-->

Notification

×

Rubrik Dialektika: Egoisme dalam Beragama, Merusak Persaudaraan

Friday, 26 March 2021 | 17:10 WIB Last Updated 2021-03-26T10:51:37Z

Penulis "Hening" : 
Dr. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag.

Egoisme dalam Beragama: Merusak Persaudaraan


BANDUNG/ journalnews.co.id: Islam bahkan agama-agama lainnya tak pernah mengajarkan beragama dengan cara pandang egois. Jika kita sepakat dengan beberapa pandangan pemikir muslim,  agama islam justru selalu mengajarkan tentang perilaku ukhuwwah, tasamuh, ta’awun, tanaashur, tafahum, taraahum dan lainnya. 


Bagi sebagian pemikir muslim, perilaku egoisme dalam beragama dapat melahirkan tafaruq, namimah, ghibah, ujub, takabur, dan lainnya yang dapat merusak ketertaban sosial. Sejak lama agama Islam mengajarkan kepada para penganutnya untuk menjauhinya bahkan menguburnya dalam-dalam agar tidak menjadi aktribut perilaku diri. Nabi Muhammad Rasululloh telah menegaskan, "Janganlah menyatakan diri kalian suci. Sesungguhnya Allah yang lebih tahu manakah yang baik di antara kalian" (HR. Muslim no. 2142) dan “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati hingga tidak seorang pun yang bangga atas yang lain dan tidak ada yang berbuat aniaya terhadap yang lain.” (HR Muslim no. 2865)


Memang dalam kajian sosiologi, psikologi, filsafat agama dan bahkan teologi hampir tidak menemukan istilah "egoisme beragama". Akan tetapi istilah-istilah yang hampir semakna dengan egoisme beragama sangat banyak, seperti istilah truth claim, fanatisme, skriptualisme, eksklusivisme, ekstrimisme, libertarianisme, anarkisme, despotisme, partikularisme dan lainnya. Istilah-istilah ini menyajikan bahasan sedikit tentang beragama dengan cara yang egois.


Egoisme dalam praktek beragama tak bisa dinegasikan oleh siapapun, karena memang sering terjadi. Egoisme beragama menurut Quintan Wiktorowicz dalam “Islamic Activism: A Social Movement Theory Approach” lebih dipicu oleh adanya upaya-upaya pemeliharaan simbol keagamaan untuk kepentingan eksistensi kelompok atau dirinya sendiri. Bahkan menurut Wiktorowicz juga bahwa munculnya egoisme dalam beragama merupakan side effect dari adanya pertarungan antar aktor-aktor agama, seperti memperebutkan pengaruh dihadapan masyarakat pengikut, menempati posisi-posisi kekuasaaan, jabatan sosial dan lainnya.


Dalam pelbagai pendekatan apapun ketika berbicara ajaran dan nilai-nilai agama, rasanya ia tidak mengajarkan, menganut dan membolehkan untuk memberlakukan perilaku egoisme. Agama dimanapun bukan hanya Islam, bahkan sebenarnya para nabi dan kitabnya memperlihatkan anti egoisme. Agama senantiasa mengarahkan umatnya pada suatu kepedulian yang bukan hanya tertuju pada dirinya sendiri tetapi juga harus adanya keberpihakan pada dunia sosialnya.


Choan Seng Song seorang teolog Taiwan dalam " The Compassionate God" telah menegaskan bahwa egoisme dalam beragama hakikatnya fanatisme buta. Dalam konteks beragama, fanatisme selalu menjadi masalah. Fanatisme buta merupakan pengkhianatan terhadap ajaran agama itu sendiri. Fanatisme merupakan pembuktian kurang luasnya seseorang memahami perbuatan Tuhan atau ajaran agama yang dianutnya. Bagi Song, fanatisme secara hakiki adalah egoisme yang berbulu agama.


