-->

Notification

×

Bom Bunuh Diri; Motif Agama ataukah Masalah Kejiwaan ?

Wednesday, 31 March 2021 | 22:57 WIB Last Updated 2021-04-01T05:50:34Z



Bom Bunuh Diri; Motif Agama ataukah Masalah Kejiwaan ?

Penulis Hening: Dr. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag

 

Bandung/ journalnews.co.id: Secara historis di Indonesia, rangkaian peristiwa bom bunuh diri yang dilakukan kelompok yang diindikasi teroris telah terjadi sebanyak beberapa kali semenjak tahun 2000. Misalnya hasil kajian Public Virtue Research Institute telah meliris daftar aksi teror berupa ledakan bom yang terjadi di Indonesia dalam dua dekade terakhir sebanyak sembilan kasus ledakan bom yang terjadi sejak 2000, diantaranya Bom Bali I (2002), Bom JW Marriot (2003), Bom Bali II (2005), Bom Ritz Carlton (2009), Bom Masjid Az-Dzikra Cirebon (2011), Bom Sarinah (2016), Bom Mapolresta Solo (2016), Bom Kampung Melayu (2017), serta Bom Surabaya dan Sidoarjo (2018). (CNN Indonesia, 28/03/2021). Akan tetapi kalau menyimak secara utuh berdasarkan rilis dari beberapa media surat kabar, peristiwa yang diindikasi bom bunuh diri tersebut lebih dari sembilan kali, termasuk kejadian terakhir di  Katedral Hati Kudus Makassar pada hari minggu tangal 28 Maret 2021.


Deretan peritiwa bom bunuh diri di Indonesia ini telah melahirkan pelbagai sikap dan komentar. Mulai dari pandangan santun sampai pada pandangan yang penuh muatan sarkasme. Mulai narasi yang digerakkan oleh motivasi ketulusan sampai narasi yang dimotif oleh nuansa ke’fulus’an. Mulai dari hal-hal yang dikaitkan dengan agama sampai hal-hal yang dikaitkan dengan nuansa politik. Mulai dari masyarakat elit sampai masyarkat alit. Semuanya muncul menyeruak ke muka publik. Dan catatan refleksi yang akan diurai ini, tentu hanyalah perwakilan dari masyarakat alit yang sedikit peduli terhadap side-effect negatif dari banyaknya pandangan dan komentar tentang peritiswa-peristiwa bom bunuh diri tersebut, yakni lahirnya polarisasi sikap masyarakat yang bisa mengakibatkan terjadinya benturan-benturan hebat dalam wujud konflik sosial.  


Akar Tindakan Bunuh diri

K Hawton dan K van Heeringen dalam "Suicide” telah menyebutkan bahwa tindakan bunuh diri merupakan tindakan yang disengaja untuk melakukan pembunuhan bagi kematian diri sendiri. Bagi Hawton dan Heeringen, penyebab tindakan bunuh diri yang dilakukan seseorang adalah adanya ganguan kejiwaan berupa depresi, ganguan bipolar, skizofrenia atau faktor-faktor strees stadium berat yang diakibatkan masalah ekonomi, isolasi sosial, sanksi politik, masalah penyakit fisik yang menahun, frustasi sosial dan lainnya. Bahkan menurut Qin, Agerbo, dan Mortensen, dalam "Suicide risk in relation to socioeconomic, demographic, psychiatric, and familial factors” sumber motivasi utama adanya dorongan pemikiran untuk sengaja melakukan tindakan bunuh diri lebih banyak bertumpu pada faktor sosial ekonomi, seperti pengangguran, kesulitan peluang kerja, kemiskinan, kesenjangan, diskriminasi dan lainnya. Sepakat dengan Sher dalam "The role of brain-derived neurotrophic factor in the pathophysiology of adolescent suicidal behavior Secara tidak langsung faktor masalah sosial-ekonomi ini akan menyebabkan lahirnya individu atau kelompok yang mengalami  kejadian depresi berat, gangguan stres pasca trauma, skizofrenia dan gangguan obsesif-kompulsif sebagai pemicu awal munculnya tindakan bunuh diri.


