-->

Notification

×

Dr. H. SACA SUHENDI, M.Ag: KAUM MILENIAL DI TANGANMU NASIB MASA DEPAN BANGSA INI

Wednesday, 9 September 2020 | 03:37 WIB Last Updated 2020-09-09T04:29:15Z

Gambar: Dr. H. Saca Suhendi, M.Ag Mantan Ketua DPD KNPI Jawa Barat 2014-2017; Merakyat, Kharismatik, dan Visioner.

Dr. H. SACA SUHENDI, M.Ag: 
KAUM MILENIAL DI TANGANMU NASIB MASA DEPAN BANGSA INI

Bandung// JournalNews.co.id: Sangat menarik membincangkan eksistensi kaum Milenial di tengah Pandemi Covid-19 bersama tokoh muda Jawa Barat, Dr. H. Saca Suhendi M.Ag di salahsatu Kafe disekitaran Cibiru Kota Bandung, Selasa (08/9). Masa Pandemi Covid-19 adalah masa dimana pembatasan sosial dan fisik benar-benar harus dijalankan oleh seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali kaum milenial. 
Generasi Milenial juga dikenal sebagai Generasi Y, Gen Y atau Generasi Langgas adalah kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini. Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran.
Gambar: Pertemuan yang membangun kualitas hidup bersama Dr. Saca Suhendi, M.Ag beserta Isteri Terkasih Ani Anisah, S,Ag
Menurut Kang Saca, demikian sapaan akrab pria kharismatik mantan Ketua DPD KNPI Jawa Barat periode 2014-2017 ini, generasi milenial pada umumnya adalah anak-anak dari generasi Baby Boomers dan Gen-X yang sudah tua. The Boston Consulting Group (BCG) menyebutkan di tahun 2012 jumlah MAC (middle-class and affluent consumers) di Indonesia berjumlah 74 juta jiwa, dan diprediksi akan terus meningkat hingga 141 juta jiwa di tahun 2020 nanti. Masyarakat kelas menengah dikenal selalu menjadi motor perubahan terutama terkait dengan aspek ekonomi dan perubahan sosial, dalam sejarah berbagai negara. Di tahun 2015, lebih dari 35% penduduk Indonesia merupakan penduduk muda yang berusia 15–34 tahun, di daerah perkotaan seperti DKI Jakarta, penduduk mudanya bisa mencapai lebih dari 40%.

Gambar: Berfose dengan Gubernur Jabar (foto atas) dan kompak bersama rekan seperjuangan Para Pengurus KNPI Jabar 2014-2017.
“Milenial kadang-kadang disebut sebagai "Echo Boomers" karena adanya 'booming' (peningkatan besar), tingkat kelahiran pada tahun 1980-an dan 1990-an. Untungnya di abad ke 20 tren menuju keluarga yang lebih kecil di negara-negara maju terus berkembang, sehingga dampak relatif dari "baby boom echo" umumnya tidak sebesar dari masa ledakan populasi pasca Perang Dunia II.” ungkap suami dari Ani Anisah ini meyakinkan. Pria Kelahiran Pandeglang Banten ini melanjutkan bahwa, Millennials di tahun 2020 akan berada pada puncak keemasan kehidupan mereka baik dari sisi kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat. ‘The urban middle-class millennials’ (perpaduan millennials, MAC dan Urban) merupakan tipikal orang yang percaya diri, kreatif dan pandai membangun koneksi. Generasi inilah yang akan membawa arah Indonesia pada 2020.
Namun tak sedikit fakta yang justeru menampilkan hal yang sebaliknya dari kaum milenial ini yakni gaya hidup yang hedonis, hura-hura, dan tak ingat hidup dimasa depan akan menjadi apa yang pada akhirnya lupa jalan pulang serta kata sukses hilang dalam kamus hidup mereka. Menyikapi hal ini, Kang Saca tegas mengatakan bahwa perlu ada upaya mengawal dan menyadarkan generasi milenial,  bahwa nasib bangsa ini ada ditangan mereka. Karenanya milenial harus berdaya harus merubah kebiasaan-kebiasaan buruk dan menggantinya dengan habbit yang positif.  
“Kaum milenial harus mampu meningkatkan Produktivitas hidup , mampu melakukan pengembangan diri, dan mampu memperkuat basis-basis ekonomi. Tidak mugkin negara kuat dan pesat tanpa didukung dengan kualitas pendidikan yang sempurna. Tanpa ada perubahan hidup yang lebih produktif, tanpa perubahan maindset, maka kesuksesan di masa depan akan terasa sulit diperoleh. Jika kita ingin sukses dalam kehidupan ataupun dalam bisnis, pendidikan, maka kita wajib merencanakan hidup dengan baik. Hidup yang tidak direncanakan sama dengan merencanakan kegagalan dalam hidup, palaning is everything.” ungkapnya dengan penuh semangat.


