" Perguruan tinggi harus berani berselancar ditengah tsunami yang besar"

Iklan Semua Halaman

Header Menu

" Perguruan tinggi harus berani berselancar ditengah tsunami yang besar"

July 12, 2019
{[["①","❶"],["②","❷"],["③","❸"],["④","❹"],["⑤","❺"]]}

Muhamad Awod Faraz


JOURNALNEWS | Nasional 

Perguruan tinggi yang merasa nyaman bermain di pinggiran ombak maka cepat atau lambat akan terbawa arus dan tidak menutup kemungkinan akan tenggelam karena belum siap menghadapi tsunami yang besar. Perguruan tinggi yang berani bermain di tengah derasnya tsunami dalam menyampaikan gagasan dan ide-ide briliannya maka perguruan tinggi itu akan semakin kuat. 



Bangsa memerlukan para kelompok tercerahkan yang berani melawan derasnya tsunami karena itu menjadi tantangan sendiri dalam menjawab kompleksitas bangsa yang terjadi. Peradaban bangsa hanya bisa dijawab oleh perguruan tinggi yang berani menghadapi tsunami besar karena dengan itulah eksistensi perguruan tinggi akan tercatat sebagai perguruan tinggi yang kuat dalam menyampaikan gagasan dan ide-ide karena berani berkelahi secara konseptual dan paradigmatik. 




Perguruan tinggi bukan medan pertarungan untuk mencari kekuasaan, uang, jabatan, apalagi mencari proyek dari negara dengan mengatasnamakan perguruan tinggi. Perguruan tinggi di desain dan diformat sebagai medan pertarungan gagasan secara konseptual dan tidak diberikan tugas untuk mengurusi kerikil-kerikil kecil. 



Kerikil kecil hanya bisa diselesaikan di pinggiran ombak.  kerikil besar yang menantang perguruan tinggi untuk berenang ditengah gelombang tsunami yang besar karena kita diberikan jalan pikiran yang kuat oleh Tuhan untuk menyelesaikannya. 




Narasi-narasi yang kuat hanya bisa diselesaikan dengan memperkuat literasi di perguruan tinggi. Bangsa lain bukan hanya berenang ditengah tsunami besar melainkan sudah bisa menaklukkan tsunami besar itu dengan kekuatan jalan pikiran mereka yang tertib dan konseptual. Integritas, kredibilitas dan kapasitas sangat diperlukan untuk melawan tsunami besar. 




Bangsa akan semakin maju dan besar ketika kita mampu menaklukkan dunia dengan ilmu pengetahuan yang setiap saat terus mengalami kemajuan. daya baca harus terus digelorakan sebelum tsunami besar akan semakin meluluhlantahkan peradaban bangsa ini.



Agama mengajarkan manusia untuk terus mencari ilmu pengetahun untuk kepentingan peradaban suatu bangsa. Tuhan sudah memberikan jalan supaya manusia berani menghadapi kerikil besar. 



Alih-alih memangkas dahan yang kecil, sedangkan akarnya tidak dicabut. Akarnya harus dicabut supaya dahan yang menghambat kita untuk maju tidak menghalangi langkah kita menghadapi tantangan yang besar. Akarnya dicabut secara otomatis dahannya akan ikut mati.



Berani memangkas akar menunjukkan eksistensi sebuah perguruan tinggi. akarnya harus dicabut karena disitulah masalah yang dihadapi oleh sebuah perguruan tinggi. 



Kalau perguruan tinggi tidak mau maju maka biarkan akar itu tumbuh besar sehingga dahannya akan semakin tumbuh besar sehingga pelan-pelan perguruan tinggi akan dihempas oleh angin. Berselancar ditengah gelombang tsunami akan membuat perguruan tinggi semakin kuat daya tawarnya diberbagai kancah. 



Tulisan ini sengaja saya tulis sebagai bahan intropeksi dan evaluasi perguraan tinggi di indonesia supaya semakin diperhitungkan dan dihargai serta dihormati sebagai bangsa yang besar dan maju. Berani menghadapi gelombang tsunami..



Mari kita sama-sama menghadapai dengan tetap meminta pertolongan kepada sang pemilik kehidupan.



Tuhan menciptakan sebuah perguruan tinggi untuk memproduksi para pemikir yang handal dan bermanfaat buat bangsa, negara dan umat. Tuhan tidak pernah mendesain dan memformat sebuah perguruan tinggi untuk menciptakan para penghianat bangsa. Jalan pikiran yang tertib dan konseptual yang diberikan tuhan mesti dijaga serta terus dipelihara dengan baik. 



Menara gading yang sering dipuja-puja oleh sebuah perguruan tinggi tidak pernah akan menyelesaikan problematika bangsa. Revolusi industri 4.0 yang sering diseminarkan tidak akan menghasilkan perubahan apa apa kalau perguruan tinggi hanya bermain di sebuah kolam yang kecil dan tidak merubah paradigma sebuah perguruan tinggi. Pertaruhan Perguruan tinggi ada dalam produktivitas dan Publikasi ilmiah yang populer. 




