-->

Notification

×

RITUAL AKBAR RAMADHAN; EKSPRESI TRANSENDENSI MENUJU PERSATUAN UMAT

Wednesday, 7 April 2021 | 12:14 WIB Last Updated 2021-04-07T09:13:44Z


RITUAL AKBAR RAMADHAN; 

EKSPRESI TRANSENDENSI MENUJU PERSATUAN UMAT

Dr. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag

 

Rindu Ramadhan: Ekspresi Transendensi Manusia Beriman

Sebentar lagi kaum muslimin akan bertemu dengan salah satu ritual akbar dalam Islam, yakni puasa di bulan ramadhan. Pertemuan dengan puasa di bulan ramadhan sebagai sayyidusy syuhur (penghulu bulan-bulan) selalu dinanti-nanti oleh seluruh kaum muslimin sedunia, termasuk di Indonesia. Bahkan bentuk kerinduan setiap kaum muslimin ini, jauh-jauh hari sudah di ungkapkan penuh harapan ketika bertemu dengan bulan rajab dengan doa, “Allahumma barik lana fi rajaba wa sya'bana wa balighna Ramadhana” (Ya Allah, berkahilah umur kami di bulan Rajab dan Syaban, serta sampaikanlah kami hingga bulan Ramadhan).

Dalam konteks psikologi positif, kerinduan ini menurut Peterson dan Seligman dalam “Character Strengths and Virtues: A Handbook and Classification, merupakan ekspresi transendensi manusia beriman dalam mengimplementasikan bentuk keyakinan, harapan, dan cintanya kepada Tuhan yang Maha Suci dengan segala perintah-Nya. Iman adalah penerimaan, dan tanggapan terhadap kekuatan yang lebih besar dari dirinya sebagai makhluk yang diciptakan-Nya. Harapan adalah ekspresi dari perhatian yang utama dan akan mengalir dari pemahaman yang memadai tentang makna-makna kehidupan dan keberadaannya di dunia. Adapun, cinta melahirkan sikap rela (altruistik) ketika mengambil pilihan untuk masuk ke dalam hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia secara etis (aspek dogmatis), esoteris (aspek ritual) serta eksoteris (aspek penghayatan). Keyakinan, harapan dan cinta seperti ini mengharuskan setiap manusia beriman untuk bisa melampaui batas-batas diri dan duniawinya menuju relung-relung spritualitas agama agar bisa menagkap seluruh makna-makna yang terkandung dalam setiap perintah yang diberikan oleh Alloh.

Oleh karena itu, kerinduan orang-orang beriman dalam menyambut setiap bulan ramadhan merupakan gelembung spritualitas agama sebagai wujud ekspresi transendesi dirinya. Pals dalam, “Seven Theories of Religion” seperti apa yang diungkapkan oleh Durkheim bahwa keyakinan terhadap agama akan mensugesti spiritual seseorang untuk mempercayai ajaran-ajaran yang terkandung didalamnya dengan diiringi oleh cinta, harapan dan kerinduan.  Termasuk kewajiban puasa di Bulan Ramadhan telah mampu mensugesti kaum muslimin untuk menyambutnya penuh dengan keyakinan, harapan dan cinta. Kewajiban yang dituangkan dalam surat al baqarah ayat 183 yang berbunyi:  Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Sepakat dengan beberapa ilmuwan psikologi positif, ekspresi transedensi diri dalam menyambut dan melaksanakan kewajiban puasa di bulan Ramadhan akan berkorelasi dengan kesehatan dan kebahagiaan. Seligman dalam, “Authentic happiness” menyebutkan bahwa ekspresi transendensi diri akan menyebabkan seseorang menjadi sehat, baik itu fisik, mental, dan emosional. Kemudian kesehatan tersebut akan berkorelasi dengan kebahagiaan dirinya. Bagi Seligman, iman, harapan dan cinta sebagai bagian dari ruh transendensi diri dapat memainkan peran penting dalam melahirkan kesehatan manusia beriman.

