-->

Notification

×

PERUT; PELIHARALAH DARI MAKANAN YANG HARAM DAN BERLEBIHAN

Thursday, 8 April 2021 | 07:21 WIB Last Updated 2021-04-08T00:21:08Z


Oleh: Karsidi Diningrat


Opini/ journalnews.co.id: Memelihara dan menjaga perut termasuk persoalan yang amat penting. Terutama sekali memeliharanya dari segala makanan dan minuman yang haram dan syubhat, dan mengendalikannya dari kemauan hawa nafsu untuk memakan yang halal secara berlebihan.


Allah Swt. berkata dalam hadits mikraj: "Wahai Ahmad (Muhammad)! Sesungguhnya hamba-Ku, jika dia mengosongkan perutnya dan menjaga lidahnya, maka Aku akan mengajarkan kepadanya hikmah. Jika dia seorang kafir maka hikmah itu akan menjadi hujah dan bencana atasnya. Namun, jika dia seorang mukmin, maka hikmah itu akan menjadi cahaya, petunjuk, penawar, dan rahmat baginya. Dengan itu dia mengetahui apa yang tidak diketahui sebelumnya dan melihat apa yang tidak dilihat sebelumnya. Adapun yang pertama-tama Aku perlihatkan kepadanya adalah aib-aib dirinya sehingga dia tidak sempat lagi memperhatikan aib-aib orang lain. Kemudian Aku perlihatkan rincian-rincian ilmu, sehingga setan tidak bisa masuk kepadanya."


Rasulullah Saw. bersabda, "Makan dengan rakus merusak hikmah, dan terlalu kenyang menghijabi kecerdasan. "Barangsiapa makan karena syahwat maka Allah haramkan hikmah atas hatinya." "Hati menerima hikmah ketika perut kosong, dan memuntahkannya ketika perut penuh."


Rasulullah Saw. telah bersabda, "Wahai Sa'ad, perbaikilah (murnikanlah) makananmu, niscaya kamu menjadi orang yang terkabul do'anya. Demi yang jiwa Muhammad dalam genggaman-Nya. Sesungguhnya seorang hamba melontarkan sesuap makanan yang haram ke dalam perutnya maka tidak akan diterima amal kebaikannya selama empat puluh hari. Siapapun yang dagingnya tumbuh dari yang haram maka api neraka lebih layak membakarnya." (HR. Athabrani).


Dalam hadits yang senada Rasulullah Saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah baik dan tidak mengabulkan (menerima) kecuali yang baik-baik. Allah menyuruh orang mukmin sebagaimana Dia menyuruh kepada para Rasul, seperti firman-Nya dalam surat Al-Mukminun ayat 52. ... Allah juga berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 172.... Kemudian Rasulullah menyebut seorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan wajahnya kotor penuh debu menadahkan tangannya ke langit seraya berseru: "Ya Rabbku, Ya Rabbku", sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dia diberi makan dari yang haram pula. Jika begitu bagaimana Allah akan mengabulkan doanya."? (HR. Muslim).


Rasulullah Saw. telah bersabda, "Orang yang paling kenyang makan di dunia akan menjadi paling lama lapar pada hari kiamat." (HR. Al-Hakim). Dalam hadits yang Nabi Saw. bersabda, "Cahaya hikmah adalah lapar, sedang perut yang kenyang jauh dari Allah ... Janganlah engkau mengenyangkan perutmu, karena yang demikian itu akan memadamkan cahaya makrifat dalam hatimu."


Tidak akan berkumpul kecerdasan dengan kekenyangan yang berlebihan. Manakala kecerdasan sirna, hikmah pun sirna. Perut yang penuh dengan makanan dan juga sikap terburu-buru dalam mencerna makanan bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam hadits lain Rasulullah Saw. bersabda, "Sesungguhnya termasuk pemborosan bila kamu makan apa saja yang kamu bernafsu memakannya." (HR. Ibnu Majah).


Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, "Orang yang paling disukai Allah di antara kalian adalah yang paling sedikit makannya dan paling ringan badannya." (HR. ad-Dailami melalui Ibnu Abbas r.a.).


Dalam hadis yang lain Rasulullah Saw. telah bersabda, "Hal-hal yang paling aku takutkan atas umatku adalah perut besar (banyak makan), banyak tidur, malas, dan lemah keyakinannya." (HR. ad-Daruquthni melalui Jabir r.a.).


Dalam hadis pertama telah disebutkan bahwa orang yang paling disukai oleh Allah ialah orang yang paling sedikit makannya dan paling ringan tubuhnya. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa hal yang paling dicemaskan oleh Nabi Saw. akan melanda umatnya ialah banyak makan, banyak tidur, pemalas, dan lemah keyakinannya. Hadis ini erat kaitannya dengan hadis sebelumnya. Dikatakan demikian karena pada hadis yang pertama disebutkan orang yang paling disukai oleh Allah adalah orang yang paling sedikit makan dan paling ringan tubuhnya. Apabila seseorang sedikit makannya, maka tubuhnya menjadi ringan, tidak suka banyak tidur, giat bekerja, dan kuat keyakinannya. Sedangkan dalam hadis yang kedua disebutkan kebalikannya, yaitu hal yang paling dicemaskan Nabi Saw. akan melanda umatnya ialah banyak makan. Karena sesungguhnya seseorang itu apabila banyak makan, maka ia suka tidur, apabila suka tidur, maka ia menjadi pemalas; dan apabila ia pemalas, maka keyakinannya menjadi lemah.


