-->

Notification

×

Budidaya "Torbangun" Bisnis Alternatif di Masa Pandemi Covid-19

Tuesday, 3 November 2020 | 22:00 WIB Last Updated 2020-11-06T12:29:27Z


"Torbangun" Bisnis Alternatif di Masa Pandemi Covid-19


CIANJUR//JN: Ustadz Usman merupakan sosok muda dengan semangat berwirausaha yang cukup tinggi. Pria yang biasa disapa Kang Usman ini melakukan aktivitas keseharian sebagai Guru Agama di Komplek tempat tinggalnya, disekitaran Perum Gunteng Regensi Desa Bojong Karangtengah Kab. Cianjur. Disela-sela kesibukannya mendidik santri-santrinya, Usman kini tengah disibukan dengan menanam tumbuhan Herbal Torbangun. Ia meyakini bahwa khasiat dari tumbuhan ini banyak diperlukan oleh tubuh, berkhasiat dan sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Karena alasan ini maka Usman kini tengah fokus pada bisnis skala rumahan herbal tersebut. 

Gambar: Jajang Ridwan (30) Pemuda Penggiat Wirausaha di Desa Maleber Karangtengah Cianjur, sedang memisahkan batang dengan daun dari tumbuhan Torbangun yang menjadi peluang bisnis barunya.

"Tumbuhan Torbangun ini banyak terdapat disekitaran rumah kita, bahkan bisa dikatan tumbuhan liar. Namun jika ditelaah lebih jauh, ternyata ini adalah tumbuhan yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Memiliki khasiat yang luar biasa, karenanya tidaklah mengherankan jika bisnis herbal yang satu ini sangat menjanjikan." tutur Usman meyakinkan. 

"Saya dan saudara saya, Jajang Ridwan (30) dan Salman Al-Farisi (31) yang tinggal disekitaran Cipanas, kini tengah fokus juga membudidayakan tanaman herbal Torbangun. Bahkan di Januari 2021 nanti, kami sudah diminta untuk menyediakan sebanyak 3 ton bahan kering herbal Torbangun oleh Perusahaan di Jakarta untuk di ekspor ke Singapura. Bisnis ini sangat prosfektif." pungkas Usman.

Mengenal Tumbuhan Torbangun

Tumbuhan torbangun dikutip dari ipb.ac.id secara umum dikenal sebagai daun jintan. Tumbuhan ini masuk Ordo Solanes, Famili Labiatae, dan Genus Coleus.

Tumbuhan torbangun menyerupai semak. Tumbuhan ini tidak berumbi, percabangan agak berbentuk galah, dan berbulu halus.

Daun berhadapan, tunggal, tebal, berdaging, bulat telur melebar, agak bundar atau berbentuk seperti jantung. Permukaan atas daun berbulu halus tersebar dan pada bagian pertulangannya berambut panjang. Tepi daun beringgit kasar sampai bergigi kecuali pada bagian pangkal.

Pada keadaan segar, helaian daun tebal, berdaging dan berair, tulang daun bercabang-cabang dan menonjol, berwarna hijau muda dan kedua permukaan berambut halus berwarna putih. Pada keadaan kering, helaian daun tipis dan sangat berkerut, permukaan atas kasar dan berwarna cokelat, permukaan bawah berwarna lebih muda dan permukaan kasar, serta tulang daun kurang menonjol.




Tumbuhan yang memiliki nama ilmiah Coleus amboinicus, Lour. ini, dikutip dari balitnak.litbang.pertanian.go.id, dapat dijumpai hampir di seluruh wilayah Indonesia dengan nama berbeda-beda. Di daerah Sunda, dikenal dengan nama ajeran atau acerang, sementara di daerah Jawa dikenal dengan nama daun kucing. Berbagai nama lokal lain ialah daun kambing atau majha nereng (Madura), iwak (Bali), kunu etu (Timor), sukan (Melayu).


Tumbuhan ini hidup sekitar 3-10 tahun, dan banyak terdapat di Afrika Tropis, Asia, Australia. Tumbuhan ini telah lama digunakan secara tradisional sebagai makanan, aditif pakan ternak, dan terutama sebagai obat berbagai macam penyakit.

Tumbuhan torbangun menurut Wikipedia berasal dari Afrika Selatan dan Timur, dari Afrika Selatan (KwaZulu-Natal) dan Swaziland sampai Angola dan Mozambik, dan utara sampai Kenya dan Tanzania. Biasanya tumbuh di hutan atau semak pesisir, di lereng berbatu dan berpasir, atau tanah berpasir di dataran rendah.  

Dari Afrika Selatan, tumbuhan ini dibawa orang-orang Arab dan pedagang lain ke Arab, India, dan Asia Tenggara di sepanjang jalur perdagangan maritim Lautan India. Tumbuhan ini kemudian dibawa ke Eropa, dan kemudian dari Spanyol ke Amerika. Di Amerika, daun ini kemudian disebut thimi Spanyol.

Tumbuhan torbangun dikaitkan dengan sifat antiseptik, antimikroba, pencernaan, karminatif, perut, antelmintik, deodoran, diuretik, appetizing, dan tonik. Biasanya digunakan untuk mengobati gangguan saluran pernapasan sebagai bronkodilator, antitusif, dan ekspektoran.

Sifat antiseptik dan antimikroba tumbuhan telah dikaitkan dengan adanya senyawa seperti carvacrol, timol, flavon, fenol, tannin, dan asam aromatik.  Daunnya secara tradisional digunakan untuk pengobatan batuk, sakit tenggorokan dan hidung tersumbat, tapi juga untuk berbagai masalah lain seperti infeksi, rematik, dan perut kembung.

