Saat Bertugas 12 Petugas KPPS di Jabar Meninggal Dunia, Begini Tanggapan KPU

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Saat Bertugas 12 Petugas KPPS di Jabar Meninggal Dunia, Begini Tanggapan KPU

April 28, 2019


BANDUNG - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat mencatat sedikitnya 12 orang petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS)  Pemilu 2019 di sembilan kota kabupaten di Jabar meninggal dunia saat bertugas. Kelelahan diduga kuat menjadi sebab belasan petugas tersebut meninggal.

Pemerintah provinsi Jabar dan KPU pun berencana memberikan santunan sekaligus mengabadikan nama mereka di Museum Demokrasi yang akan dibangun pemprov. 

Adapun nama sembilan dari 12  personil KPPS yang tercatat untuk sementara ini yaitu dari Kabupaten Purwakarta Deden Damanhuri (46 tahun) dan Carman (45 tahun) penyebab kematian mengalami pecah pembuluh darah dan kondisi badan lemah. Dari Kabupaten Bandung, Indra Lesmana alias Alex (28 tahun) mengeluh merasa mual/sakit. Dari Kota Bekasi Ahmad Salahudin Kelurahan Kranji Bekasi Barat TPS 081 (Ketua KPPS) tertabrak truk. Dari Kabupaten Tasikmalaya H Jeje dan Supriyanto efek Kecapaian di TPS,punya riwayat jantung karena kelelahan. Dari Kabupaten Kuningan Nana Rismana karena kecapaian. Dari Kabupaten Bogor Jaenal (56 tahun) kelelahan saat mengambil logistik di gudang penyimpanan. Dari Kabupaten Karawang Yaya Suhaya diduga kecapaian. Dari Kota Sukabumi Tatang Sopandi (48 tahun) demam setelah beberapa hari, sebelumnya aktif membantu sorlip di gudang logistik KPU. Dari Kabupaten Sukabumi Idris Hadi (64 tahun) dan Usman Suparman  kelelahan pada saat P2S selesai (riwayat penyakit jantung)

Ketua KPU Jabar Rifki Ali Mubarok mengatakan, 12 petugas tersebut yaitu dua orang dari Kabupaten Bandung, seorang dari Kota Bekasi, dua orang Kabupaten Tasikmalaya,  satu orang dari Kuningan, seorang dari Kabupaten Bogor,  seorang dari Karawang, Kota Sukabumi seorang,  dan dia orang Kabupaten Sukabumi. 

"Meninggalnya ada yang karena kelelahan, karena punya riwayat jantung. Kelelahan, kebanyakan capek dan lelah, ada yang kecelakaan. Kecelakaannya tabrak ada yang ketabrak sama truk," ujar dia (20/4/2019). 

Menurut dia, dampak tersebut tentunya kaitannya dengan administrasi durasi waktu. Proses pemungutan dan perhitungan suara. Berdasarkan hasil pantauan di lapangan rata-rata itu selesai pukul 5 pagi, bahkan ada yang berlanjut sampai pukul 12 siang hari Kamis, karena belum selesai menyalin hasil formulir yang cukup banyak. 

"Dan itu kan tanpa jeda, apalagi kemudian kebanyakan mereka mempersiapkan tps di H-1 jadi, otomatis kan kelelahan." ucap dia. 

Selain itu, terdapat puluhan set form yang menjadi kewajiban mereka untuk dilipat dan disalin.

Terkait dengan santunan, diakui dia memang agak susah. Namun pihaknya sudah koordinasi dengan pemerintah provinsi, akhirnya mereka  upayakan ada santunan.

"Jadi selesai semua proses pemilu, kita akan mendata semua yang kena musibah meninggal, baik di tingkat TPS, kelurahan atau kecamatan. Saya mendapatkan data bukan hanya di tingkat TPS, tapi mungkin juga di tingkat kelurahan dan kecematan. Jadi kami sedang mendata, dan coba koordinasikan dengan pemerintah provinsi," Kata dia.

Pendataan tersebut pun termasuk yang sakit. "Kelihatannya banyak juga. Bisa jadi faktor usia, kemudian punya rekam sakit medis sakit, dan juga durasi waktu pemungutan suara lama," Kata dia. 

Dikatakan Rifki, sebenarnya pihaknya sudah menyampaikan konsekuensi menjadi personel KPPS. Pihaknya pun menjadikan faktor kesehatan menjadi syarat KPPS 

"Cuma problem kita banyak yang siap jadi KPPS secara persyaratan, memenuhi. Tapi tidak banyak yang mau. Kan gitu ya. Maka kemudian yang sekarang di TPS itu adalah yang siap dan mau. Dan itu akan sangat luar biasa kesukarelaannya dengan honor tidak seberapa tapi mereka kerja full," Kata dia. 

Diakui,  saat ini memang susah mencari orang yang mau jadi petugas KPPS. Dibanding jadi KPPS lebih banyak yang memilih jadi timses.

Dengan adanya belasan KPPS yang meninggal tersebut, lanjut dia, akan menjadi bahan evaluasi penyelenggara. 

"Pertama, kita berharap honor penyelenggara itu harus diperhatkan. Ini kan tidak berbanding dengan pekerjaannya, ya. Dan kita bersyukur masih ada yang mau jadi petugas KPPS, punya beban kerja cukup luar biasa, dengan honor yang terbatas. Coba bayangkan, banyak orang enggak mau jadi petugas KPPS. tanpa petugas, moal jadi pemilu," tutur dia.

Sementara itu, Gubernur Jabar Ridwan Kamil yang ditemui terpisah menilai petugas KPPS yang meninggal tersebut sebagai pahlawan pemilu. Dia pun mengusulkan  nama nama petugas KPPS tersebut diabadikan di Museum Demokrasi yang akan dibangun pemprov Jabar bekerja sama dengan KPU maupun Bawaslu.

"Ada rencana membangun Museum Demokrasi dan didalamnya akan ada tribute to pahlawan pahlawan Demokrasi," Kata dia.(Cox)