Beberapa hasil penelitian yang sudah dilansir oleh beberapa media dunia telah menginformasikan bahwa masalah sosal-ekonomi dalam satu masyarakat atau kelompok tertentu akan mempengaruhi kejiwaan seorang individu untuk melakukan tindakan bunuh diri. Semisal yan diungkap oleh George Lerner, dalam "Activist: Farmer suicides in India linked to debt, globalization", telah menyebutkan bahwa akibat kemiskinan telah melahirkan tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh lebih 200.000 petani di India semenjak tahun 1997 yang disebabkan oleh lilitan hutang. Bahkan di Cina menurut  Law, dalam "Suicide in China: unique demographic patterns and relationship to depressive disorder”, setidaknya peristiwa bunuh diri telah terjadi tiga kali lipat di daerah sekitar pedesaaan di pesisir kota yang diakibatkan oleh kesulitan finansial untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya di area tersebut.  Walaupun sisi lain menurut Steven dan kawan-kawan, dalam "Stereotypes, Prejudice, and Depression: The Integrated Perspective" menyebutkan bahwa terdapat sumber pemicu terjadinya tindakan bunuh diri seseorang atau kelompok yang diakibatkan oleh kuatnya streotipe, stigma dan sangkaan sosial yang dilakukan oleh masyarakat secara umum atau kelompok yang lain. Dalam hal ini, menurut Steven, bahwa sejumlah orang mungkin melakukan tindakan bunuh diri untuk melarikan  dari intimidasi atau tuduhan-tuduhan sosial.


Agama Samawi dan Bunuh Diri

Secara historis, untuk kasus bunuh diri beralasan atau biasa disebut bunuh diri rasional dan bunuh diri altruistik lahir dari tradisi masyarakat tertentu, tradisi militer, dan tradisi sekte agama ardhiyah (agama yang dibuat oleh manusia itu sendiri). Sedangkan agama samawi (semisal Islam, Kristen dan Yahudi) tidak mengajarkan tentang kebolehan tindakan bunuh diri. Semisal kasus bunuh diri massal dan pernah mengemparkan dunia yang pernah dilansir oleh media surat kabar nasional maupun internasional, diantaranya: Kasus Heaven's Gate” pada tahun 1997. Sebuah sekte UFO yang berbasis di San Diego, California, Amerika Serikat (AS) dengan alasan bahwa bunuh diri merupakan tindakan mengevakuasi kelompoknya dari bumi. Sebelum aksi tersebut, Applewhite sang pemimpin sekte mengumumkan bahwa hanya dengan bunuh diri, jiwa kelompoknya bisa keluar dari kapal manusia mereka dan melakukan perjalanan ke kapal luar angkasa yang dipercaya akan mengikuti komet Hale-Bopp yang dipercaya sebagai tempat kehidupan tingkat kerajaan di atas manusia. Kasus “Order of the Solar Temple atau Ordo Kuil Surya” (OST). Kasus bunuh diri massal OST ini didasari oleh kepercayaan yang diajarkan oleh pemimpinnya, Joseph Di Mambro. Ajaran OST meyakini bahwa tindakan bunuh diri akan membawa manusia kepada 'planet atau dimensi' yang lebih baik dan lebih tinggi. Dalam rentang tahun 1994-1997 di Swiss, Kanada dan Francis, pengikut OST telah melakukan serangkaian bunuh diri massal sekaligus pembunuhan kepada yang lain dengan cara serangan bunuh diri. Aekte “Adam House’. Tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga di India pada tahun 2007 telah dimotif oleh kepercayaan bahwa dengan mengakhiri hidup maka akan terbebas dari agama apapun dan memperoleh kehidupan murni seperti Adam dan Hawa. Sekte “People Temple” yang dipimpin oleh James Warren Jones. Kasus bunuh diri massal dengan pengunaan racun sianida pada tahun 1978 ini di hutan Guyana melibatkan 918 nyawa pengikutnya. Para pengikutnya ini dijanjikan sebuah surga tropis yang bebas dari apa yang digambarkan sebagai dunia luar yang kejam. Dan tentu selain yang sudah disebutkan, kemungkinan masih ada sekte lainnya yang membolehkan tindakan bunuh diri rasional atau altruistik.


