-->

Notification

×

HERY SAPARUDIN, M.Pd.I: SANTRI DAN PESANTREN BERPERAN BESAR MEWUJUDKAN CITA-CITA LUHUR NKRI

Thursday, 22 October 2020 | 16:48 WIB Last Updated 2020-10-22T10:21:09Z




HERY SAPARUDIN, M.Pd.I: SANTRI DAN PESANTREN BERPERAN BESAR MEWUJUDKAN CITA-CITA LUHUR NKRI


BANDUNG// JN: Santri mau jadi apa toh ?. Pertanyaan semacam ini sering dilontarkan oleh banyak orang, bahkan SANTRI dianggap hanya mampu memahami tentang agama, kitab dan hal-hal yang berbau agama saja, namun tidak mampu bersaing untuk mengikuti zaman, karena santri identik dengan perilku hidup konservatif, terbelakang, dan identik dengan  kain sarungan. 


Pada kenyataan dilapangan justru sebaliknya, dimana hari ini santri ataupun alumni santri telah mampu menjawab pertanyaan tersebut. Terbukti seseorang yang pernah nyantri, mampu menjadi Dokter, Menteri, Presiden, Wakil Presiden, Direktur, Dosen, Guru, Kontraktor, Kiyai, Ulama, Petani, Sejarawan, konsultan, hakim, jaksa dan masih banyakprofesi lainnya.  Bahkan bisa dikatakan kalangan Bawah sampai Atas sudah dijajaki oleh seorang yang berlabel sebagai "Santri". 




Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Heri Saparudin, M.Pd.I yang juga Santri sekaligus Alumni Pesantren YAMISA (Yayasan Miftahussalam) Soreang Bandung. Sebagai alumni pesantren, Heri merasakan betul peran besar Pesantren bagi pembentukan karakter seseorang yang akan berimplikasi terhadap pembentukan kualitas bangsa. Santri dan pesantren adalah suatu kesatuan, memiliki peran yang signifikan terhadap terbentuknya bangsa dan negeri ini. 


"Sebagai alumni pesantren, diperingatan hari santri nasional tahun ini, saya teringat pada para ulama dan para guru di pesantren yang telah mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam serta mentransformasikan keteladanan. Tanpa lelah mereka berjuang mendidik generasi bangsa Indonesia. Sebagai santri, kita perlu belajar kepada para ulama tentang kesalehannya dan ghirah Tafaqquh FÃŪ Al-DÃŪn, (mendalami ilmu agama Islam)." tutur Heri menegaskan dengan penuh semangat saat berbincang santai Usai memperingati Hari Santri Nasional (HSN) di sekitaran Kampus dan Pesantren nan Asri Soreang Bandung. Ayah dua orang anak, Asyfi Nur Zahro, Dina Zahrotul Qolbi, inipun menambahkan terkait sejarah Pergerakan Kaum Sarungan.


"Hanya beberapa pekan setelah proklamasi kemerdekaan, orang-orang Surabaya dan sekitarnya sadar bahwa NICA Belanda datang bersama tentara Sekutu untuk kembali berkuasa di Indonesia. Pada 19 September 1945, misalnya, banyak orang rela mati dalam peristiwa penyobekan bagian biru dari bendera Belanda di Hotel Yamato." Ini peristiwa heroik, dan disana ada peran Bung Tomo dengan pekik Allohu Akbar nya." tambah suami dari Neng Ema, S.Pd ini. 




Di antara orang-orang Indonesia yang tidak suka kehadiran militer asing kawan NICA itu terdapat kaum bersarung. Mereka adalah para santri dari pesantren-pesantren tradisional yang berafiliasi dengan ormas keagamaan halnya Nahdlatul Ulama dan Mathla'ul Anwar. Mereka berjibaku berjuang berkorban untuk mewujudkan cita-cita luhur berdirinya NKRI,  tambahnya lagi.



"Orang-orang pesantren itu, di masa-masa selanjutnya, kurang diungkap dalam sejarah Revolusi Indonesia. Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) yang disusun rezim Orde Baru pada pertengahan 1980-an, misalnya, tak memberi banyak tempat untuk perjuangan kaum santri. Narasi besar era Revolusi dalam pelajaran itu didominasi peran tentara, padahalkan banyak juga tentara yang sekaligus santri, alumni pesantren. Sejarah harus lebih objektif lagi ke depannya." pungkas Heri yang juga Ketua Jurusan di Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) STAI Yamisa Soreang Bandung. (Rimba Raya)

No comments:

Post a comment

Halaman Facebook

×
Berita Terbaru Update