setingkat SD, nama Raden Siti Jenab-pun diabadikan pula menjadi nama jalan protokol tepat membentang melintasi Komplek Pemda Cianjur di sebelah utara, menjadi pembatas antara komplek Pendopo dengan Alun-alun Cianjur. Namun cerita indahnya Jalan Siti Jenab-pun sirna dan tinggal cerita, karena lagi-lagi atasnama kebijakan Bupati IRM dan Wakilnya Herman Suherman sekitaran tahun 2017/ 2018an ditutup karena terdampak megaproyek Penataan Kawasan Landmark Alun-alun Cianjur yang begitu megah dan menghabiskan dana APBD lebih dari 60 Miliar karena ditahun jamak-kan, dua tahun APBD. Setelah berjalan lebih kurang 4 tahun berjalan pasca penutupan Jalan Siti Jenab tersebut, muncul tuntutan dari warga, tokoh masyarakat, dan aktivis Pemerhati Sosial Cianjur untuk dibuka kembali menjadi fasilitas umum sebagaimana peruntukkan awal. 

"Jalan Siti Jenab yang di depan Kantor Pemda sudah seharusnya dibuka kembali, karena jalan tersebut merupakan fasilitas umum dan akses menuju Mesjid Agung bagi warga yang berada disekitar perempatan Shianghai yang akan melaksanakan ibadah di Mesjid Agung tersebut. Saya pikir sudah banyak kajian di grup-grup diskusi Cianjur yang mengharapkan jalan Siti Jenab di buka kembali." tutur Saepul Rahmat (25) Warga Kota Cianjur yang sehari-hari melaksanakan aktivitasnya sebagai Desainer di Kota Tauco tersebut. 


Hal senada dikemukakan oleh Irvan Rescue (30) seorang Karyawan di salahsatu Kantor Pembiayaan di Kab. Cianjur. "Pemda sudah seharusnya cepat tanggap dengan aspirasi dan tuntutan warga Cianjur yang menginginkan akses Jalan Siti Jenab di buka kembali untuk kepentingan umum. Kalau tidak salah Bupati Herman kemarin saya lihat dengan Abah Ruskawan di baligho, siap membuka kembali Jalan tersebut, ayo buktikan ah janjinya, berani tidak Pak Bupati baru ini membuka Jalan Siti Jenab?. Itung-itung ujian 100 hari pertama kerja pasca pelantikan Pak Bupati." tutur Irvan bertanya dengan nada guyon saat ditemui di depan kantor Pegadaian Cianjur kemarin, Rabu (23/06). 


Foto: Gerbang Kawasan Landmark Alun-alun Cianjur menjadi destinasi wisata baru bagi para pecinta keindahan, namun seharusnya tanpa harus mengorbankan fasilitas umum (fasum) Jalan Siti Jenab yang kini masih ditutup oleh Pemda Cianjur. Akan Jalan Siti Jenab dibuka kembali oleh Bupati dan Wabup yang baru ini ?.


Masih dengan harapan yang sama dikemukakan oleh Tokoh Agama Cianjur, Ustad Muhammad Usman (30) saat ditemui di Komplek Pesantrennya disekitaran Karangtengah Cianjur kemarin (23/06). Ia menyatakan bahwa menurut sepengatahuannya, tanah alun-alun dan tanah jalan Siti Jenab merupakan tanah wakaf dari menak Cianjur yang bernama Ny. Hajjah Bodedar.


"Kalau saya tidak salah mendengar, tanah alaun-alun dan jalan Siti Jenab Cianjur, berikut dengan tanah yang dulu dijadikan bangunan SDN Bujensa merupakan tanah wakaf Ny.Hajjah Bodedar. Nah sekarang tanah tersebut tidak lagi diperuntukkan untuk kepentingan umat sebagaimana harusnya tanah wakaf, ketka ikrar wakaf disebutkan, maka saya khawatir ini akan menyalahi aturan syariat. Kita harus lebih berhati-hati dengan tanah wakaf." tegas Pria jangkung yang biasa disebut Kang Usman ini menjelaskan dengan penuh rasa cemas. (Jasa)

No comments:

Post a Comment

Halaman Facebook

×
Berita Terbaru Update