Tanaman ini dibudidayakan di kebun rumah di seluruh India untuk digunakan dalam pengobatan tradisional, digunakan untuk mengobati demam malaria, hepatopati, kalkuli ginjal dan vesikal, batuk, asma kronis, cegukan, bronkitis, helminthiasis, kolik, kejang, dan epilepsi.

Pengobatan tradisional India lain juga memanfaatkannya seperti untuk ulserasi kulit, gigitan kalajengking, alergi kulit, luka, diare, dengan penekanan pada daun yang digunakan sebagai hepatoprotektif, untuk meningkatkan kesehatan hati.

Di Indonesia daun torbangun atau jintan adalah makanan tradisional yang digunakan dalam sup untuk merangsang menyusui selama satu bulan setelah melahirkan. Di Kamboja  daunnya dibuat jus dan kemudian diberikan kepada anak-anak sebagai perlindungan dari pilek, dan daun dioleskan ke bibir.

Di Bahia, Brasil, orang menggunakan tanaman ini untuk mengobati lesi kulit yang disebabkan oleh Leishmania braziliensis. Di sebelah utara, di Paraiba di negara yang sama, tanaman ini biasa digunakan untuk pengobatan di rumah. 

Manfaat Herbal Tanaman Torbangun


Dikutip dari ums.ac.id, masyarakat memanfaatkan daun torbangun sebagai obat tradisional karena berkhasiat sebagai peluruh dahak pada pengobatan batuk, peluruh kentut, penurun panas, sariawan usus, demam, tetanus, sembelit, kejang perut, penyakit telinga. Sedangkan buah atau bijinya berkhasiat untuk obat cacar, antimuntah, lepra, ayan, radang, raja singa, batuk, batuk rejan, panu, dan influenza.


Daun torbangun, dikutip dari Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia (JIPI), April 2014 Vol. 19, termasuk salah satu tanaman pangan yang memiliki fungsi sebagai laktagogum, yaitu dapat meningkatkan sekresi dan produksi air susu ibu. Oleh karena itu, daun bangun-bangun sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai salah satu bahan dalam pengembangan produk makanan tambahan fungsional bagi ibu menyusui.


Sedangkan potensi daun torbangun dikutip dari ipb.ac.id,  sebagai bahan pangan sumber zat besi, provitamin A (karoten) dan kalsium. Bahan daun bangun-bangun sebanyak 100 g mengandung kalsium sebesar 279 mg, besi sebesar 13,6 mg, dan karoten total sebesar 13.288 mikrogram. Nilai ketiga jenis zat gizi ini lebih besar bila dibandingkan dengan daun katuk (Sauropus androgynus). Daun katuk juga merupakan jenis tanaman yang daunnya digunakan sebagai pelancar produksi air susu ibu (ASI).


Laboratorium Department of Chemistry Gorakhpur University pada tahun 2006 menemukan kandungan senyawa penting yang berperan aktif dalam metabolisme sel dan merangsang produksi susu.

Secara umum dalam daun torbangun telah ditemukan tiga komponen utama. Komponen pertama adalah senyawa yang bersifat laktagogum, yaitu komponen yang dapat menstimulir produksi kelenjar air susu pada induk laktasi. Komponen kedua adalah zat gizi. Komponen ketiga adalah farmakoseutika yaitu senyawa-senyawa yang bersifat buffer, antibakterial,  antioksidan, pelumas, pelentur, pewarna dan penstabil.

Tumbuhan torbangun, dikutip dari situs   balitnak.litbang.pertanian.go.id, memiliki berbagai bahan aktif seperti karvakrol forksolin, koleol, fitosterol, barbatusin, dan fitokemikal lain yang bermanfaat untuk merangsang produksi ASI, pemulihan keseimbangan setelah melahirkan, uterine cleansing agent, antioksidan, merangsang semangat, mengobati sariawan, demam, asma, batuk, ayan, kembung dan sebagai afrodisiak. Kandungan kimianya adalah saponin, flavonoid, polifenol dan minyak atsiri, dan kandungan senyawa yang digunakan sebagai antipiretik adalah flavonoid.

 

Tim peneliti Departemen Biokimia, FK Universitas Kristen Indonesia, dikutip dari portalgaruda.org, meneliti komponen senyawa kimia dalam daun, dahan, dan akar. Hasil penelitian ini menunjukkan daun torbangun yang diekstrak dengan etanol mampu berperan sebagai antioksidan berdasarkan nilai IC.

Daun torbangun mengandung minyak atsiri yang berpotensi sebagai antiseptik dan mempunyai aktivitas tinggi melawan infeksi cacing. Selain itu daun ini mengandung vitamin C, vitamin B1, vitamin B12, beta karoten, niasin, karvakrol, kalsium, asam-asam lemak, asam oksalat, dan serat.

Aktivitas biologi dari senyawa-senyawa tersebut sebagai antioksidan, diuretik, analgesik, mencegah kanker, antitumor, antivertigo, immunostimulan, antiradang, antiinfertilitas, hipokolesterolemik, hipotensif. Aktivitas farmakologi daun torbangun telah diteliti sebagai prekursor antitumor dan aktivitas sitotoksik, antiperadangan, penginduksi daya tahan tubuh. (Usman)


No comments:

Post a comment

Halaman Facebook

×
Berita Terbaru Update