Rindu ramadhan merupakan refleksi iman seseorang yang dapat menghantarkan dirinya pada kesehatan. Bentuk iman seseorang akan mengindentifikasi dengan cara meng’coping’ perilaku-perilaku kebaikan secara positif yang dapat menuntun kepada kesehatan. Dzakiah Drajat dalam, “Islam dan Kesehatan Mental” menyebutkan bahwa keimanan adalah suatu proses kejiwaaan yang tercakup di dalamnya semua fungsi jiwa, perasaan dan pikiran. Apabila iman sempurna, maka manfaatnya besar bagi kesehatan seseorang. Begitupun imannya seseorang yang selalu ditampilkan dalam wujud kerinduan kepada puasa di bulan Ramadhan bisa menghantarkan seseorang pada kesehatan fisik dan mental.  Bentuk ekspresi transendensi diri terhadap puasa di bulan Ramadhan ini, sepakat dengan Alan Cott dalam, “Fasting as a Way of Life” dapat menghantarkan seseorang pada makna serta manfaat puasa yang sebenarnya, yakni penyembuhan dari pelbagai gangguan mental. Menurut Alan Cott, ditinjau dari penyembuhan kecemasan menujukkan bahwa penyakit seperti susah tidur, merasa rendah diri dan lainnya juga dapat disembuhkan dengan puasa. Bahkan dari sisi penyakit fisik, berbagai penyakit seperti ginjal, kanker, hipertensi, depresi, diabetes, mag dan insomania dapat disembuhkan melalui puasa.

Rindu ramadhan sebagai refleksi dari keimanan seseorang merupakan konstruksi keyakinan terhadap ajaran agamanya yang dipandang suci. Keyakinan agama yang telah diasumsikan sebagai pandangan dunia. Sepakat dengan Ninian Smart, dalam, “Worldview, Crosscultural Explorations of Human Belief”, pandangan dunia yang merupakan cara pandang umum yang berupa kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang berfungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral. Sehingga logis kalau sebagain pemikir memposisikan bahwa pandangan dunia ini merupakan sistem kepercayaan yang integral tentang hakekat diri manusia, realitas, dan makna eksistensial. Berdasarkan keyakinan atas ajaran agama, maka momentum puasa ramadhan telah dianggap mayoritas kaum muslimin sebagai syahrul ijabah, syahrul ibadah, syahrul maghfirah dan syahrul tarbiyah yang diyakininya dapat membimbing manusia “kembali pada fitrah kemanusiaannya”. 

Rindu Ramadhan merupakan refleksi harapan seseorang beriman yang dapat menghantarkan dirinya kepada kesehatan. Barlow, Tobin dan Schmidt dalam “Social Interest and Positive Psychology: Positively Aligned”, harapan merupakan wujud pengungkapan sehatnya mental seseorang untuk mengejar tujuan dan penciptaan makna dalam menjalankan kehidupannya. Bisa jadi, harapan itu lahir setelah diri seseorang mengalami keputusasaan melihat situasi sosial yang sedang dihadapi sebelumnya. Sepakat dengan Hepper dan Lee dalam, “Problem-solving appraisal and psychological adjustment”, bahwa depresi, ketegangan mental, stress dan lainnya berkorelasi dengan keputusasaan. Keputusasaan ini dipahami sebagai tidak adanya tujuan bermakna dalam hidup. Dalam konteks inilah tujuan puasa ramadhan sesuai dengan teks yang terkandung dalam alqur’an adalah “menjadi manusia yang sehat dalam wujud pribadi bertakwa”. Pribadi bertakwa adalah manusia yang memiliki karakter.

