MASA DEPAN PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA”

Iklan atas Semua Halaman 970x250

Header Menu

MASA DEPAN PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA”

9 Juli 2019

Muhammad Awod Faraz Bajri (Foto Dok Journalnews)


Penulis :
Muhammad Awod Faraz Bajri
Dosen Sosiologi Agama/ Ketua LPPM Sekolah Tinggi Agama Islam Al Muhajirin Purwakarta Jawa Barat

JOURNALNEWS | Nasional


Perguruan tinggi merupakan tempat melakukan pengajaran, pengabdian masyarakat dan penelitian sesuai dengan tugas sebuah perguruan tinggi. Civitas akademik memiliki kewajiban untuk melaksanakan tridarma perguruan tinggi. Perguruan tinggi memiliki peran yang signifikan dalam membentuk karakter bangsa.




Perguruan tinggi harus memiliki lompatan berfikir jauh ke depan dalam rangka menjalankan visi misi yang tercerahkan. Perguruan tinggi bukan hanya tempat mengajar semata, melainkan melakukan penelitian yang bermanfaat buat bangsa dan negara.




Selama perguruan tinggi tidak mendorong dosen-dosen nya untuk melakukan penelitian maka kemungkinan besar sebuah perguruan tinggi akan tenggelam ditelan bumi termasuk pengembangan budaya literasi dalam menciptakan produktivitas karya ilmiah.




Perguruan tinggi harus memiliki philosofi yang kuat dalam memberdayakan dosen-dosen nya untuk terus belajar dan menulis. Perguruan tinggi kuat bukan dilihat dari menara gading kemewahannya, melainkan sumberdaya manusianya kuat dan moralitas yang baik.




Transformasi keilmuaan harus terus digelorakkan dengan baik tanpa harus disibukkan dengan administrasi birokrasi yang mempersulit anak bangsa yang ingin berkarya untuk perubahan dan masa depan bangsa indonesia.



Bangsa menjadi besar dan kuat adalah bangsa yang memperhatikan sumberdaya manusianya. Tidak ada bangsa di dunia yang menjadi besar kecuali dengan memperkuat instrumen pendidikan. Kita bisa melihat contoh negara turki yang sudah memformat pendidikan negaranya untuk 100 tahun yang akan datang.



Anak-anak turki difasilitasi oleh negaranya untuk mencari ilmu pengetahuan diluar turki dengan biaya negara, setelah selesai menempuh studinya, mereka langsung mengembangkan kemampuan akademiknya untuk memajukan negaranya.




Muhammad Awod Faraz Bajri (Foto Dok Journalnews)

Indonesia sebagai negara besar sudah mengirimkan dosen-dosen terbaiknya untuk menempuh studi di luar negeri dalam rangka mengembangkan pendidikan di Indonesia. Langkah ini menurut saya sangat tepat di tengah persaingan ketat era disrupsi.




Bangsa indonesia akan semakin maju ketika seluruh perangkat negara memiliki komitmen yang kuat dalam memberdayakan anak bangsa untuk bisa bersaing baik pada tingkat nasional dan international selama ada tekad bersama untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia.



Perguruan tinggi memiliki tugas mulia sesuai amanat undang undang dasar. Menulis adalah jihad intelektual buat para dosen-dosen yang ada di kampus. Dunia literasi harus terus digelorakkan dalam peradaban bangsa Indonesia.




Kampus harus menjadi garda terdepan dalam mengembangkan budaya literasi. Kampus bukan hanya mencetak sarjana yang mendapatkan legalitas ijazah semata, melainkan harus mencetak mahasiswa-mahasiswa untuk bisa menulis.



Dosen adalah ujung tombak dalam mencerdaskan bangsa, negara, dan umat serta memiliki peran yang signifikan dalam memberikan dialektika pencerahan kepada peserta didik serta mempertahankan integritas, kredibiltas dan moralitas di hadapan publik. Dosen wajib menulis. Berhenti menulis maka harus memiliki kesadaran untuk berhenti mengajar.


Bagaimana mungkin dosen bisa mengajar sedangkan dalam diri dosen tidak ada spirit untuk menulis. Workshop pelatihan yang sering digelar oleh beberapa universitas menjadi tidak bermakna ketika tidak diterjemahkan dalam dunia yang kongkrit dengan cara menulis.



Seminar yang diselenggarakan oleh beberapa pihak yang cenderung teoritis-Abstraktif harus diterjemahkan dalam dunia literasi. Pelatihan menulis bukan diarahkan untuk kenaikan kepangkatan atau untuk mendapatkan sertifikat. Pelatihan menulis merupakan pintu utama untuk membuka jalan dalam mengembangkan literasi. Literasi untuk membangun peradaban bangsa.



Membangun narasi-narasi yang mencerdaskan harus dimulai dengan membiasakan berliterasi. Memang ada beberapa dosen yang kuat dalam minat baca, tetapi kurang dalam daya bacanya. Dosen harus sering berkunjung ke perpustakaan untuk meningkatkan daya baca. Spirit literasi itu bukan dilihat seberapa banyak mengelar pelatihan atau workhsop yang memakan waktu banyak serta uang yang tidak sedikit.



Sebuah perguruan tinggi tidak boleh hanya diam dan mengajar dikelas karena itu hanya wilayah kecil yang diibaratkan seperti bermain di pinggir ombak. Universitas harus mengoptimalkan seluruh kapasitas kemampuan dosennya untuk berani bermain dan berselancar ditengah tsunami karena itu tantangan sebuah perguruan tinggi dalam mengekspolarasikan gagasan dan ide-ide besarnya.



