-->

Notification

×

SASTRA: Terbentur, Terbentur, dan Terbentuk !

Sunday, 1 November 2020 | 09:49 WIB Last Updated 2020-11-01T09:43:42Z


Aku Manusia Terbuang

 

Engkau terhina di mata manusia,

kau berdosa dan terbuang,

kau sampah yang tak bernilai rupiah,

kau manusia sisa dalam kubangan lumpur dosa,

itu sangka mereka padamu.

 

Meski sebenarnya engkau tidak begitu,

tidak semuanya seperti itu.

 

Sabar agar kau tetap tegar,

ikhlas agar kau tidak memelas,

tawakallah karena Tuhan tidak tidur,

dan jika memang Tuhan tertidur pulas

maka tinggalkanlah…

ia tak pantas untuk kita sembah,

karena ku tak suka Tuhan yang lelap dalam pulasNya.

 

Tuhanku, Tuhanmu, Tuhan mereka

adalah Tuhan kita yang maha melihat

dan maha mendengar

atas setiap pinta hambanya yang berserah diri,

dalam lantun doa-doa narapidana yang teraniyaya.

 

Aku sang terdakwa,

terhina atas fitnah sang penguasa durjana,

aku terus berhitung, menakar, mengukur

setiap peluang agar keadilan tegak di Tatar ini.

 

Kau karibku, Si Narapidana…

Bergegaslah taubat dengan sebenarnya,

bangkit dan lawan kedzaliman,

luruskan shaf rapatkan barisan.

 

Dia…

si Empunya kuasa,

selalu saja merasa paling mulia,

penguasa yang alfa akan Tuhan.

Bagiku…

Engkau manusia setengah binatang

yang lupa jalan pulang !

 

Jeruji Besi Tua

“Orang-orang Terbuang”

23 Agustus 2019

Karya Sang Gembala (RM)


AJAHKU...






PUISI JIWA

 

Biarkan makna dan rima

dalam puisi ini bersahutan,

mencipta tafsir atas segala realita.

 

Bahagia ataukah berduka, senang ataukah kecewa,

tunduk tertindas ataukah bangkit melawan,

kesemuanya adalah pilihan pemikiran,

bukan takdir Tuhan, bukan pula keberanian yang tak beralasan, melainkan kepekaan terhadap kebijakan

si Tuan Polan yang kerap menindasku,

menindas kamu dan kalian Rakyatku.

 

Aku kecewa padamu wahai penguasa,

namun aku tidak pernah membencimu,

tidak pula memfitnahmu sebagaimana kau perbuat padaku,

aku tidak sejahat dirimu, tidak serendah itu,

yang kulakukan adalah kubebaskan angan ini melayang

jauh menerawang atas apa yang sudah

dan akan terjadi dikemudian hari…

 

Meski tubuh ini ringkih, terpenjara fitnah penguasa,

namun pemikiran, ide, dan gagasan,

akan terus meronta melawan sejadinya,

itu kulakukan karena kau telah menghinakan aku,

memaksa takdir Penjara yang seharusnya tiada ku jumpa.

 

Kau mungkin telah lupa,

dalam puisi-puisi jiwa yang kucipta di malam buta,

dihadapan Sang Maha Perencana,

banyak sudah tanda dan makna yang kukirim padamu,

pada mereka yang telah merampas

sisi kemanusiaanku merebut kebebasanku.

 

Tanda dan makna itu …

kini telah mewujud menjadi dinding tebal perlawanan,

menjadi pembeda antara penindas dan kaum tertindas.

 

Kau telah menggali kuburmu sendiri,

bukan aku tapi kamu dan gerombolan serigala laparmu itu.

Aku mendakwamu melalui puisi Jiwa

di atas bara api keculasan yang kau nyalakan…

 

Aku terus melawan,

bersama kebenaran yang terus kusuarakan,

Demi satu irama syahdu,

tembang lawas tentang pembebasan…!

 

Rumah Penjara

“Irama Perlawanan”

29 Agustus 2019


 

TEGAR

 

Terkurung dalam ruang sempit,

tercerabut kebebasan

sebagai manusia merdeka,

terpuruk dalam kehinaan

dititik nadir kemanusiaan.

Aku tetap tegar di ambang batas kesabaran

selaku hamba Tuhan.

 

Hidup menapaki kaki langit,

menelusuri lorong waktu yang terus berlalu

tanpa mau menunggu,

berlari kencang bersama asa para jelata

yang merindu kesempurnaan.

 

Meski terseok dan hampir rubuh

ku tetap teguh disela angkuh

para penjilat dan kaum hipokrit.

 

Aku hanya menjalani

apa yang kau gariskan Tuhan,

aku berusaha sekuat tenaga yang tersisa,

tanpa mengeluh.

 

Meski sulit aku terus bertahan,

Melangkah gontai merangkak pelan.

Tertatih bangkit dan terjatuh,

di tengah badai fitnah kejimu itu.

 

Terus berulang dan berulang,

hingga ku tak tahu lagi

entah berapa ratus kali ku berhitung,

yang kutahu pasti…

 

angkuh dustamu adalah kehinaan

yang tak kan putus dirundung malang.

Tegar sikapku adalah kehormatan

yang memuliakan kehidupan

Kuyakin dengan segenap kesungguhan

bahwa Tuhanpun tahu…

jika aku tertipu kesalehanmu !

 

Rumah Penjara

21 Agustus 2019

“ Terbentur-Terbentuk”

Karya Sang Gembala (RM)


1 comment:

Halaman Facebook

×
Berita Terbaru Update