Sepakat dengan Ryan dan Bohlin dalam, “Building Character in Schools: Practical Ways to Bring Moral Instruction to Life”, karakter yang dimaksud mengandung tiga unsur pokok yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good) dan melakukan kebaikan (doing the good). Karakter yang dapat menjadi “habit” atau kebiasaan positif yang terus menerus dipraktikkan dan dilakukan. Karakter seorang muslim yang muncul di bulan Ramadhan sebagai bagian dari mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good) dan melakukan kebaikan (doing the good) adalah tilawah, tadarus alqur’an, ta’lim, dzikir, sholat malam, memperbanyak bersedekah, berbagi makanan, berjama’ah di masjid, menghidupkan lailatul qadar, tarawih, memperbanyak silaturahmi, serta lainnya.  Bentuk-bentuk kebaikan personal yang selalu hadir dalam perilaku ritual akbar di bulan ramadhan. Lahir dari harapan orang-orang beriman yang dibimbing oleh kekuatan positif dalam dirinya, berupa qalbun salim (hati yang sehat), qalbun munib (hati yang kembali, bersih, suci dari dosa), nafsul mutmainnah (jiwa yang tenang), dan aqlus salim (akal yang sehat). Rindu Ramdhan sebagai ekspresi transendensi diri, harapannya berpuncak pada ampunan Alloh. Sebagaiman hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang bunyinya: Barang siapa puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala diampuni baginya dosa-dosa masa lalu” dan “Barang siapa yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan penuh iman dan muhasabah, dosanya yang telah lalu akan diampuni”.

Rindu ramadhan merupakan refleksi cinta seseorang beriman yang dapat menghantarkan dirinya pada kesehatan. Dalam keterangan alqur’an, kerinduan seseorang menyambut kewajiban puasa di bulan ramadhan merupakan bagian dari cintanya orang yang beriman kepada Alloh dan Rasul-Nya. Hal ini sebagaimana diisyaratkan dalam surat ali-imran ayat 31, yang berbunyi: Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kalian." Cinta ini menurut Peterson, dalam “Values in Action” adalah cara khusus untuk berhubungan dengan sesuatu atau individu yang bersifat  jangka panjang. Hubungan ini umumnya saling menguntungkan, tetapi selalu meningkatkan pertumbuhan dan martabat kemanusiaan yang ada dalam hubungan tersebut. Itu biasanya diekspresikan dalam keintiman fisik dan emosional. Cinta juga mewakili sikap kognitif dan perilaku. Salah satunya adalah cinta untuk Alloh diyakini dapat menjadi sumber utama lahirnya kasih sayang, perlindungan, dan perhatian. Cinta juga menurut McCullogh dan Witvliet, dalam “The psychology of forgiveness”, terkait dengan dua kekuatan karakter yakni kebaikan dan pengampunan. Kebaikan adalah sikap kasih sayang, kemurahan hati, kepedulian kepada setiap manusia, bahkan kepada orang asing. Hal ini merupakan kemampuan seseorang untuk menjangkau orang lain tanpa mengharapkan apapun secara khusus. Beitupun cinta merupakan bentuk welas asih yang mampu membayangkan diri sendiri dalam kesulitan yang sama dengan orang yang bermasalah. Dalam konteks inilah, rindu ramadhan sebagai ekspresi transendensi orang beriman diwujudkan dalam keikhlasan ketika beribadah kepada Alloh pada konteks hablum minallah dan empati sosial ketika  menjalankan kehidupan pada konteks hablum minannas.

Cinta dalam makna pengampunan adalah cara yang mendorong pertumbuhan untuk menangani hubungan yang tegang dan menimbulkan konflik bathin. Pada tingkat yang lebih dalam, hal ini adalah ekspresi transendensi diri  karena memaafkan merupakan tindakan  melampaui reaksi langsung mereka terhadap rasa sakit berupa kemarahan dan keinginan balas dendam. Menurut Baumeister dalam, “The victim role, grudge theory and two dimensions of forgiveness”, hal ini juga bisa menjadi tawaran belas kasihan dan keterbukaan dalam melakukan rekonsiliasi. Pengampunan terbuka memiliki konsekuensi intra-psikis dalam diri individu yang memaafkan berupa penyembuhan luka bathin yang telah membuat seseorang memiliki penyakit mental. Dalam konteks inilah, Rindu ramadhan sebagai refleksi cinta seseorang beriman dapat menghantarkan dirinya pada kesehatan ditampilkan dalam bentuk  perilaku saling memaafkan sebelum memasuki ramadhan dan saling mendoakan ketika sudaj selesai melaksanakan puasa ramadhan.