Universitas ditantang untuk menjalankan tridarma perguruan tinggi dalam rangka membangun sebuah peradaban dan berani menerobos sekat-sekat birokrasi-administrasi yang kaku, sebab itu akan menghambat kemajuan sebuah perguruan tinggi. Perguruan tinggi memiliki ikatan sosial dengan masyarakat.



Perguruan tinggi tempat memproduksi para pemikir handal, bukan tempat memproduksi para penghianat bangsa. Lingkaran kekuasaan tidak boleh masuk kedalam wilayah sakral seperti perguruan tinggi, karena akan membahayakan indepedensi sebuah perguruan tinggi. Perguruan tinggi bukan medan pertarungan politik untuk mendapatkan jabatan, kekuasaan dan uang, apalagi untuk mencari proyek dari kekuasaan.




Perguruan tinggi adalah tempat yang disediakan oleh Tuhan untuk melakukan pertarungan gagasan, ide-ide dan inovasi baru demi peradaban indonesia yang lebih maju dan beradab. Sangat berbahaya bila perguruan tinggi ikut bermain politik kekuasaan karena itu sama saja akan mengkerdilkan dan menenggelamkan perguruan tinggi.




Perguruan tinggi harus berani tampil di garda terdepan untuk berkelahi secara konseptual dan paradigmatik demi memperkuat peradaban indonesia. Perguruan tinggi tidak perlu disibukkan oleh urusan teknis-administratif yang kaku. Tetapi mengurusi persoalan yang lebih subtansial dan philosofis karena didalamnya terdiri orang-orang yang tercerahkan.




Universitas yang kuat tidak dilihat dari menara gading kemewahannya, melainkan memiliki sumberdaya manusianya yang kuat dan memiliki integritas, kredibilitas dan kapasitas. Tidak ada bangsa yang besar di dunia kecuali dengan memperkuat instrumen pendidikannya. Mampu menghasilkan karya ilmiah yang bermanfaat buat bangsa dan negara.




Negara harus hadir dan mendorong para dosen untuk mengembangkan kemampuan intelektualnya dengan cara memperkuat seluruh perangkatnya dan memberikan biaya yang lebih besar. Pendidikan adalah instrumen yang sangat penting dalam memanusiakan manusia dari proses dehumanisasi.




Kekuataan sebuah perguruan tinggi dilihat dari aktivitas dosen-dosennya dalam menghasilkan penelitian yang baik termasuk menemukan penemuan-penemuan baru yang bisa dipublikasikan kepada masyarakat.



Menurut Prof Dadang seorang Guru Besar Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung mengungkapkan bahwa literasi sumber energi intelektual untuk pengembangan bangsa dan perserikatan. Budaya menulis merupakan nilai utama budaya akademik.



Riset yang dilakukan oleh para dosen sejatinya diarahkan untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. Riset harus dipublikasikan dalam kancah nasional dan international, tetapi publikasinya tidak mesti harus terindeks scopus dan thomson seperti pernah diungkapkan oleh Profesor Idrus Affandi bahwa indonesia harus memiliki sistem indeks bereputasi international sendiri dengan melibatkan para ahli yang sesuai bidang kompetensinya.




Sejarah sudah membuktikan bahwa negara akan maju dan makmur karena mengalirnya pena-pena tulisan. Tidak mungkin akan akan mengenal para pemikir dan ulama besar yang telah banyak berjasa buat bangsa dan negara, kalau bukan dari tulisan mereka yang sampai hari ini masih dijadikan rujukan oleh para akademisi, pemikir di indonesia. Peradaban tidak akan maju dengan kekuasaan, uang dan jabatan melainkan dengan literasi.




Mengembangkan daya nalar seorang akademisi harus dibuka ruang geraknya seluas-luasnya. Dosen harus diberikan kebebasan dalam mengembangkan kemampuan intelektualnya. Bagaimana dengan dosen yang sudah banyak menulis dan bermanfaat tetapi tidak terindeks scopus, Apakah derajat keilmuaanya berbeda dengan orang yang terindeks bereputasi international? Negara dalam hal ini pemerintah harus memberikan penghargaan guru besar kepada dosen yang menulis dan berkarya untuk masyarakat.




Menurut Moeflich Salah satu dosen Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung mengungkapkan bahwa moralitas ilmu bisa ditentukkan sejauhmana dosen itu tidak melakukan tindakan yang melakukan perlawaan hukum atau korupsi. Apakah kepangkatan akademik harus diatur dengan lalu lintas yang bernama scopus. Bukankah di Indonesia banyak Guru besar yang berintegritas dan moralitasnya sudah teruji dengan baik



Pemerintah dalam hal ini diktis dan dikti seharusnya membuat regulasi bahwa kepangkatan akademik Guru besar ditentukkan oleh para akademisi yang sudah teruji keilmuannya.



Kalau ini diberlakukan di indonesia maka akan semakin bergairah dosen untuk berliterasi tanpa harus disibukkan dengan urusan administrasi-birokrasi yang melelahkan.



Saran ini bukan berarti menghilangkan aturan scopus, kalau mau terindeks scopus boleh, dan tidak terindeks scopus pun boleh. Ada beberapa sahabat saya yang tidak lagi mempersoalkan tentang scopus, karena baginya yang terpenting tulisannya memberikan kemaslahatan buat negara, bangsa dan umat.


Universitas bukan hanya merupakan centre of Exellence atau pusat pemikiran dan ilmu pengetahuan tetapi juga centre of change atau pusat perubahan tanggung jawab civitas akademik. Menerapkan ilmu demi kebaikan masyarakat dan kesejahteraan seluruh bangsa. Oleh sebab itu tugas perguruan tinggi adalah menyiapkan diri sebaik-baiknnya untuk mengatasi tantangan bangsa ke depan.



Laporan : Redaksi