Secara sosiologis, fanatisme buta merupakan sikap dan pandangan partikularisme dalam beragama. Sepakata Loren Bagus dalam "Dictionary of Philosophy" menyebutkan bahwa partikularisme berarti sistem, sikap, cara pandang yang mengutamakan kepentingan pribadi (diri-sendiri) di atas kepentingan umum, baik itu aliran politik, ekonomi, kebudayaan bahkan sekarang mengejala pada ruang keberagamaan. Partikularisme membuat pendapat dan melakukan kegiatan berdasarkan batasan atau karakteristik personal dalam segala bentuk, baik agama, bangsa, suku, kedaerahan, letak geografis. Parkikularisme cenderung akan melahirkan perilaku mengabaikan kebenaran dan kebaikan dari orang lain. Artinya tidak mau menerima hal-hal tentang kebenaran dan kebaikan dari orang lain. 


Sikap dan pandangan partikulariame dalam beragama bisa memicu terjadinya konflik di tengah-tengah kehidupan masyakarat yang majemuk dan plural. Selain itu, logika partikularisme dalam beragama dapat mengancam sendi-sendi persatuan sosial yang telah dibalut keluhuran nilai-nilai agama dan budaya. Dalam hal ini, agama Islam telah lama menawarkan dan mengajarkan kepada manusia mengenai sikap dan cara pandang universal serta komprehensif (syumuliyah) dalam beragama. Bukan sikap dan cara partikularisme.


Egoisme dalam beragama sepakat dengan Mark Leary dalam "The Problem of Self Centeredness and the Paradox of Religion" telah menegaskan bahwa tradisi agama apapun telah menginformasikan bahwa keasyikan beragama dengan cara egoisme merupakan penghalang utama bagi terealisasinya nilai-nilai moralitas sosial dalam kehidupan manusia. Leary menyebutkan bahwa egoisme telah menjadi kontributor utama bagi beragam perilaku antisosial, tindakan berlebihan menjurus dosa dan perselisihan sosial. Katanya, Hindu, Taoisme, Budha, dan agama-agama asli telah memegang pandangan anti egoisme. Bahkan agama utama dunia Islam, Kristen dan Yudaisme telah lebih awal mengkampanyekan anti egoisme dalam beragama.


Kebanyakan agama setuju bahwa egoisme dalam cara beragama akan menciptakan dua masalah besar. Pertama, egoisme dengan pikiran dan perilaku beragama akan melahirkan tindakan yang menafikan kemaslahatan umum. Mark Leary menyamakan istilah egoisme dengan kesombongan dan ujubnya seorang makhluk. Dan umumnya, ajaran agama telah memposisikan sebagai aktribut jahat yang ada dalam diri manusia (oknum beragama). Kedua, cara beragama merasa benar sendiri. Hal ini akan menganggu wawasan spiritual seseorang saat berhubungan dengan yang Ilahi dan sesama orang yang beragama. Dampak kejahatan dari beragama yang egois dapat mengarahkan perilaku "merasa lebih unggul" dari orang lain. Dan tanpa sadar atau sadar selalu mengutuk mereka yang tidak memiliki pandangan yang sama, memaksa orang lain supaya sama, dan bahkan memerangi orang lain yang berbeda dengan cara yang egois juga. Secara historis bagi Leary, egoisme dalam cara beragama merupakan salah satu paradoks terbesar dalam sejarah manusia.


Dalam rentang sejarah perkembangan pemikiran di dunia Islam, istilah yang mirip dengan egoisme beragama lahir dari para pemikir muslim kritis,  semisal Sir Muhammad Iqbal, Hasan Hanafi, Syed Habibul Haq Nadvi, Ali Syariati,  dan lainnya dengan nama lain, seperti otoritarianisme, fasisme, despotisme, absolutisme, perbudakan dan kolonialisme atas nama agama (oknum-oknum berjubah agama). Bagi mereka, agama Islam dan ajarannya sejak awal tak mengajarkan sama sekali para penganutnya untuk berperilaku egois dalam beragama sebagaimana yang sudah banyak dikritisinya. 


Cara berperilaku egois ini dalam dunia psikologi telah dikenalkan dengan istilah egoisme etik, egoisme rasional dan egoisme psikologis.  