Keyakinan, harapan, dan cinta yang merupakan ekspresi transendensi manusia beriman dalam menyambut dan melaksanakan puasa di bulan ramadhan sepertinya telah menjadi konstruksi sosial kaum muslimin. Siklus kerinduan atas datangnya bulan ramadhan, fakta sosialnya terus mengalami perulangan secara regenerasi dari dulu sampai sekarang. Bahkan sepertinya telah menjadi identitas khas kaum muslimin yang terus mengalami dialektika sepanjang sejarah. Sepakat dengan teori konstruksi sosial Peter L Berger, dalam “Tafsir Sosial atas Kenyataan”, momen kerinduan terhadap bulan ramadhan ini selalu mengalami proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi pada setiap generasi, yang pada akhirnya membentuk salah satu identitas khas kaum muslimin. 

 

Ekspresi Transendesi menuju Persatuan Umat

Datangnya bulan ramadhan yang merupakan ritual akbar bagi kaum muslimin  sedunia, termasuk di Indonesia mengarahkan pada visi dan misi hidup bersama secara harmonis. Bulan Suci Ramadhan adalah kesempatan besar bagi semua muslim untuk melintasi batas-batas sektarian dan momentum membangun persatuan umat secara langgeng. Inilah puncak ekspresi transendensi kaum muslimin dalam manyambut dan melaksanakan puasa di bulan ramadhan, dengan keyakinan, harapan dan cinta harus menumbuhkan persaudaraa sejati di atas nilai ketakwaan. Dalam setiap momentum bulan ramadhan inilah, persatuan umat di tampilkan secara baik dan benar. Dimana seluruh individu-individu beriman tanpa memandang latar belakang identitasnya sama-sama berusaha untuk mendisiplinkan diri sendiri, mengendalikan diri sendiri, melakukan pengorbanan dan empati sosial dengan tindakan kemurahan hati dan pelbagai amal sholeh. Tindakan-tindakan yang mampu merekat persatuan dan menghindarkan diri dari perilaku-perilaku tercela yang  bisa melahirkan perpecahan umat.

Abdul Rasyid Afgan, dalam “Ramadan is the month of tolerance and religious unity” telah menebutkan bahwa tujuan dasar ramadhan adalah untuk mengembangkan dan meningkatkan kesalehan di antara orang-orang beriman. Salah satu ajaran besar agama Islam di bulan suci ramadhan yang mengantarkan kesadaran terhadap perlunya persaudaraan dan persatuan umat yang terikat dengan kesatuan ajaran. Ramadhan merupakan bulan untuk menanamkan kesalehan sosial di antara berbagai lapisan umat manusia. Fakta sosial ini menunjukkan bahwa di bulan ramadhan telah menghantarkan semua umat muslim untuk bersatu tanpa memandang perbedaan, saling memaafkan, saling memberi manfaat dan saling menebarkan nilai-nilai toleransi, dengan harapan bisa mencapai derajat taqwa yang diinginkan.

