-->

Notification

×

WAHAI PRIA KECANTIKAN PEREMPUAN BUKAN SEBATAS FISIK

Thursday, 5 November 2020 | 15:49 WIB Last Updated 2020-11-05T09:03:20Z

 



Gambar: Kecantikan Perempuan menjadi magnet tersendiri bagi segenap kaum laki-laki. Bersyukurlah atas karunia cantikmu wahai kaum Hawa.


WAHAI PRIA KECANTIKAN PEREMPUAN BUKAN SEBATAS FISIK

SOROT// JN: Perempuan merupakan mahluk Tuhan yang unik dengan segala kelebihan dan kelemahannya, dan perempuanlah mahluk Tuhan yang memonopoli segala definisi keindahan, seluruh bagian dari anatomis tubuh perempuan mengandung makna indah dan cantik, suaranya, wajahnya, matanya, hidungnya, bibir merah merekahnya, kulit mulusnya, hingga lekuk tubuhnyapun syarat dengan definisi "indah dan Cantik". Inilah sisi keunikan kaum hawa yang sering kita panggil Ibu, Mama, Neng, Mbak, Tante, atau apapun itu. 



Al-jamal jamal al-khuluqi, kecantikan hakiki tak terletak pada fisik, tetapi cantik yang sebenarnya adalah cantik budi pekerti. Ungkapan Arab itu tepat untuk menekankan bahwa tolok ukur seseorang bukanlah parasnya. Maka, kata Ketua Umum Aisyiyah Muhammadiyah, Siti Noordjanah Djohantini, kecantikan itu ciptaan Allah SWT, termasuk cantik secara lahir maupun cantik batinnya. Cantik batin lebih penting dibandingkan fisik semata. Bila hatinya cantik, amal dan akhlaknya baik pula. Sekalipun dianugerahi kecantikan fisik, hal itu bukan untuk dieksplor.


Memamerkan kecantikan yang bersifat fisik tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. ''Mengumbar aurat itu bertentangan dengan ajaran agama Islam,'' ujarnya menyikapi eksploitasi kecantikan dalam ajang Miss World, Ratu Kecantikan Dunia.




Selain itu, ajang Miss World ini agenda prioritas bangsa Indonesia. Isu ekonomi mestinya diprioritaskan. Sedangkan, perhelatan semacam ini sama sekali tak memberikan solusi riil dan konkret. Masing-masing laki-laki dan perempuan diberi hak yang sama dalam dalam menggali potensinya.

Banyak kegiatan yang lebih baik yang mampu mengembangkan potensi diri perempuan. Hal-hal positif lain, seperti menjadi penulis, aktif di dunia politik, atau menjadi relawan aksi perdamaian. 
Miss World bukanlah ajang potensi yang bertujuan kebaikan. Malah, tidak ada kebaikan apa pun dalam terselenggaranya acara ini.

Ada usaha-usaha pemberdayaan perempuan yang lebih baik dibandingkan ajang kecantikan, misalnya memberi pemahaman tentang partisipasi perempuan dalam pemilihan umum. Dalam sektor ekonomi, perempuan diberi pengetahuan dan cara untuk ikut turut serta mengembangkan kehidupannya agar lebih sejahtera. Ajang Miss World ini merendahkan martabat dan melemahkan karakter perempuan.

Ia menambahkan, menutup aurat yang merupakan tuntunan Islam bukanlah bertujuan untuk mengekang. Hikmah dan maksud perempuan diperintahkan menutup auratnya agar mereka merasa aman dan tenteram, tidak menerima gangguan-gangguan dari luar. Oleh karenanya, mereka juga akan merasa tenang. Ketua Umum Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Ida Fauziyah mengatakan, ajang yang memamerkan semata-semata fisik perlu dipertanyakan. Islam sudah mengatur perintah menutup aurat dan kita tak boleh mengumbarnya. ''Yang dilombakan itu kecantikan fisik apa budi?'' ujarnya.

Kecantikan menurut Islam adalah kecantikan budi pekerti, bagaimana menempatkan diri antara manusia dan manusia, bagaimana mengatur hubungan antara manusia dan sesama, hubungan manusia dengan Tuhan, dan bagaimana memelihara yang diberikan Tuhan kepada kita. Memamerkan tidak termasuk kriteria cantik. Perempuan yang cantik adalah bagaimana ia dilihat dalam bersikap dan bertoleransi dan juga bagaimana ia menggunakan kecerdasannya untuk kepentingan sesama dan lingkungannya.


Tuntunan Islam menutup aurat dimaksudkan untuk menjaga perempuan itu sendiri. Jika diandaikan makanan, kita pasti lebih memilih makanan yang tertutup sebab kita berpikir makanan yang tertutup itu lebih aman dan tidak disentuh oleh apa pun dari luar. Makanan yang tertutup itu lebih higienis. Begitu pula dengan perempuan, diperintahkan untuk menutup auratnya untuk keamanannya sendiri, bukan untuk mengekang.


Lagi pula, dengan menutup aurat, perempuan tidak menjadi terbatas untuk beraktivitas. Mereka masih bisa menjalankan fungsi sosial dan fungsi publiknya sebagai manusia. Mereka masih bisa bekerja dan menopang keluarga. Ajang Miss World ini, sepanjang tidak memamerkan kemolekan tubuh, tidak mengadu kecantikan semata, masih bisa dimaklumi. “ Tapi, kalau ajang ini hanyalah ajang pamer tubuh, tentu harus dipertanyakan,” tutur Ketua Komisi VIII DPR-RI ini menegaskan. (Rimba//Sumber: Republika.co.id)

 

No comments:

Post a comment

Halaman Facebook

×
Berita Terbaru Update