Notification

×

Iklan

Iklan300x100

Tantangan Pendidikan era New Normal

Saturday, June 13, 2020 | 17:10 WIB Last Updated 2020-06-13T10:10:59Z

JOURNAL NEWS //- Masa Pandemi Covid-19 di Indonesia saat ini belum menemui titik akhir, Seolah menjadi fenomena biasa, masyarakat perlu beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan kondisi seperti ini. Istilah New Normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) menjadi isu hangat di seluruh lapisan masyarakat.

Pemerintah perlu merumuskan berbagai kebijakan terhadap berbagai bidang, satu diantaranya yaitu bidang pendidikan. Sudah lebih dari tiga bulan sejak pendidikan yang dilaksanakan di dalam kelas diberhentikan. Seluruh sekolah yang ada di Jawa Barat terpaksa melakukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di ruang-ruang virtual dan daring.

Para tenaga pendidik dan peserta didik berlomba-lomba untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Namun, nyatanya belajar melalui layar gawai tidak sama halnya dengan
belajar di dalam kelas. Para peserta didik merasa bahwa pembelajaran di rumah
sama halnya dengan Ketika mereka mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) dari
sekolah. Wajar jika para peserta didik tidak serius dalam belajar.

Pembelajaran melalui daring dianggap tidak efektif sebagai media pembelajaran bagi para peserta didik. Berbagai permasalahan muncul seiring dengan diberlakukannya KBM via daring. Diantaranya adalah, keterbatasan sarana dan prasarana para guru dan peserta didik, koneksi internet yang tidak stabil, sampai kefokusan belajar para peserta didik yang terganggu. Pun standararisasi
nilai menjadi tidak objektif sesuai dengan kemampuan peserta didik.

Ada kemungkinan pemecahan masalah dilakukan dengan meminta bantuan kepada
orang tua atau kakak di rumah. Permasalahan tersebut membuat sistem pembelajaran di rumah menjadi tidak efektif dan optimal. Meski begitu, pendidikan tidaklah boleh berhenti dimasa pandemi Covid-19, Pendidikan harus terus ada sebagai pondasi dasar masa depan bangsa dan negara.

Jangan sampai pandemi menghentikan kegiatan belajar mengajar, Bagaimana nasib bangsa nanti jika pondasinya runtuh. Oleh karena itu, seluruh elemen pendidikan harus bersinergi dan merumuskan sesuatu untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Menanggapi kondisi demikian, perlu adanya perumusan secara bersama-sama oleh para pejabat, pakar, tenaga pendidik dan seluruh pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan di Indonesia untuk menyusun secara rinci kurikulum, standar mutu, metodologi dan sistem pendidikan yang sesuai dengan konsep New Normal yang akan diberlakukan.

Rumusan yang dihasilkan nantinya akan
disesuaikan dengan situasi pandemi di setiap daerah. Apabila ada daerah yang dianggap telah terbebas dari pandemi Covid-19, maka pelaksanaan KBM boleh jadi diizinkan dilaksanakan di sekolah dengan mengikuti standar protokol Kesehatan, Jangan sampai sekolah jadi media penyebaran baru pandemi Covid-19 sehingga memperburuk keadaan.

Apabila pendidikan telah dirumuskan, maka perlu ada pencerdasan kepada masyarakat, terutama kepada orangtua peserta didik. Sekolah harus melibatkan peran orangtua peserta didik untuk membimbing dan mengawasi peserta didik dalam pelaksanaan KBM. Selain itu, pemerintah juga harus memfasilitasi sarana dan prasana dalam menunjang program pendidikan di sekolah.

Jangan sampai ada peserta didik yang kesulitan untuk belajar karena tidak memiliki sarana atau media belajar. Tanggung jawab pemerintah adalah memastikan bahwa para peserta didik harus sama-sama mendapatkan pendidikan sesuai jenjangnya tanpa melihat latar belakang peserta didik.

Kewajiban para peserta didik adalah mengikuti seluruh aturan yang nanti akan ditetapkan terkait pendidikan di masa New Normal. Disiplin terhadap aturan menjadi kunci dalam melaksanakan KBM. Seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan KBM harus bersinergi agar berjalan dengan efektif dan optimal, Dengan begitu, pendidikan akan terus menjadi pondasi yang kuat bagi bangsa.

Oleh Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Dapil XII, H. Anwar Yasin


EM
×
Berita Terbaru Update