-->

Notification

×

Menela’ah Pemikiran Jean Paul Sartre dalam Novel “The Age of Reason”

Wednesday, 12 May 2021 | 00:16 WIB Last Updated 2021-05-11T17:18:33Z


Ditulis Oleh; Anisa Aulia

The Age of Reason adalah novel Sartre dalam trilogi Roads to Freedom. Dua novel lainnya adalah The Reprieve dan Troubled Sleep. Melalui novel ini, Sartre menyampaikan gagasan-gagasan Eksistensialismenya secara sederhana dan ringan, sehingga mudah sekali untuk dipahami.

Eksistensialisme merupakan paham yang menempatkan manusia pada titik sentral dari segala hubungan kemanusiaan. Eksistensialisme berasal dari upaya untuk bangkit dari segala hegemoni, serta untuk menemukan eksistensi dan esensi diri. Namun menariknya, pada akhir cerita The Age of Reason, Sartre juga menyampaikan filsafat lainnya.

Dikutip dari The Age of Reason: “Berbagai usaha dan aturan telah menawarkan bantuan kepadanya: epikureanisme disilusif, senyum toleran, kepasrahan, keseriusan yang hambar, stoicisme-segala bantuan dimana seseorang dapat mengecap kegagalan hidup menit demi menit, seperti seorang pencicip anggur.” Betul sekali, Epikureanisme dan Stoicisme.

Epikureanisme merupakan penghindaran masalah atau penderitaan, sedangkan Stoicisme adalah bagaimana seseorang bertahan dan mengatasi masalah atau penderitaan yang sedang dialaminya. Dalam novel ini, Sartre menggunakan kedua filsafat tersebut untuk mendeskripsikan kehidupan tokoh utamanya yaitu Mathieu Delarue.
Diceritakan bagaimana setiap tokoh, terutama tokoh utama, menyelesaikan segala problematika kehidupan yang dihadapinya. Mathieu Delarue adalah seorang professor filsafat yang mengajar di salah satu Universitas di Buffon, Paris, Prancis, pada masa Perang Dunia II. Konflik muncul saat kekasihnya, Marcelle Duffet hamil.

Bagaimanapun, Mathieu tidak pernah berpikir untuk hidup bersama dalam ikatan pernikahan dengan perempuan yang dicintainya, karena bagi mereka, pernikahan merupakan salah satu bentuk perbudakan dan tidak ada satupun di antara mereka yang menginginkannya. 

Mathieu sendiri menganggap bahwa menikah adalah suatu keegoisan. Alasan tersebutlah yang akhirnya membuat mereka memutuskan untuk menggugurkan kehamilannya. Berbagai cara dilakukan Mathieu, serta konflik lainnya mulai Sartre munculkan dalam novel The Age of Reason. 

Konflik tersebut muncul baik pada tokoh utama, maupun tokoh-tokoh lainnya yang Sartre hadirkan untuk menemani kisah perjalanan Mathieu menuju pendewasaan dirinya melalui madzhab Epikureanisme dan Stoicisme.

Dalam novel ini, Sartre menggunakan penuturan perspektif orang ketiga dengan sangat objektif, sehingga menempatkan penutur pada posisi netral. Salah satu yang paling harus dikagumi dari seorang Jean-Paul Sartre adalah bagaimana dia menggambarkan plot cerita, latar tempat dan waktu, sifat, karakter, fisik, serta kondisi psikologi tokoh.

Dengan sangat detail dan teliti, Sartre menggambarkan semua unsur tersebut melalui deskripsi penutur orang ketiga serta kutipan-kutipan pembicaraan setiap tokoh, terutama pembicaraan, pemikiran serta segala sesuatu yang dilakukan oleh tokoh utama. Tentu saja ini akan mempermudah pembaca dalam memahami isi novel.

