"Kekuasaan dan Oposisi sama-sama memiliki tugas untuk membangun Bangsa dan Negara"

Iklan atas Semua Halaman 970x250

Header Menu

"Kekuasaan dan Oposisi sama-sama memiliki tugas untuk membangun Bangsa dan Negara"

13 Juli 2019

Muhammad awod Faraz bajri. 

JOURNALNEWS | PURWAKARTA

Pesta Pemilu sudah usai. Ir H joko widodo dan Prof Dr H Ma' ruf amin akan menjadi Presiden dan wakil Presiden pada masa bakti 2019-2024 dalam menjalankan pemerintahan lima tahun ke depan.



Yang menang tidak perlu lagi konsolidasi, tinggal membentuk saja pemerintahan yang kuat dalam merealisasikan janji-janji Politiknya untuk kepentingan bangsa dan negara ke depan karena realitas Politik sudah memenangkannya. Menempatkan para pembantunya dalam kabinetnya dengan diisi oleh orang-orang yang memiliki integritas dan kredibilitas dan kapasitas




Yang kalah tidak perlu masuk ke dalam lingkaran Kekuasaan, melainkan menjadi Oposisi yang konstruktif dalam rangka mengawal jalannya pemerintahan ke depan supaya ada check and balance dalam pemerintahan.




Oposisi juga berfungsi untuk menguji tingkat kredibilitas Pemimpin yang berkuasa. Jika seorang pemimpin mampu meredam serta menghadirkan solusi atas kritik kekuasaan yang dilakukan gerakan oposisi, maka secara tidak langsung kepercayaan dan simpati publik terhadapnya akan mengalami peningkatan.




Gerakan Oposisi  akan sangat menentukkan dalam setiap pergulatan politik kebangsaan. Peran kaum oposan, baik dalam pemilihan umum maupun setelah para elit telah masuk ke dalam lingkaran kekuasaan, sama sama penting.




Setelah pemilu para oposan akan menempati posisi penting dalam melakukan check and balance dalam setiap kebijakan negara. Kini Publik tengah menanti peran oposisi sebagai kekuataan moral yang akan membawa kepentingan Rakyat banyak.




Mulai saat ini sudah saatnya menghilangkan slogan cebong dan kampret karena hakikatnya bangsa kita adalah bangsa yang dibingkai oleh ideologi Pancasila. Bangsa kita dibangun dengan jalan pikiran yang sehat. 




Mengkritik kekuasaan sangat diperlukan karena itu dilindungi undang-undangan selama kritikan itu konstruktif untuk membangun bangsa dan negara.




Demokrasi memerlukkan kegaduhan, tetapi kegaduhan yang menghadirkan narasi-narasi yang memberikan Kontribusi positif terhadap perjalanan sebuah bangsa. 




Setiap elit bangsa harus menampilkan prilaku-prilaku yang baik dan santun di ruang Publik. Menghormati setiap pandangan Politik dan agama dalam masyarakat Multikultural merupakan sebuah keniscayaan yang tidak bisa dinafikan oleh siapapun juga. 




Sudah saatnya tidak ada lagi pihak-pihak yang menuduh kelompok-kelompok yang berbeda pandangan politik dengan yang lain langsung diberikan stempel radikal, ekstrim, anti NKRI dan dianggap menganti ideologi Pancasila. 



Tidak tepat mengajarkan Umat Islam tentang cara berdemokrasi yang baik, mengajarkan tentang NKRI dan Kebhinekaan karena hakikat Islam Indonesia memiliki saham terbesar dalam proses kemerdekaan dan Mengusir para Penjajah bangsa.




Kecewa dalam pertarungan Politik sudah biasa dalam alam demokrasi, tetapi sekarang sudah saatnya menatap bangsa ke depan supaya lebih baik dan kuat. Ada gelombang tsunami besar yang perlu dihadapi secara bersama sama oleh bangsa indonesia.



Penulis : Muhammad awod Faraz bajri. Dosen sosiologi Agama stai al Muhajirin Purwakarta (Purwakarta, 13 Juli 2019)