Sepakat dengan Harry dalam “Aging : concepts and controversies” bahwa bunuh diri rasional dianggap merupakan tindakan menghilangkan nyawa sendiri yang beralasan, akan tetapi sejumlah orang menganggap bahwa tindakan tersebut tidak pernah bisa disebut masuk akal walaupun demi kepentingan orang lain (altruistik). Akan tetapi karena dorongan-dorongan tertentu, baik bersumber dari tradisi, doktrin kepercayaan dan lainnya telah memperlihatkan fakta bahwa tindakan bunuh diri rasional oleh sebagian orang atau kelompok telah dilakukan. Semisal yang diungkap oleh Hales dalam “The American Psychiatric Publishing textbook of suicide assessment and management”, bahwa sebagian tradisi masyarakat Eskimo melakukan bunuh diri oleh sesepuh mereka sebagai tindakan yang terhormat, berani, atau bijaksana agar dapat meninggalkan makanan dalam jumlah yang lebih besar bagi orang yang lebih muda dalam masyarakat. Begitu juga contoh tradisi Kamikaze yang disebut oleh  Eliason dalam "Murder-suicide: a review of the recent literature”, serangan bunuh diri merupakan tindakan bernilai kemuliaan bagi tradisi militer Jepang. Dan tentu masih banyak contoh-contoh tradisi yang membolehkan tindakan bunuh diri rasional atau altruistik ini.


Persoalannya dalam kasus-kasus tindakan atau serangan bom bunuh diri terdapat pandangan sebagian orang yang membolehkannya berdasarkan pijakan agama samawi dan falsafi kemanusiaan. Betulkah? Mari lihat dari sudut agama samawi. Agama kristen dalam “Catechism of the Catholic Church” telah digambarkan bahwa tindakan bunuh diri merupakan dosa. Dalam ajaran Kristen ini dijelaskan bahwa bunuh diri merupakan tindakan melawan hukum alam dan menganggu rencana utma Tuhan bagi dunia. Bagi agama Kristen, kehidupan adalah karunia yang diberikan Tuhan yang tidak boleh ditolak. Ketika seseorang kristiani menghilangkan kehidupan tersebut dengan cara melakukan bunuh diri maka ia telah dianggap melakukan perbuatan dosa (ttp://www.scborromeo.org/ccc/p3s2c2a5.htm#2280). Barry dalam "A Jewish Perspective on Assisted Suicide", menyebutkan agama Yahudi secara ajaran telah menyakini bahwa bunuh diri merupakan tindakan mengingkari kebaikan Tuhan bagi kehidupan di dunia. Bunuh diri adalah tindakan yang tidak menghargai hidup yang telah dikaruniakan Tuhan. Sedangkan ajaran Islam, dalam rujukan-rujukan utamanya, yakni al-qur’an dan al hadist sudah tegas melarang tindakan bunuh diri. Salah satu surat dan ayat alqur’an yang menyebutkan hal ini secara muhkamat terdapat dalam surat an-nisa’ ayat 29, yakni: “janganlah kamu membunuh dirimu, sesunguhnya Alloh adalah Maha Penyayang kepadamu”. Bahkan di dalam ayat 30, mereka yang berbuat tindakan bunuh diri disebut telah melanggar hukum Tuhan dan berbuat zalim. Bagi mereka yang melakukan tindakan bunuh diri akan dimasukan ke dalam neraka. Hal inipun senada dengan salah satu sabda Rasululloh yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang berbunyi: “Barang siapa terjun dari sebuah bukit untuk menewaskan dirinya maka kelak ia akan masuk neraka dalam keadaan terlempar jasadnya. Ia kekal dalam neraka selama-lamanya.”