Novel ini didominasi oleh unsur-unsur Eksistensialis yang digagas Sartre. Sartre menyampaikan pemikiran-pemikiran Eksistensialisnya melalui tokoh utama, Mathieu. Sartre menggambarkan Delarue sebagai seorang borjuis dan seorang intelektual yang begitu terobsesi dengan pemikiran-pemikirannya mengenai kebebasan. 

Mathieu adalah orang yang suka damai karena dia menghargai kehidupan manusia, tapi tiba-tiba saja Mathieu berniat menghancurkan sebuah kehidupan?, bahkan saat kehidupan itu sendiri belum dimulai, oleh seorang bayi yang berada dalam perut kekasihnya, Marcelle. 

Namun berdasarkan keputusan yang dia ambil, sepertinya Mathieu belum mampu menghargai kehidupan manusia dengan baik. Nampaknya Mathieu berusaha menghindari kenyataan bahwa Mathieu adalah seorang borjuis dan dia malu atas hal itu. Mathieu adalah seorang borjuis dalam rasa dan temperamen, dia terlalu terobsesi oleh teori-teori. 

Mathieu bersikeras mengeksploitasi prinsip-prinsipnya untuk menghindari ketidak-enakan pernikahan. Mathieu adalah tipikal orang yang sangat menghormati prinsip-prinsipnya. Akhirnya, Mathieu merasa terjebak oleh dorongan-dorongan agresif dan jahat karena menyadari kebenaran pendapat sang kakak, Jacques Delarue. 

Yang Mathieu inginkan adalah mempertahankan kebebasannya, meski kebebasannya itu menentang secara terang-terangan konsekuensi dari perbuatan yang telah dilakukannya. Mathieu terlihat begitu individualis. 

Mathieu hidup dalam kehampaan, melepaskan keborjuisannya tapi tidak memiliki ikatan dengan kelompok proletar, dia sudah memiliki kebiasaan dan akan menjadi budak kebebasannya sendiri. Dari plot ini dapat diambil satu kesimpulan bahwa sebetulnya Mathieu belum mencapai usia dewasa, usia yang benar-benar moral. 

Tapi bagi Mathieu, masa dewasa adalah masa pengunduran dirinya dan dia tidak akan melakukannya. Pada halaman terakhir novel, dikatakan bahwa Sartre, yang bersimpati pada Marxisme, terus-menerus mengkritik tafsiran ajaran Marx.

Dalam novel The Age of Reason ini, Sartre menciptakan tokoh bernama Brunet, sahabat dekatnya Mathieu. Brunet adalah seseorang yang ditokohkan telah bergabung dengan partai komunis. Kemudian, Brunet memberikan tawaran kepada Mathieu untuk bergabung bersama partainya.

Brunet menuturkan bahwa “Partai memang tidak memerlukannya. Bagi partai, mereka tidak memberikan apa-apa, hanya sedikit kepandaiannya dan partai sudah memiliki orang-orang pandai.” Jadi, merekalah yang membutuhkan partai. Brunet berpikir Mathieu perlu melakukan komitmen dengan dirinya sendiri. 

Brunet memberitahunya bahwa mereka akan berperang di minggu kedua bulan September, orang-orang Jerman akan menyerbu Cekoslowakia. Mathieu tetap menolak, bahkan menyindir Brunet dengan mengatakan bahwa Mathieu khawatir Marxisme tidak akan melindungi Brunet dari peluru. 

Bagi Brunet, itu adalah resiko yang disengaja. Tidak ada apapun sekarang yang menghancurkan hidupnya dari maknanya, mencegahnya menjadi sebuah takdir, seperti hidup setiap komunis. Namun setidaknya, Brunet telah menyatakan kebebasannya. Bagi Brunet, keyakinan itu harus diciptakan.

Meski bagaimanapun, sepasang sahabat itu saling menghargai keputusan masing-masing, karena setiap dari kita memang mempunyai kebenarannya masing-masing secara subjektifitasnya, tidak dipaksa untuk berpikir sama dengan orang lain. Begitupun Mathieu dengan prinsip kebebasannya, dia hanya tidak bisa melepaskan diri dari kelasnya.

