-->

Notification

×

Refleksi di Malam Lailatul Qadar

Tuesday, 4 May 2021 | 06:30 WIB Last Updated 2021-05-03T23:44:03Z

Refleksi di Malam Lailatul Qadar 


Oleh: Dr. H. Dudi Immanuddin, M.Ag

Penulis adalah Pemerhati Sosial Keagamaan di Jawa Barat.


Opini, journalnews.co.id: Dalam kesempatan lain bertanyalah seorang Anak kepada Ayahandanya. Kata anaknya; Penasaran nih, adakah orang lain selain kakek yang telah mewarnai pendidikan semasa kecil  dalam pembentukan karakter ayah. Ya, ada dari paman-paman ayah, nak. Secara tidak langsung ayah banyak mendapatkan didikan dari paman-paman. Pendidikan mengenai kesederhanaan, ketaatan menjalan tugas, kedisiplinan, rela berkorban dan kesetiaan pada corps kesatuan. Anaknya penasaran, memang paman-paman itu siapa dan gimana gitu, yah? Paman yang satu berasal dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang sekarang menjadi Komando Pasukan Khusus (KOPASSUS) dan paman satu lagi dari Zeni Tempur  Kijang Kencana (waktu itu) yang dulu dari satuan Yudha Wyogrha dalam satuan tempur Brigif 15/Kujang II dibawah KODAM II/Siliwangi .


Dari paman-paman, ayah belajar untuk rela berkorban meninggalkan sementara kesenangan pribadi dan bahkan kadang banyak meninggalkan keluarganya demi ketaatan menjalan tugas. Mereka sangat disiplin dalam menyikapi dan menjalankan segala peran dan fungsinya walaupun keselamatannya terancam. Paman-paman, rela meninggalkan keluarganya karena tugas pada waktu itu untuk dikirim ke Kongo dan Vietnam, kalau tidak salah mewakili kontingen Garuda II dan VI. Begitupun saat dikirim ke Timor Timur sekitar tahun 1975-an. Nak, kalau bukan karena ketaatan dan kedisiplinan yang kuat ngak mungkin paman-paman dengan kerelaan hati meninggalkan keluarganya sendiri untuk dikirim kedaerah-daerah konflik penuh dengan lalu lalang bising peluru dan bom. Bahkan mempertaruhkan ancaman nyawanya sendiri setiap hari. Demi tugas yang dianggap mulia, paman-paman berani mempertaruhkan nyawa dan menangguhkan kesenangan hidup pribadinya. 

Apalagi yah, antusias anaknya. Jawab ayahnya, kesetiaan terhadap corps kesatuan persaudaraan dan kesederhanaan hidupnya. Kesetiaannya, mereka tunjukan dalam melindungi dan menjaga kehormatan corps kesatuan persaudaraan sesama mereka. Dinamika apapun yang terjadi ditubuh corps persaudaraannya, mereka jaga dan redam dengan memegang prinsip-prinsip kesatuan dan persatuan. Dinamika itu bisa jadi kekecewaan, kemarahan, dan lainya. Pun tentang kesederhanaannya, paman-paman sampai meninggal sepertinya tidak mewariskan harta. Mereka hanya mewariskan konsep kehidupan yang sederhana, disiplin, dan kesetiaan. Apa harapan ayah kepada mereka, “semoga saat diwafatkan, paman-paman dalam keadaan khusnul khatimah”. Dan “Alloh menghapus dosa-dosa mereka hingga mereka layak ditempatkan di Syurganya Alloh”. Aamiin kata anaknya.


Jadi apa yang ayah ambil dari karakter paman-paman?Ya, kesederhanaan, ketaatan menjalan tugas, kedisiplinan, rela berkorban dan kesetiaan pada corps kesatuan. Itu nak yang ayah ambil dari pembelajaran kepada kehidupan paman-paman. Nak, belajarlah kebaikan dari siapapun. Sepanjang itu bisa menguatkan sikap dan mentalitas perjuangan dalam kehidupan. Mintalah terus kepada Alloh, “agar diri tetap menjadi orang yang selalu memperbaiki diri”ditengah-tengah medan hidup apapun. Mintalah kepada Alloh agar dikuatkan kesetiaan dan kecintaan kepada saudara karena Alloh, jangan karena urusan remeh temeh, baik itu jabatan, harta yang bukan hak, calon pasangan hidup yang tak sesuai dengan selera diri, pengakuan dari orang-orang, dan lainnya merusak serta berusaha menghancurkan tatanan persaudaraan yang sudah dijalani bersama-sama. Kuatkanlah nak kesabaran agar persaudaraan itu mampu sama-sama membawa pada ridhonya Alloh. (Manusia Hening)

No comments:

Post a Comment

Halaman Facebook

×
Berita Terbaru Update