Semua agama samawi, terkhusus Agama Islam, hakikatnya telah menganggap bahwa bunuh diri adalah tindakan berdosa dan dimurkai Tuhan. Walaupun mengunakan alasan-alasan yang dianggap rasional dan demi kepentingan altruistik. Lalu kenapa ada yang membolehkan dengan alasan membela agama? Tiga agama samawi ini dalam catatan sejarah kekiniannya, telah muncul segelintir tokoh yang membolehkannya dengan mengunakan alasan membela agama dan kesyahidan. Acu dan Roth dalam “Suicide & Euthanasia: a Biblical Perspective" menyebutkan agama Kristiani pada Kekaisaran Romawi Timur oleh Codex Justianus pernah mengangap bahwa bunuh diri tidak dianggap tindakan dosa demi alasan yang rasional. Dalam agama yahudi seperti apa yang disebutkan oleh Barry dalam "A Jewish Perspective on Assisted Suicide" pernah menganggap bunuh diri dibolehkan jika dalam keadaan esktrem dipaksa untuk mengkhianati agama mereka. Alasan yang dipakainya juga bernilai altruistik karena bunuh diri untuk mengudukan Nama Tuhan. Akan tetapi sebagian otoritas Yahudi menganggap hal itu penafsiran yang salah, walau dengan mengunakan alasan kemartiran yang heroik. Begitu juga di dalam penafsiran ajaran Islam, sebagian kecil orang ada yang membolehkan bunuh diri untuk alasan membela kemulian agama dan pelakunya dianggap syahid.


Bunuh Diri atas Nama Agama: Logical Fallacy dan Heterodoksi

Fenomena pembenaran tindakan bunuh diri demi membela agama berdasarkan analisa yang paling sederhana, sepertinya masuk pada kategori logical fallacy. Pertama terdapat pengunaan logika false equivalensi. Pembenaran tindakan bunuh diri atas nama agama terdapat pengunaan dua atau lebih pernyataan sebagai sesuatu yang sama padahal sangat berbeda. Contohnya, tindakan bom bunuh diri dengan dibunuh atau terbunuh di medan peperangan. Secara terminologi juga sudah sangat berbeda sehingga jika dikuatkan dengan alasan rasional apapun untuk bisa disamakan pengertian serta peristiwanya maka orang melakukannya sudah terjebak pada pengunaan logika false equivalensi. Kedua terdapat pengunaan logika false attribution. Artinya pembenaran bom bunuh diri atas nama agama terdapat pengunaan sumber rujukan yang tidak memenuhi syarat, dibuat-buat dan dipaksakan untuk mendukung satu argumentasi atau peristiwa “bom bunh diri atas nama agama”. Ayat atau hadist yang pengertiannya, asbabun nuzul dan asbabul wurud yang sebenarnya berkaitan dengan konteks tertentu dipaksakan untuk mendukung pembolehan bom bunuh diri atas nama agama. Pada sisi ini maka ayat dan hadist yang dipaksakan untuk mendukung pembolehan bom bunuh diri atas nama agama telah mengalami distorsi makna yang sebenarnya. Sebenarnya pembolehan tindakan bom bunuh diri atas nama agama sepertinya banyak mengalami cacat logika. Bukan hanya dua logical fallacy yang sudah disebutkan tetapi jika dianalasis lebih jauhnya terlalu banyak mengunakan argumen-argumen yang merujuk pada logika-logika sesat, seperti terdapat unsur fallacy of misplaced concretness, false analogy, fallacy of composition, false authorityi dan lainnya.


Oleh karena itu, tindakan bunuh diri atas nama agama dengan alasan apapun bukanlah keluar dari ajaran agama samawi yang asli atau sebenarnya. Jikapun muncul sebagian kecil orang menyebutkan bahwa tindakan bom bunuh diri atas nama agama, selain pengunaan argumentasinya penuh dengan logical fallacy, juga bisa dikatakan bagian ajaran yang diada-adakan saja (bid’ah atau heterodoksi). Penyimpangan dari ajaran agama secara ordotoksi atau dari keluar dari kesejatian ajaran agama. Apalagi kalau sepakat dengan teori konspirasi, maka akan ditemukan kesimpulan sederhana bahwa “pembenaran tindakan bom bunuh diri merupakan kompromi sekte tertentu yang mengunakan alasan keyakinan agama dengan kemauan politik dari tafsir kapitalisme global”. Untuk hal ini silahkan baca dan analisa lahirnya sejarah pembenaran bom bunuh diri di beberapa negara, khususnya negara timur tengah seperti konflik afganistan, syuriah dan lainnya. Beberapa peristiwa bom bunuh diri dengan alasan agama di negara-negara konflik tersebut terdapat irisan yang kuat dengan kemauan politik dari tafsir kapitalisme global. 