Juga dalam hadits yang lain disebutkan, "Janganlah sekali-kali kalian makan dan minum terlalu kenyang, karena sesungguhnya hal tersebut dapat merusak tubuh, dan dapat menyebabkan malas mengerjakan salat, dan pertengahanlah kalian dalam kedua hal tersebut, karena sesungguhnya hal ini lebih baik bagi tubuh, dan menjauhkan diri dari berlebih-lebihan." (HR. Bukhari).


Nabi Saw. menganjurkan umatnya agar tidak terlalu banyak makan dan minum karena banyak makan dan minum menyebabkan tubuh menjadi gemuk; dan apabila gemuk, badan akan menjadi berat dan malas. Orang yang paling sedikit makannya dan paling ringan berat badannya adalah orang yang paling disukai Allah. Dalam sebuah pepatah disebutkan, "Makanlah untuk hidup, tetapi jangan hidup untuk makan.


Dalam hadits yang lain beliau juga bersabda, "Apabila seseorang sedikit makan, maka perutnya dipenuhi oleh cahaya." (HR. ad-Dailami melalui Abu Hurairah r.a.).


Oleh karena itu, kita harus menjauhi kerakusan dalam makan agar jauh dari penyakit dan rusak akal. Mengurangi makan bukan hanya bisa dengan cara diet, melainkan juga bisa dengan berpuasa, baik puasa wajib maupun puasa sunah.


Puasa merupakan salah satu bentuk ibadah yang, dari satu sisi, bisa menyehatkan badan dan, dari sisi lain, memberikan hikmah pada manusia. Jika kita menginginkan hikmah mengalir dalam pikiran dan perbuatan kita maka kosongkanlah perut kita dengan melakukan puasa.


Dalam puasa ada banyak sekali kebajikan. Ibadah puasa, yang berarti mencegah diri dari hal-hal yang membatalkan secara spritual, seperti mengupat, mengadu-domba, bergunjing, berdusta, memiliki peranan yang besar dalam mendidik jasmani dan rohani, dalam memperkuat kekuatan akal dalam diri manusia, dan menjadikan semua kekuatan lain dalam diri manusia, seperti kekuatan marah dan kekuatan syahwat, tunduk di bawah perintah kekuatan akal. Manakala kekuatan akal perkasa dan berkedudukan sebagai pemimpin, maka ketika itu manusia menjadi bijaksana.


Imam Ghazali, sebagai ulama besar, _Hujjatul_ - _Islam_ , berkata, "Perut yang kenyang dari yang halal, adalah sumber segala kecelakaan. Apalagi jika perut itu dikenyangkan dengan yang haram". 


Diriwayatkan dari Nabi Saw., bahwa beliau telah bersabda, "Sejahat-jahat umatku ialah, mereka yang senantiasa menjejali perutnya dengan berbagai makanan yang lezat-lezat, sehingga tubuhnya semakin bertambah oleh kemewahannya. Apa yang mereka ingat hanyalah aneka hidangan makanan, aneka model pakaian, sedang pembicaraan mereka senantiasa tinggi (sombong)".


Dalam hadits yang lain juga Rasulullah Saw. telah bersabda, "Lumatkanlah makanan kalian dengan _dzikrullaah_ (mengingat Allah) dan salat, dan janganlah kalian tidur setelah makan, karena akan menyebabkan hati kalian menjadi keras." (HR. Abu Na'im melalui Siti Aisyah r.a.). Dalam hadits lain disebutkan, "Apabila seseorang di antara kalian memakan makanan, hendaknya dia menyebut asma Allah (Bismillah). Apabila ia lupa menyebut asma Allah di permulaannya, hendaknyalah ia mengucapkan: "Bismillaahi 'alaa awwalihi wa aakhirihi" (Dengan menyebut nama Allah pada permulaan makan dan pada akhirnya)." (HR. Turmudzi).


Pada hadits di awal telah disebutkan bahwa hal yang paling dikhawatirkan Nabi Saw. menimpa umatnya ialah banyak makan, banyak tidur, malas, dan lemah keyakinannya. Kemudian dalam hadits ini disebutkan penangkalnya, yaitu hendaknya kita melebur makanan yang baru kita makan dengan banyak melakukan _dzikrullaah_ dan mengerjakan salat sunat, dan jangan sekali-kali kita tidur sehabis makan karena hal itu akan menyebabkan kita berperut besar, malas, dan berhati kesat (keras), tidak mau menerima petunjuk yang baik. Dan dalam hadits ini menganjurkan kepada kita agar membaca _basmalah_ jika kita hendak makan. Apabila kita lupa membaca di awal makan, maka hendaklah kita membacanya di akhir makan dengan lafaz yang tercantum di atas. Membaca _basmalah_ dikala hendak makan hukumnya sunat, bahkan disunatkan pula dalam segala hal yang mengandung kebajikan, seperti yang disebutkan dalam hadits yang lainnya, yaitu, "Setiap perkara yang baik apabila tidak dibacakan _basmalah_ pada permulaannya, maka perkara itu tidak mengandung berkah."


Semoga kita bisa memelihara dan menjaga perut kita dengan baik dan benar, menjaga dari makanan dan minuman haram serta berlebihan. WallahuA'lam bish-Shawabi. (Redaksi)

No comments:

Post a comment

Halaman Facebook

×
Berita Terbaru Update