-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

SPIRITUAL KENEGARAAN PRESIDEN JOKOWI MENGHADAPI TANGAN TANGAN YANG TIDAK TERLIHAT * INVISIBLE HANDS *

Thursday, 2 July 2020 | 11:43 WIB Last Updated 2020-07-03T04:22:55Z

JOURNAL NEWS //- Langkah Radikal Bidak Catur  strategi global Amerika , Cina dan Timur tengah di Indonesia dengan AMBIGU KEKUASAAN DAN BABAK  DEVIDE ET IMPERA.

Peristiwa TIWIKRAMA  PRESIDEN JOKOWI di Sidang Paripurna Kabinet 18 Juni 2020

SPIRITUAL KENEGARAAN memiliki makna :
Jiwa dan kekuatan serta semangat yang terbangun dari dasar nilai Kebesaran dan Ke Agungan Tuhan dalam memahani serta mengkaji Kenegaraan.

Sewaktu para founding father membuat undang- undang dasar untuk Republik Indonesia, maka dicantumkanlah Aktualisasi Spiritual Kenegaraan itu pada :

Pembukaan UUD ' 45.

Lemahnya spiritual kenegaraan akan menjadikan bangsa ini tidak mampu melaksanakan dengan baik tujuan dari Pembukaan dan Batang Tubuh UUD'45

Karena kalah dengan ambigu kekuasaan.

Ambigu kekuasaan ini akan menjadikan para pemimpin menjadi kabur pandangan, tidak jelas kebijakkannya sehingga langkah langkahnya menjadi tidak pasti dan tidak kongkrit. 

Ambigu kekuasaan inilah yang kemudian dimainkan oleh para pemain kekuasaan dari dalam dan dari luar negeri dengan istilah :

Tangan- tangan yang tidak terlihat ( Invisible hands)

Tangan tangan yang tidak terlihat ( Invisible hands ) bermain dan mengkontrol berbagai kepentingan di Indonesia. Dari kepentingan politik, ekonomi bahkan peraturan dan perundang undangan dan lain sebagainya.

Tangan - tangan yang tidak terlihat ada yang yang mencengkeram dengan kuat tetapi ada pula yang melempar batu sembunyi tangan.

Tangan - tangan yang tidak terlihat ada yang bertujuan positif  tetapi banyak pula yang punya tujuan negatif

Sedemikian komplek permasahan yang ada di Indonesia bahkan ada pepatah * mengail di air yang keruh * = Mencari keuntungan pada situasi yang sulit.

Dengan cara memperkeruh suasana dengan membuat masalah, mempertajam permasalahan dan membenturkan permasalahan.

Kondisi sekarang semakin memprihatinkan dengan adanya * devide et Impera *

Padahal para pemimpin bangsa ini seharusnya belajar dan berkaca dari jaman penjajahan   dan peristiwa G 30 S PKI. Sebagai sejarah kelam dari bangsa indonesia.

Tangan tangan yang tidak terlihat mulai mengail di air yang keruh di tengan kondisi pandemi covid-19 dan sudah membahayakan.

Mereka mulai memainkan bidak catur. Memajukan para pion yang dengan gagah berani serta selalu siap untuk diadu dan mati. Didampingi kuda yang mengamankan dan siap untuk menyerbu serta peran menteri yang siap meluncur serta menyerang daerah lawan. Sedangkan Ratu dan Raja masih diam mengamati majunya pion - pion, kuda dan menteri sambil mengatur strategi.

Tangan- tangan yang tidak terlihat bisa ada dimana-mana, bahkan di Istana, di kementrian, Gedung DPR di masyarakat dan dimanapun tempat.

Yang paling membahayakan adalah * Musuh dalam selimut * yang ada seputar pusat kekuasaan

Negara Amerika, Negara Cina dan Timur tengah  pasti memiliki kepentingan besar di Indonesia. Mereka memiliki agen -agen yang handal untuk masuk di lingkaran kekuasan serta berusaha untuk mempengaruhi kebijakan.

Langkah- langkah radikal dari agen-agen invisible hands harus mulai diwaspadai ditengah ambigunya permasalahan ekonomi dan politik dunia.

Maka peristiwa marahnya Presiden Jokowi di Sidang Paripurna Kabinet menjadi sikap ELING LAN WASPADA beliau, terhadap berbagai permasahan. Karena akan menjadikan korban 267 juta rakyat Indonesia.

Jangan sampai Kebijakan Presiden tertutupi oleh niat negatif Tangan tangan yang tidak terlihat. 

Kita sekarang ini lagi menghadapi pertentangan mengenai RUU HIP. 

Kita berharap kepada para pemimpin untuk tidak memaksakan ambigunya di tengah situasi yang kritis akibat pandemi covid-19.

Para pemimpin mestinya memiliki sense of crisis yang sama untuk  bersatu padu serta menyatukan kekuatan menyelesaikan dampak besar permasalahan covid-19.

DENGAN TANGAN - TANGAN YANG DINGIN SERTA IDE YANG BRILIAN.

Bukan malah menambah masalah

Semoga Eling lan Waspada demi 267 juta rakyat Indonesia.

RahAyu RahAyu RahAyu

Persembahan
Sri Eka Sapta Wijaya Galgendu
Filsafat Spiritual Kepemimpinan
×
Berita Terbaru Update