“Tips dari saya untuk seluruh Kaum mIlenial guna menyongsong masa depan yang cerah adalah: 1. Memiliki Rencana ataupun impian yang baik, 2. Harus merencanakan segala aktivitas dengn baik, scedulenya harus kita atur sedemikian rupa, 3. Harus memiliki  hubungan yang baik dengan siapapun (silaturahmi), dan inilah kunci sukses itu. Orang yang sukses adalah mereka yang tidak terbelenggu oleh siapapun, bebas. Kebebasan yang saya pahami adalah kemerdekan yang bertanggungjawab, bebas dari keterbelengguan, kegelisahan, tekanan, bebas dari keterikatan. Ketika kita sedang berjuang, bayangkan pedihnya menjadi orang miskin, dan jangan sampai gagal, dan bayangkan pula ketika senang dan bahagianya menjadi orang sukses, kita bisa berbagi dengan siapa saja, dan terakhir jangan lupa untuk senantiasa beryukur kepad Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan.” terang Dosen Fakultas Tarbiyah dan Kependidikan ini melanjutkan. Iapun mengatakan kembali bahwa Generasi Milenial harus mampu memanfaatkan kesempatan, bahkan jika bisa, ciptakanlah kesempatan untuk meraih sukses di masa depan.
“Ketika ada kesempatan maka ambillah, karena tidak akan ada kesempatan yang sama untuk yang ke dua kalinya. Saatnya mulai sekarang merubah kezumudan berfikir dan memunculkan sifat inovatif, kreatif, dan siap melahirkan sesuatu yang produktif. Ini semua memang butuh waktu dan kerja keras sejak awal dari kaum milenial itu sendiri, namun lebih baik hilang masa muda, daripada harus kehilangan masa depan. Terkadang dengan memelihara dendam positif pun, motivasi untuk melakukan akselerasi dan lompatan sosial nyata adanya, jiwa leadership menjadi pertaruhan. Untukmu kaum milenial dimanapun kalian berada, sibuklah dengan aktivitas yang bisa membangun kualitas hidup, dan jangan disibukkan dengan aktivitas yang hanya menghabiskan waktu hidup.” pungkas Bung Saca Suhendi mengakhiri perbincangan menarik malam itu.

Saking asyiknya menyimak setiap lontaran kalimat dari Wakil Ketua Pemuda Pancasila (PP) Jawa Barat tersebut, waktupun tak terasa kian larut malam. Pertemuan harus diakhiri dengan tibanya sosok pelayan kafe yang memberitahukan bahwa tempat tersebut akan segera tutup. Dengan berat hati, kamipun beranjak pulang dan berjanji besok ataupun lusa akan bertemu kembali di tempat yang sama, berdialektika kembali tentang segala yang ada dan mungkin ada. Terimakasih Kang atas waktu dan ilmunya yang begitu luas, terlebih tentang tips menjadi “manusia kaya” baik di dunia ataupun di akhirat kelak. (RM/AY)   




Halaman Facebook

×
Berita Terbaru Update