Dia menolak karena tetap ingin bebas. Mencerca kapitalisme dan tak ingin ditekan. “Aku adalah orang yang kotor.”-Mathieu Delarue. 

Nampaknya melalui kisah Mathieu dengan Brunet, Sartre mencoba menyampaikan bahwa dirinya sangat menghargai komunisme, meskipun dia tidak bergabung dengan partai komunis Prancis, tetapi dia ikut andil dalam usaha mempertahankan komunisme di Eropa pada masanya. Revolusi dengan gaya komunis pasti akan dibutuhkan pada waktunya.

Melalui novel ini Sartre menyampaikan pemikiran eksistensialisnya, bahwa manusia bebas meraih kebahagiaannya tanpa bergantung kepada orang lain, meski dalam prosesnya Mathieu harus menemukan penderitaan dan masalah lainnya, tentu saja proses inilah yang akan membuatnya menjadi dewasa. Kebebasan dan ketidak-bergantungan seseorang pada orang lain inilah sesungguhnya bagian dari filsafat Epikureanisme dan Stoicisme tadi.

Melalui filsafat Epikureanisme, Sartre menggambarkan seorang Mathieu, yang dengan prinsip kebebasannya, dirinya yakin bahwa dialah yang memegang kendali penuh atas nasibnya, meski sebetulnya banyak kontradiksi dengan nilai-nilai moral.

Terlihat egosentris seorang Mathieu yang terlalu terobsesi dengan gagasan kebebasannya, sehingga dia tidak mempertimbangkan konsekuensi dari perbuatannya.  Padahal kebebasan diri sendiri itu dibatasi kebebasan orang lain, kemerdekaan kita dibatasi kemerdekaan orang lain. 

Sartre menggambarkan tokoh Mathieu sebagai seorang intelektual, tidak emosional dan sentimentil, dia seimbang, teratur dan tenang. Maka, apapun masalah yang sedang dihadapinya, reaksi pertamanya adalah mengatasi konflik. Demikianlah cara Mathieu bertahan dan mengatasi masalah.

Pada plot di atas Sartre menyampaikan filsafat Stoicisme. Segalanya butuh proses dan usaha, karena tidak ada yang namanya kebetulan. Kebetulan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindarkan, dan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan itu adalah takdir.

Mathieu dibentuk menjadi seseorang yang sabar, mumpuni dalam usaha pengontrolan diri karena meski bagaimanapun dia tidak boleh sampai kehilangan kendali, dituntut mampu memanaje pikirannya dalam kondisi tenang maupun tertekan, memikirkan tindakannya dan konsekuensinya kemudian, namun tentunya tanpa paksaan siapapun. 

Akhirnya, unsur-unsur filsafat Epikureanisme dan Stoicisme adalah landasan bagi tokoh Mathieu dalam proses pendewasaan dirinya. Dia menghindar dan menyelesaikan masalah untuk mencapai kebahagiaannya sendiri tanpa bergantung dan terpengaruh oleh orang lain. Ini menunjukan bahwa dia bertanggung jawab atas konsekuensi yang timbul akibat perbuatannya.

Dalam konflik ini, Mathieu berperan sebagai negasi, penolakan yang mewujud dalam tubuh seorang manusia. Pada akhirnya kemerdekaannya bagaikan direnggut oleh konsekuensi logis tindakannya sendiri. Kini Mathieu sadar, “Benar sekali bahwa aku telah menginjakkan kaki di usia dewasa-age of reason.” (*)

Informasi penulis: Anisa Aulia merupakan asisten dosen di STAI Pelabuhan Ratu. Selain itu Ia juga berprofesi sebagai seorang guru di SMK Al-Hasanah yang mengajar mata pelajaran kimia.

No comments:

Post a Comment

Halaman Facebook

×
Berita Terbaru Update