Meski Ibu Kota Pindah, Jakarta Tetap Menjadi Kota Bisnis

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Meski Ibu Kota Pindah, Jakarta Tetap Menjadi Kota Bisnis

May 4, 2019
{[["①","❶"],["②","❷"],["③","❸"],["④","❹"],["⑤","❺"]]}



JAKARTA - Pengamat Politik Indonesian Public Institute Jerry Massie setuju dengan rencana pemindahan Ibu Kota. Ia menyebut rencana itu pasti sudah melalui pertimbangan meski memakan dana hingga Rp466 triliun.

"Sasarannya adalah jangka panjang, bukan jangka menengah atau jangka pendek," kata Jerry kepada Medcom.id, Jumat, 3 Mei 2019.

Apalagi, negara-negara lain sudah melakukan hal serupa. Dia mencontohkan Malaysia yang berhasil memindahkan kota pemerintahannya dari Kuala Lumpur ke Putrajaya. Namun, lanjut Jerry, Kuala Lumpur tetap menjadi kota bisnis.

"Begitu pula di Amerika Serikat (AS) yaitu New York Ibu Kotanya Albany dan kota bisnisnya Manhattan. Pun dengan Washington DC Ibu Kotanya Olimpia dan kota bisnisnya Seattle," ujarnya.

Jerry menjelaskan tiga alasan rencana pemindahan Ibu Kota bakal terwujud. Pertama, kata dia, kemacetan di Jakarta sudah sulit diatur. Apalagi, lanjutnya, Jakarta masuk urutan ke-12 kota paling macet di dunia.


"Berdasarkan data yang ada setiap hari ada 1.500 kendaraan baru masuk Jakarta. Sedangkan ada 8 juta motor dari total 111 kendaraan di seluruh Indonesia," tutur Jerry.

Sayangnya, kata dia, hal ini tidak diimbangi dengan ketersediaan jalan di Indonesia. Jerry mengatakan panjang jalan di negeri Sakura saja mencapai 1,2 juta kilometer (km) sementara total panjang jalan di Indonesia tak sampai setengahnya, yakni 496 ribu kilometer.

"Padahal Indonesia memiliki luas daratan mencapai 1.922.570 kilometer persegi ketimbang Jepang yang luas daratannya hanya 374.744 kilometer per segi atau hanya 85 persen dari luas Pulau Sumatera," ujarnya.

Alasan kedua, kata Jerry, adalah kepadatan penduduk. Jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 265 juta jiwa.  Sedangkan, jumlah penduduk di Jakarta pada 2017 sebanyak 10,37 juta jiwa. 

"Masalah kepadatan menjadi acuan. Apalagi masalah lain yakni kebisingan, kebanjiran, dan Kerawanan menjadi pertimbangan Ibu Kota dipindahkan," pungkasnya.( Cox )