Dalam konteks inilah, puasa di bulan ramadhan sebagai kewajiban dalam agama bukan hanya dipadang dari sisi dimensi etis dan eksoteris, akan tetapi sepakat dengan Frithjof Schuon, dalam “The Transcendent Unity of Religions” haus juga dipandang dari sisi dimensi esoteris. Dimensi esoteris puasa di bulan ramadhan dapat meredusir tindakan-tindakan yang bukan hanya sekedar aspek-aspek eksternal dan dogmatis-formalistik. Akan tetapi, dimensi esoteris puasa di bulan ramadhan harus sampai menyentuh makna hakikinya sehingga kewajiban ini dapat membimbing manusia untuk menemukan dirinya yang sejati. Dimensi esoteris puasa yang akan membangun pribadi yang bisa melakukan penolakan atas dominasi supremasi ego manusia dan menggantinya dengan ego yang diwarnai nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Esoterisme dan eksoterisme puasa di bulan ramadhan yang  saling melengkapi, jika dipahami semua orang maka akan mengarahkan pada persatuan umat yang dilandasi oleh nilai-nilai ketakwaan.

Dalam analisa teori interaksi ritual, sepakat dengan Erving Goffman, dalam “Interaction Ritual”,  puasa di bulan ramadhan merupakan ritual akbar kaum muslimin yang mencerminkan aksi kehidupan sosial keberagamaan yang menghasilkan solidaritas dan kohesi sosial bahkan pelestarian simbol-simbol agama secara berjamaah. Kegiatan-kegiatan di bulan ramadhan menggambarkan ritual akbar sebagai praktik keagamaan menuju hal-hal yang sakral dan terpisah dari kehidupan yang profan. Ritual akbar di bulan ramadhan ini merupakan aktfitas amal sholeh yang memiliki nilai penting bagi setiap muslim dan penyikapannya sangat melampaui hal-hal duniawi. Kegiatan-kegiatan ibadah dan amal sholeh lainya, di bulan ramadhan begitu sangat ditata dan diorganisir secara disiplin oleh individu atau kelompok muslim dengan harapan bisa dilakukan secara khusu. Bahkan kegiatan-keitan tersebut telah memperlihatkan serangkaian interaksi ritual, yang menampilkan hubungan sosial berbagai tingkatan emosional (keintiman) dan status interaksi dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya secara simultan. Hubungan sosial yang penuh keintiman dan simultan di bulan ramadhan merupakan peluang merajutkan kembali persatuan umat, yang sebelumnya bisa jadi telah tercederai oleh pelbagai perilaku tercela seperti saling mencela, saling mengunjing, saling menghukumi, saling memfitnah dan lainnya.

Sedangkan jika di analisa oleh teori “Interaction Ritual Chains” (rantai interaksi ritual) yang dikembangkan oleh Randall Collin, bahwa rotasi ritual akbar di bulan ramadhan merupakan rantai interaksi ritual yang telah berperan mengkonseptualisasikan emosi kaum muslimin sebagai energi positif dalam dunia sosial-keagamaan secara kolektif. Tampilannya secara sosial telah menunjukkan bahwa interaksi ritual akbar di bulan ramadhan telah menjadi atmosfir emosi positif yang dapat ditemukan dalam pengalaman-pengalaman setiap individu atau kelompok muslim dalam melaksanakan ibadah dan amal sholehnya. Bahkan ritual akbar di bulan ramadhan ini telah menjadi fondasi dalam membentuk nilai-nilai persaudaraan dan telah memberikan kontribusi besar para pelakunya untuk memahami hubungan dimensi ritual dengan pelbagai kehidupan sosial mereka. Nilai-nilai persaudaraan dan pemahaman hubungan dimensi ritual dalam pelbagai kehidupan sosial ini merupakan bentuk transendesi umat muslim dalam menguatkan persatuan yang dilandasi oleh ketakwaan. Transendensi dalam makna kesadaran adanya pengakuan terhadap keunggulan-keunggulan mutlak yang melampaui akal manusia dan yang berkaitan dengan ketergantungannya kepada pencipptanya. Tidak hanya terbatasi oleh naluri manusianya seperti keserakahan, kekayaan, pengetahuan positivistik, nafsu kekuasaan, dan lainnya yang selalu mengarahkan kehidupan manusia pada suasana konflik. Transendensi dalam makna kesadaran tentang adanya kebenaran universal yang telah dikonseptualisasi dalam wahyu Alloh (al qur’an). Wahyu al qur’an yang diturunkan di bulan ramadhan dan telah menjadi rujukan bersama kaum muslimin untuk saling menjaga persatuang yang terikat dengan buhul Alloh.     

