-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Johan Humardani Sitanggang: Dulunya Lautan, Tempat Ini Berubah Menjadi Gurun Pasir dan Dijuluki Kuburan Kapal

Thursday, 17 September 2020 | 15:45 WIB Last Updated 2020-09-17T08:45:48Z

JOURNALNEWS //- Uzbekistan, dulunya adalah kota nelayan yang berkembang pesat di tepi Laut Aral.

Namun, kondisi tersebut berubah ketika air di Laut Aral mulai surut dan Moynaq menajdi kota hantu yang sunyi dan ditinggalkan.

Melansir dari laman Pulse.ng, Senin (14/9/2020), Laut Aral dulunya adalah danau garam terbesar keempat di dunia.

Memiliki luas sekira 68.000 km persegi dan membentang dari Kazakhstan bagian utara hingga selatan.

Namun pada 1960-an, penguasa Soviet mengalihkan jalur dua sungai yang mengalir ke Laut Aral.

Jalur dua sungai dialihkan dengan tujuan mengembangkan produksi kapas di daerah tersebut.

Sejak saat itu, air yang ada di Laut Aral mulai surut dan kering, lantas tempat tersebut dijuluki sebagai Gurun Pasir Moynaq.

Alhasil, sebagian ikan mati karena tingkat salinitas (keasinan) yang meningkat drastis.

Dalam 50 tahun berikutnya hal ini terus berlanjut dan Laut Aral telah menyusut hingga hanya 10 persen dari ukuran aslinya.

Awalnya, para nelayan Moynaq berharap situasinya akan kembali normal, tetapi ketika sudah jelas bahwa tidak akan terjadi, kebanyakan dari mereka berangkat ke Rusia dan Kazakhstan untuk mencari pekerjaan.

Lebih dari 100.000 orang telah meninggalkan kota sejak itu, hanya menyisakan 18.000 penduduk di gurun.

Sebagian besar orang yang tersisa di kota bekerja di industri kapas dengan bayaran yang rendah.

Hal ini tentu sungguh ironis, mengingat industri kapas adalah penyebab kesengsaraan mereka.

Selain pekerja kapas, sebagian besar orang yang tersisa di Moynaq adalah peternak dan kakek nenek yang merawat cucu mereka karena orang tuanya mencari pekerjaan di perkotaan.

Laporan: Karim
×
Berita Terbaru Update