Bom Bunuh Diri: Psikologis yang Sakit

Tindakan bom bunuh diri jika ditilik secara cermat sebenarnya tidak murni karena alasan rasional atau altrusistik atas nama agama.  Akan tetapi terdapat alsan-alasan psikologis yang terganggu dari para pelaku bunuh diri, termasuk tindakan bom bunuh diri. Sepakat dengan Berkowitz dalam “Superviolence: The Threat of Mass Destruction Weapons” bahwa muatan-muatan psikologis yang mungkin akan mengancam atau mudahnya sesorang melakukan tindakan bom bunuh diri atas nama agama adalah seseorang atau kelompok yang dihinggapi paranoid, skizofrenia, bordarline personality disorder, passive-aggressive personality disorder, sosiopat, psikopat dan lainnya.


Tindakan bom bunuh diri atas nama agama, sepakat dengan Joseph Margolin dalam, "Psychological Perspectives in Terrorism." telah membuat hipotesis bahwa tindakan kekerasan mengunakan cara-cara tidak lazim (semisal bom bunuh diri atau senjata pemusnah massal) merupakan bentuk agresi yang dimotif oleh frustasi diri atau elompok (frustration-aggression) karena adanya kesenjaganan antara ekspetasi yang meningkat dengan kebutusan atas kepuasan diri atau kelompok. Joseph berpendapat bahwa banyak perilaku teror adalah tanggapan terhadap frustrasi berbagai kebutuhan atau tujuan politik dan ekonomi pribadi atau kelompok. Kalau sepakat dengan hipotesis ini berarti tindakan bom bunuh diri atas nama agama dapat disimpulkan bukan dilakukan oleh kelompok beragama. Akan tetapi dilakukan oleh kelompok-kelompok frustasi dengan tindakan yang sangat agresif untuk memenuhi kebutuhan atau tujuan politik dan ekonomi. Dalam konteks ini, bisa jadi teori konspirasi tidak bisa dibantah sebagaimana sudah dibicarakan oleh sebagian orang, yakni adanya simbio-mutualistik antara kelompok-kelompok yang sakit secara psikologis. Gerakan yang dihasilkan dari kompromi kentingan antara kelompok-kleompok frustasi-agresif dengan kelompok-kelompok argesif pengusung kapitalisme global yang dipertemukan oleh sama-sama ingin memenuhi kebutuhan dan tujuan politik dan ekonomi.


Sepakat dengan Knutson dalam, Social and Psychodynamic Pressures Toward a Negative Identity” dengan menggunakan teori pembentukan identitas negatif Erikson, telah menyatakan bahwa para pelaku bom bunuh diri atas nama agama lebih banyak dikontruksi identitas  negatifnya oleh pencitraan sebagai minoritas yang tertindas, dan kecewaan pada yang lain karena dianggap sebagai sumber kegagalan cita-citanya.  Akhirnya muncul keinginan untuk melakukan tindakan teror yang didorong oleh perasaan marah, ketidak-berdayaan dan buntunya mencari alternatif lain. Jika sepakat dengan pandangan seperti ini, maka tindakan bom bunuh diri atas nama agama sebetulnya bukan bagian dari gerakan keagamaan samawi. Akan tetapi perkembangan dari gerakan-gerakan kelompok sekte radikal, seperti Sekte People Temple, sekte Aum Sinrikyo dan lainnya.


Tindakan bom bunuh diri atas nama agama inipun sepakat dengan Crayton merupakan bentuk kemarahan narsistik sebagai bagian dari penyakit-mental. Kemarahan narsistik yang ditunjukkan pada tampilan secara terbuka dengan diikuti kepribadian sosiopat, sombong, arogan, bebal dan kurang menghargai orang lain. Perasaan bahwa dari mengalami kekalahan tak berdaya dan kekalahan perang terbuka telah menimbulkan reaksi kemarahan dan keinginan untuk menghancurkan sumber-sumber yang sama juga narsistik, yang dianggap telah membuat dirinya tak berdaya dan kalah. Sepakat dengan Crayton juga, bahwa cara bom bunuh diri adalah upaya untuk memperoleh atau mempertahankan eksistensi diri atau kelompok dengan cara intimidasi dan teror. Kemungkinan juga ada semacan indoktrinasi tentang cita-cita tertinggi yang bermakna adalah dengan cara melindungi eksistensi kelompok dari rasa malu sosial. Jika sepakat dengan pandangan inipun maka tindakan bom bunuh diri atas nama agama bukanlah lahir dari kelompok yang beragama. Akan tetapi lahir dari tradisi-tradisi yang berkembangan pada kelompok-kelompok irasional, seperti  kelompok Heaven's Gate, Order of Solar Temple (OST) dan lainnya.