Intensitas kegiatan ritual akbar di bulan ramadhan, sepakat dengan Emiel Durkheim dalam The Elementary Forms of the Religious Life” sejatinya harus menumbuhkan kesadaran setiap individu atau kelompok muslim untuk menguatkan persatuan umat. Kenapa? Sebab kegiatan-kegitaan ritual di bulan ramadhan secara empiris telah melahirkan "collective effervescence" (kebahagiaan kolektif) secara positif, dengan ditandai (a) Kedalaman perasaan bersama dari seluruh kaum muslimin; (b) lahirnya individu-individu muslim yang mensakralkan lambang-lambang simbolik yang berkaitan dengan unsur agama yang dianggap penting; (c) membangkitkan energi emosional yang positif dari setiap individu muslim, seperti kepercayaan diri dan antusiasme dalam melaksanakan putaran ritual yang berulang-ulang dan dalam suatu tingkah laku yang berorientasi pada tujuan yang sakral; (d) melahirkan perasaan moral dari setiap individu muslim tentang nilai benar dan salah dalam menjalankan kehidupan berdasarkan rujuka utama al qur’an dan sunnah serta literasi para ulama; dan, (e) lahirnya interaksi antar sesama individu atau kelomppok muslim untuk saling membangun komitmen, kepercayaan, toleransi bahkan persatuan umat.

Simpulan akhir dari catatan sederhana ini, kerinduan kepada datangnya bulan ramadhan semestinya bisa menjadi proses pengelembungan transendensi umat menuju persatuan. Oleh karena, ritualisasi bersifat akbar di bulan ramadhan ini telah menampilkan semenjak dahulu mengenai pembangkitan konsensus publik tentang nilai-nilai, simbol, dan perilaku religius yang melibatkan partisipasi komunal dalam orkestrasi kerbsamaan secara fisik. Bahkan dapat dilihat jelas dalam peristiwa-peristiwa pelaksanaan ibadah dan amal sholeh kebanyakan dilaksanakan dengan mengintegrasikan pelbagai individu dan kelompok muslim. Sepakat dengan Catherine Bell, dalam “Ritual Theory, Ritual Practice”, praktik-pratik ritual yang dilakukan secara akbar dapat menjadi instrumen kontrol sosial keagamaan di kalangan kaum muslimin. Sebab didalam bulan ramadhan, sepertinya terdapat penekanan secara alamiah pada hubungan sosial sesama kaum muslimin untuk kembali menata interaksi yang mengarah kepada terciptanya kohesi dan solidaridas sosial yang kuat. Bahkan bulan ramadhan ini bisa menjadi bulan untuk mereduksi konflik-konflik yang terjadi sesama kaum muslimin menuju persatuan umat (itihadul ummah). Keyakinan, harapan dan cinta yang tumbuh dalam catatan sederhana ini, “semoga memasuki bulan ramadhan, kita semau bisa menjadi agen-agen sosial keagmaan yang dapat mempersatukan umat”.(rujukan bisa klik digilib.uinsgd.ac.id)/ (MBN journalnews.co.id)

 

Penulis:

1.       Pengamat Sosiol-Keagamaan di Jurusan BKI FDK UIN SGD Bandung dan Lidzkri Foundation

2.       Ketua Majelis Pertimbangan Daerah BKPRMI Kota Bandung

3.       Lajnah Tafkir Dewan Syariah Persatuan Umat Islam Jawa Barat.

 

No comments:

Post a comment

Halaman Facebook

×
Berita Terbaru Update