Egoisme etik lebih cenderung diposisikan sebagai etika normatif yang harus dilakukan oleh agen moral hanya untuk menyelamatkan kepentingan dirinya sendiri. Tetapi sisi lain cenderung tidak menghargai orang lain. Menurut Emile Arman dalam, "Anarchist Individualism as life and activity", egoisme etis sering digunakan sebagai landasan filosofis untuk mendukung libertarianisme (kebebasan individu tanpa norma umum serta agama) dan anarkisme individu (kebebasan individu tanpa mengindahkan otoritas lainnya). Egoisme etis ini dasarnya akan melahirkan perilaku anarkis, subjektivitas akut, kehendak-kehendak bertindak bebas dan bahkan tindakan dominasi satu individu atas individu lain atau kelompok satu pada kelompok yang lain. 


Egoisme rasional telah dikemukakan oleh  Gordon Graham dalam "Theories of Ethics" sebagai istilah yang biasanya dikaitkan kepada seseorang ketika memenuhi hasrat dan keinginannya dengan selalu berpijak pada alasan-alasan yang masuk akal saja. Pandangan-pandangan yang tidak masuk akal cenderung dianggap bukanlah pilihan terbaik bagi menjalankan kehidupan.  Egoisme rasional inipun pada akhirnya banyak menggerus pentingnya nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan dalam menjalankan kehidupan. Karena diangga yang dianggapnya tidak rasional. Bahkan egoisme rasional dalam kehidupan modern sebagimana yang telah ditulis oleh Sayyed Hosein Nars dalam “Islam and The Plight of Modern Man” telah menyebabkan lahir kehampaan spiritualitas dan alienasi manusia dari Tuhan yang menciptakan dirinya sendiri.

 

Adapun egoisme psikologis menurut Joel Feinberg dalam "Psychological Egoism" merupakan pandangan seseorang yang selalu dimotivasi oleh kepentingan diri sendiri dan keegoisan itu sendiri. Bahkan dalam kegiatan-kegiatan empati dan altruistik (membantu orang lain), seseorang yang berpijak pada egoisme psikologis selalu mengutamakan hal-hal yang dapat menguntungkan dirinya sendiri atau kelompoknya. Egoisme psikologis inipun kebanyakan berujung pada perilaku yang sellau mengunakan simbol-simbol umum,  sosial bahkan agama untuk mencari atau memenuhi keuntungan dan kesenangan dirinya sendiri. Tidak peduli orang lain terlukai, terdholimi, merusak persaudaraan dan bahkan tak peduli ajaran agama yang dianutnya menjadi rusak asal terpenuhi kesenangan dirinya sendiri.


Akhirnya sebagai kaum muslimin yang hidup saat ini---dari berbagai ulasan tentang egoisme dalam konteks keberagamaan dan persaudaraan---dibutuhkan menghidupkan kembali komitmen diri dan sosial yang dilambari kedewasaan, kearifan, keadilan,  tawazun,  hilm,  ta'awun, takaful, tafahum,  tasamuh, taraahum dan lainnya dalam menempatkan cara pandang keagamaan dan perilaku keberagamaan pada konteks kekinian yang semakin banyak memperlihatkan lahirnya fenomena egoisme dalam cara beragama. Semisal dalam konteks keyakinan Islam,  konsepsi tauhid semestinya harus melahirkan persatuan umat (ittihadul ummah), bukan sebaliknya malah semakin memperlebar terjadinya perpecahan dan kebodohan umat (tafarruq dan al jahl). Sepertinya, reaktualisasi nilai-nilai keagamaan yang hanif dan  humanis perlu ditransformasi serta diinternalisasi kembali dalam ruang-ruang persaudaraan. Paling tidak sebagai usaha menyambungkan kembali bathin sesama saudara (silaturahamim) sebagai pintu masuk yang harus dilestarikan agar sama-sama dapat berpikir jernih dan bening dalam menyelesaikan persoalan-persoalan ‘ittihadul umah dan tafarruq” yang mengejala dalam kehidupan beragama saat ini. Setidaknya dengan cara seperti ini bisa meminimalisir orang-orang “genit” yang diwujudkan pada perilaku-perilaku egoisme dalam cara beragama, yang kerap melahirkan sikap dan cara pandang partikularisme, arogan, saling melecehkan,  saling menghina, saling menjatuhkan, dan saling menghukumi sesama saudara. (Terdokumentasikan: Redaksi MBN JN)


#Manusia Hening#Belajar kembali pada kehanifan dalam beragama#

No comments:

Post a comment

Halaman Facebook

×
Berita Terbaru Update