-->

Notification

×

Adsense

Iklan

Tag Terpopuler

"MOJAYA" KEREMES UBI CIANJUR, OLE-OLE ASYIK RASA "NYENTRIK"

Friday, 9 October 2020 | 09:21 WIB Last Updated 2020-10-22T08:38:27Z




"MOJAYA" KEREMES UBI CIANJUR, OLE-OLE ASYIK RASA "NYENTRIK"


Cianjur//journalnews.co.id: Bagi sebagian masyarakat Sunda Jawa Barat, terlebih generasi "kolonial" (usia di atas 40) makanan tradisional "keremes" tentunya sudah tidak asing lagi di telinga. Jajanan ringan yang bahan dasarnya dari ubi (hui-sunda) diolah dengan sangat mudah, yakni dengan menghiris kecil-kecil ubi melalui parudan yang terbuat dari logam kaleng yang terdapat bolong-bolong sebesar biji korek api. 

Setelah itu, ubi yang sudah terparut/ teriris dicampur dengan gula merah/ aren dan beberapa resep lainnya yang sudah tercampur dengan sangat kalis. Lantas dicetak dengan menggunakan pipa berbentuk bundar dan digoreng menggunakan minyak panas. Aroma khas ubi gorengpun menyeruak, hinggap diujung hidung para pelanggan setia. Aktivitas inilah yang telah dilakukan oleh Agus selama 24 tahun terakhir, ia dan keluarganya bertahan dengan kegiatan wirausaha rumahan, Agus memang seorang yang teguh dan ulet dan menggeluti usahanya tersebut.





"Kami sekeluarga sudah menekuni usaha rumahan keremes ini sejak tahun 1996, ya lebih kurang 24 tahun hingga sekarang ini. Saya ingin memanfaatkan potensi daerah Sabandar Karangtengah yang dikenal sebagai sentra ubi dan palawija, selain sebagai penghasil padi dengan kualitas sangat baik. Namun, di daerah saya ini (Sabandar) kebun ubi ada dimana-mana, dan bagi saya ini peluang bisnis yang harus dimanfaatkan. Apalagi ketika panen melimpah kadang petani bingung menjual hasil panen nya sehinga dijual murah pada tangkulak, ungkap agus." tutur Agus Djuanda (50) nama lengkap dari pemilik usaha kremes dengan merek dagang "MOJAYA" ini menegaskan. Mojaya sendiri berasal dari bahasa Brunai yang artinya berkerja keras atau berkeinginan untuk maju pesat. 

Sudah berproduksi dari tahun 1994,   kremes ubi merah sabandar pernah dilirik Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bekasi. Mereka tertarik dengan produk Agus karena keunikan bahan, rasa, dan ketradisionalannya. Keberadaan tempat pengolahan Kremes Ubi ini berada di jalur yangsagat strategis, yaitu jalan antara Sabandar dan Cisaat Karangtengah CIanjur, tepatnya di  RT 03/08 Kp. Cisaat Desa Sabandar, Kecamatan Karang Tengah Cianjur. Agus Juanda  sang pemilik usaha kremes , memanfaatkan banyaknya prodak ubi menjadi olahan yang siap dipasarkan, murah meriah, sehat dan rasa yang unik. Agus menuturkan jika komposisi pembuatan makanan keremes itu simple.




"Komposisi kremes ini simple hanya butuh ubi sebagai bahan pokok, gula aren asli, ubi merah yang bagus katanya. Sekarang saya saya dibantu oleh karyawan 5 orang, untuk pendistribusian alhhamdulillah tidak terlalu sulit, via handphone. Biasanya banyak orang yang datang untuk mengambil kremes ke sini. Perhari rata-rata habis 6000 (enam ribu) keremes, dengan harga murah Rp.350 saja. 

Untuk pengemasan kami masih sangat sederhana, pakai plastik, ada yang berisi 10 biji, 20 biji, ada juga yang 28 biji. InshaAlloh kami akan terus menggeluti usaha ini, dan ke depannya semoga saja pihak Pemda mau peduli dan mau membantu para pengusaha kecil seperti saya agar dapat bertahan meski di tengah Pandemi. Bimbingan dan bantuan dari pemerintah sangat kami butuhkan." tegas Agus penuh harap kepada pemerintah kabupaten Cianjur.  

Selain memenuhi permintaan dalam Cianjur, Agus sering kerepotan melayani permintaan Keremes dari luar kota yang begitu berminat terhadap olahannya. 

"Ahamduillah omzet penjualan sekarang meningkat dengan konsep penjualan online ternyata mampu mendobrak pasar, ini sebagai bukti olahan keremes kami memiliki tempat dilidah para pembeli.  Apalagi rasa legit gula aren asli memberi cita rasa khas ubi sabandar ini." tambahnya lagi meyakinkan.



 

Harapan Agus Juanda pada wartawan journal,semoga bisnisnya bisa menstimulan masyarakat untuk bisa berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), dan keinginannya untuk memperoleh perhatian dari pemerintah, seperti halnya UMKM lainnya dapat terwujud. 

Itulah salahsatu cara Agus bertahan hidup di tengah Pandemi Covid-19. "pikiran harus kreatif dan inovatif, manfaatkan celah usaha sekecil apapun itu, bila perlu ciptakan unit-unit usaha lainnya, tapi masih dengan bahan dasar yang sama, yakni ubi khas Desa Sabandar." pungkasnya mengakhiri perbincangan kemarin (08/11). Terimakasih Pak, usaha seperti Bapak lah yang mampu bertahan di krisis financial negeri ini. Terimkasih para Pelaku UMKM. (Usaman/ Jajang)

×
Berita Terbaru Update