Tindakan bom bunuh diri atas nama agama ini jika berpijak pada pandangan Kruglanski dan Higgins dalam, “Theory construction in social-personality psychology” merupakan bagian dari diskrepensi diri (kesenjangan diri) akibat  seseorang atau kelompok menemukan ketidaksesuaian antara apa yang dia lihat dalam dirinya (idealitas) dengan apa yang dia inginkan (realitas). Pada fase lanjutnya seseorang yang mengalami diskrepensi diri akan menagalami self disorder (ganguan diri) yang ditunjukkan pada pelabagai ekspresi kejiwaan negatif, seperti malu, marah, dendam, kecewa, cemburu dan berujung pada pembolehan melakukan bom bunuh diri dengan menutupi ekspresi kejiwaanya mengunakan dalih-dalil agama. Sepakat Richard Wolin, dalam Are Suicide Bombings Morally Defensible” bahwa tindakan bom bunuh diri atas nama agama merupakan masalah kognitif psikologis. Sitemetika berpikirnya mengalami semacam depresi akut sehingga mendorng dirinya untuk mudah melakukan pilihan bunuh diri. Pribadi yang mengalami hopelesness (ketiadaan harapan) melihat situasi kehidupan yang dihadapinya. Artinya pribadi yang selalu dikendalikan oleh penilaian negatif terhadap optimisme dirinya, situasi sekarang, dunianya dan masa depannya. Sejalan dengan penilaian negatif mendorong munculnya pikiran yang rusak. Selanjutnya melahirkan depresi kejiwaan yang selalu pengalaman sekarang dan masa lalunya secara negatif. Depresi kejiwaan yang selalu memandang bahwa dirinya tidak berharga dan tidak berguna, dunia menuntut terlalu banyak darinya, dan masa depan itu suram. Saat skema kognitif mengalami disfungsional seperti ini maka sangat mudah diaktifkan menjadi sosok individu beresiko dengan melakukan bom bunuh diri.


Akhiran, catatan sederhana ini hanya amatan sepintas berdasarkan tinjaun psikososial. Paling tidak sebagai rasa keingintahuan dalam melihat peristiwa bom bunuh diri yang selalu diindektikkan dengan perilaku yang bersumber dari kesejatian ajaran agama. Ketika membaca dari sisi psikososial, khususnya tentang deviasi psikologi maka tindakan-tindakan bom bunuh diri lebih dimotivasi oleh suasana psikologis pelakunya. Adapun ketika dilekatkan pada argumentasi yang bersumber dari kesejatian ajaran agama terlalu kentara alasan-alasannya sangat mengandung kesesatan berpikir (logical fallacy). Jika kembali pada kesejatian ajaran agama, terkhusus Islam maka menghadapi situasi dan kondisi apapun, seseorang atau kelompok muslim telah dinasehati untuk menjalaninya dengan penuh kesabaran dan tawakal. Bukan sebaliknya, marah, dendam, kecewa, frustasi, bahkan bunuh diri. Jadi ajaran Islam telah memberikan pelbagai nasehat bagi seseorang atau kelompok muslim dengan berbagai alternatif yang baik dan benar, bukan menghadapinya dengan cara membunuh diri sendiri walaupun mengunakan pelbagai alasan yang sudah dirasionalisasi. Simpulannya, hakikat dari tindakan bom bunuh diri bukanlah lahir dari gerakan agama samawi, termasuk Islam. Akan tetapi lebih dimotivasi oleh impuls-impuls psikologis yang sakit dan bentuk tindakan yang mengadopsi dari tradisi-tradisi sekte-sekte sesat (rujukan lihat digilib.uinsgd.ac.id). 


Penulis adalah: 1. Ketua MPD BKPRMI Kota Bandung, 2. Ketua Lajnah Tafkir Dewan Syari'ah PUI Jawa Barat, dan 3. Ketua Dept. LITBANG Keilmuan dan Profesi BKI DPP PABKI.

No comments:

Post a Comment

Halaman Facebook

×
Berita Terbaru Update