Pendidik yang membanggakan dirinya berkutat pada revolusi industri 4.0 belum ada jaminan sama sekali akan berhasil membawa perguruan tinggi menjadi lebih baik kalau akar yang membuat kropos perguruan tinggi tidak dicabut dengan alat yang kuat. Bermain pada wilayah yang kecil hanya akan membuat perguruan tinggi hanyut terbawa arus yang besar. Mempersoalkan yang tidak subtansial dalam sebuah perguruan tinggi hanya akan membuat bangsa kita sulit untuk maju. 




Penelitian itu harus menemukan teori dan inovasi baru yang bermaslahat. Pengabdian masyarakat itu advokasi dan ikut menyelesaikan problematika masyarakat. 




Publikasi ilmiah itu memberikan informasi atas gagasan-gagasan dan ide-ide brilian yang ditemukan oleh perguruan tinggi kepada masyarakat untuk kepentingan peradaban. Perguruan tinggi harus berani menyelam ke dasar laut, bukan menyelam ke kolam kecil yang tidak ada apa apa nya.  




Kita bisa belajar kepada nelayan yang berani maju ke tengah laut untuk mendapatkan ikan dengan perangkat seadanya padahal disitu mereka berhadapan dengan angin yang kencang yang bisa meluluhlantahkan perahunya, tetapi dengan keyakinan yang kuat bahwa mereka akan berhasil mendapatkan ikan yang mereka inginkan.



Membumikan tugas tridarma perguruan tinggi dalam bingkai nilai2 agama akan memperkuat eksistensi perguruan tinggi yang kredibel, berintegritas dan berkapasitas tinggi yang menghantarkannya dalam berkompetisi dengan gelombang tsunami dan pergerakan didalamnya. 



Duet gemulai akar dan dahan ketika berkompetisi dengan gulungan tsunami yang dihasilkan pergerakan dunia pengetahuan manusia yang berada didalamnya tersebut, akan semakin mengokohkan eksistensi perguruan tinggi dalam membaca setiap inci dari pergerakan yang muncul tersebut, sehingga mampu membangun peradaban berkualitas yang sesuai dengan zamannya. 



Stagnan dalam membaca pergerakan, akan membawa perguruan tinggi pada mati suri yang berkepanjangan dan berakhir pada kebinasaan tak berbekas.
Kebencian dan narasi-narasi negatif dihilangkan, narasi positif dibangun dengan jalan pikiran yang tuhan berikan kepada kita. Ombak besar hanya bisa dikendalikan oleh orang yang berjiwa besar dan pikiran jernih. Medan pertarungan dikampus harus dimulai dengan cara berkelahi dengan cara konseptual dan paradigmatik, kampus tidak akan maju kalau dibangun dengan pendekatan orientasi bisnis...Kampus tempat berkelahi secara lebih elegan dengan pikiran yang terbuka dan sehat. Hilangkan intrik-intrik politik yang menyesatkan perguruan tinggi. Perguruan tinggi menjadi kerdil ketika hanya mengurusi persoalaan kolam yang kecil..di era disrupsi tantangan besar ada dihadapan bangsa ini  harus disikapi secara lebih serius...perguruan tinggi bukan tempat elitis yang hanya memamerkan kemewaan bergaya kapitalistik-hedonistik yang akan membahayakan masa depan perguruan tinggi. 


Bagaimana mungkin universitas bisa bergerak cepat kalau sandaran utamanya dikendalikan para penjahat berbalut religis
Kolam kecil didalamnya hanya terdiri ikan yang kecil-kecil..Kolam besar didalamnya ikan-ikan besar..Kita menangkap ikan kecil hanya bermanfaat buat segilintir orang. Menangkap ikan besar ditengah luasnya alam samudra akan menunjukkan eksistensi kita dihadapn tuhan bahwa kita berani menaklukkan ganasnya ombak besar dan tuhan akan memberikan jalan buat hambanya yang bisa menaklukkan dunia. 




Ombak besar didalamya begitu banyak tantangan dan Allah akan menguji hambanya dalam menghadapi ujiannya. Berani di pinggiran ombak hanya untuk menyelamatkan diri sendiri dan tidak bersedia menyelamatkan eksistensi kehidupan. Itulah ruh perguruan tinggi. Jangan berkelahi hanya urusan jabatan, kekuasaan, uang yang tidak memberikan manfaat apa apa dihadapan Tuhan. 



Berkelahilah kita dengan gagasan dan inovasi baru untuk keselamatan bangsa dan negara. Berselancar dengan pikiran positif  lebih mulia daripada bermain dipinggir ombak tetapi mengkerdilkan eksistensi perguruan tinggi. akarnya masih tertanam bahkan terus disirami dengan air yang kotor sehingga dahan dahan yang disekitarnya terbawa kotor dan memperlambat gerak laju sebuah perguruan tinggi




Penulis : Muhamad Awod Faraz Bajri ( Dosen Sosiologi Agama STAI Al Muhajirin Purwakarta