-->

Notification

×

Opini: PJPN PERLU MENGKOMUNIKASIKAN DASAR DASAR MORALITAS YANG RASIONAL

Tuesday, 30 March 2021 | 12:11 WIB Last Updated 2021-03-30T05:14:36Z
Gambar: Aktivis muda, M Fariz Salman Zulkipli

Ditulis oleh: M Fariz Salman Zulkipli
(Aktivis pendidikan & Founder Milenial Penggerak)


"Pendidikan Adalah Tonggak Kemajuan Suatu Bangsa"

journalnews.co.id - Menjadi bangsa yang maju tentu merupakan cita-cita yang selalu ingin diperoleh oleh setiap negara diseluruh penjuru dunia. Sudah menjadi suatu rahasia umum bahwa maju atau tidaknya suatu negara itu dipengaruhi oleh pendidikan

Pendidikan merupakan proses mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas, karena dengan generasi yang memiliki kualitas itulah yang akan membawa suatu negara menuju traffic kemajuan. Indonesia adalah salah satu negara berkembang didunia yang masih mempunyai tujuan “Mencerdaskan kehidupan bangsa” yang seharusnya menjadi sumbu perkembangan pembangunan kesejahteraan dan kebudayaan bangsa.

Indonesia merupakan sebuah negara yang besar, terdiri dari beragam suku, budaya, dan bahasa. Oleh sebab itu, menyatukan bangsa Indonesia merupakan sebuah perjalanan panjang para pejuang kemerdekaan yang patut dihargai perjuangannya dengan cara membangun Indonesia menjadi sebuah negara yang kokoh, berdikari dan maju.

Kemajuan suatu negara bergantung pada keaktifan bangsanya untuk senantiasa berinovasi dan melakukan gerakan-gerakan yang mendukung realisasihal tersebut.
Pada dasarnya konsep pendidikan yang baik itu pendidikan yang mengutamakan cinta dan kasih sayang. Sebagaimana kecintaan orang tua terhadap anaknya sendiri. Ketika pendidikan didasari dengan kasih sayang bukan hanya kualitas keilmuan saja yang didapatkan melainkan kualitas rasa serta moralitas terhadap sesama akan senantiasa didapatkan.

Dalam buku yang berjudul “Sosiologi Pendidikan Emile Durkheim” yang ditulis oleh Rakhmat Hidayat, menurut Durkheim moralitas dalam pendidikan dapat di identifikasikan sebagai suatu set tugas dan kewajiban yang mempengaruhi perilaku individu yang dikonstruksikan melalui disiplin di sekolah. Dalam pendidikan moral terdapat hukum moralitas yang merupakan sebagian kecil dari dimensi fenomena moral. Fenomena moral inilah yang menggambarkan kondisi moralitas yang terjadi di masyarakat.

Moralitas adalah suatu hal yang fundamental ditengah-tengah masyarakat. Keberadaannya merupakan gejala dari adanya masyarakat itu sendiri. Artinya tanpa adanya masyarakat maka moralitas tidak akan terbentuk. Moralitas disini bukan hanya mencakup nilai-nilai normatif tentang baik dan buruknya perilaku seseorang dalam masyarakatnya, melainkan juga fakta sosial tentang konstruksi aturan diluar diri individu.

Perlu kita ketahui bersama bahwasanya individu tidak akan mampu menerapkan disiplin moral tanpa ada dorongan dari orang lain disekitarnya. Disiplin moral bukan perkara yang instan, hal ini terbentuk melalui tahapan yang nantinya membangun watak serta karakter seseorang dalam suatu kelompok.

Era digital berpengaruh terhadap pola kebutuhan mayarakat termasuk dalam sektor pendidikan. Maka dari itu lahirlah Peta Jalan Pendidikan Nasional yang mengarah kepada proses pembelajaran berbasis digital. Perlu diketuahui PJPN ini merupakan sebuah konsep untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang termaktub didalam pasal 3 undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Salah satu tujuan pendidikan nasional yaitu berbicara akhlak mulia atau nilai moralitas. Konsep PJPN harus mampu mengkomunikasikan dasar moralitas yang benar-benar rasional. Kekuatan moral harus dijelaskan dan dijadikan sebagai dasar atas persetujuan dan kepatuhan rasional dan harus memperkuat tiga elemen moralitas yaitu kedisiplinan, ikatan pada kelompok sosial, dan otonomi pada individu.

Ketika PJPN ini tidak dapat menjelaskan dasar moralitas dengan aturan yang terbentuk memaksa tiap individu secara sadar untuk bertindak sesuai cara-cara yang telah ditentukan, maka akan hilangnya dimensi kedisiplinan. Pembelajaran yang dilaksanakan secara tatap muka pun dimana lembaga sekolah-sekolah berangkat dari penanaman kedisiplinan masih banyak peserta didik yang tidak disiplin apalagi pembelajan dialihkan berbasis daring.

Kemudian kemungkinan yang akan terjadi akan semakin krisisnya sentuhan aspek moralitas dalam lingkup pendidikan sehingga tidak akan optimalnya dalam pembentukan pondasi dasar akhlak mulia. Sehingga akan terus terjadi perilaku yang mengarah kepada tindakan-tindakan amoral dikalang masyarakat pemuda.

Oleh sebab itu PJPN disini tidak bisa secara keseluruhan proses pembelajaran berbasis digital melainkan ada beberapa proses pembelajaran secara tatap muka dimana untuk mentransformasikan nilai-nilai moralitas itu sendiri. Karena selama proses pembelajaran guru tanpa disadari menjadi panutan bagi siswa baik dari kata maupun perilaku. Maka dari itu seorang pendidik selain menguasai pengetahuan dia juga harus mempunyai pribadi yang dapat dicontoh. Dan itu dapat di lakukan secara tatap muka.

Menjadi seorang pendidik harus memiliki kemampuan dalam menyampaikan informasi dan pengetahuan secara efektif sesuai perkembangan anak, memiliki penguasaan pengetahuan yang baik sehingga informasi yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh anak, memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan kepribadian yang matang. Dengan kompetensi tersebut, sebagai seorang pendidik dapat menghasilkan pribadi yang beradab, bermartabat, berguna dan berpengaruhdi masyarakat, yang bertanggung jawab atas hidup sendiri dan orang lain, yang berwatak luhur dan berkepribadian yang baik.

No comments:

Post a Comment

Halaman Facebook

×
Berita Terbaru Update